Tintasiyasi.id -- Banyak orang gagal bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena terlalu lama menunggu kepastian. Mereka ingin semuanya jelas terlebih dahulu: gambaran, hasil, risikonya, bahkan akhir ceritanya. Padahal kehidupan tidak pernah membuka seluruh rahasia sekaligus. Jalan baru terlihat ketika kaki mulai melangkah. Pintu baru terbuka ketika tangan mulai bergerak.
“Jika Anda tak tahu apa yang harus dikerjakan, mulai bekerja. Jika Anda tak tahu jalan mana yang harus ditempuh, mulai melangkah.”
Kalimat sederhana ini menyimpan hikmah besar tentang keberanian hidup, tawakal, dan ikhtiar.
Bergerak adalah Awal Pertolongan Allah
Sering kali manusia terlalu sibuk berpikir hingga lupa bergerak. Ia tenggelam dalam keraguan:
• “Bagaimana jika gagal?”
• “Bagaimana jika salah?”
• “Bagaimana jika tidak berhasil?”
Pikiran-pikiran itu tidak akan pernah selesai hanya dengan memikirkannya. Ketakutan justru mengecil ketika dihadapi.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada jalan-jalan Kami mereka.”
(QS. Al-'Ankabut: 69)
Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa petunjuk datang sebelum perjuangan. Justru petunjuk hadir setelah kesungguhan dimulai. Artinya, bergerak lebih dahulu adalah bagian dari iman kepada pertolongan Allah.
Orang yang berjalan akan menemukan arah. Orang yang bekerja akan menemukan pengalaman. Orang yang mencoba akan menemukan pelajaran. Sedangkan orang yang hanya menunggu, sering kali hanya mendapatkan penyesalan.
Kesempurnaan Tidak Datang di Awal
Tidak ada ulama besar yang langsung alim sejak kecil tanpa proses panjang. Tidak ada pejuang dakwah yang langsung kuat tanpa ujian. Tidak ada pengusaha sukses yang langsung berhasil tanpa jatuh bangun.
Semuanya dimulai dari langkah kecil.
Imam Syafi'i pernah menjadi seorang pengembara ilmu yang hidup sederhana. Para ulama besar dahulu menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk mendapatkan satu hadis. Mereka tidak menunggu keadaan sempurna. Mereka dengan memulai apa yang ada.
Karena itu, jangan menunggu:
• sempurna untuk mulai belajar,
• kaya untuk mulai bersedekah,
• hebat untuk mulai berdakwah,
• berani untuk mulai melangkah.
Keberanian sering kali lahir setelah seseorang bergerak, bukan sebelumnya.
Syaitan Menyukai Penundaan
Salah satu tipu daya setan terbesar adalah membuat manusia menunda kebaikan. Syaitan tidak selalu menyuruh manusia berbuat maksiat secara langsung. Kadang-kadang ia hanya membisikkan:
• “Nanti saja.”
• “Tunggu lebih siap.”
• “Tunggu lebih pintar.”
• “Tunggu waktu yang tepat.”
Akhirnya umurnya habis dalam angan-angan.
Padahal hidup ini milik orang-orang yang bergerak. Peradaban dibangun oleh mereka yang berani memulai meski dalam keterbatasan.
Diberikan dari yang Kecil
Jangan ingat langkah kecil. Sungai besar berasal dari tetesan udara. Pohon besar berasal dari benih kecil. Amal besar pun berasal dari istiqamah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Mari:
• membaca satu halaman Al-Qur'an,
• menulis satu paragraf,
• membantu satu orang,
• memperbaiki satu kebiasaan,
• menghadiri satu majelis ilmu,
• melakukan satu amal kebaikan setiap hari.
Karena langkah kecil yang istiqamah lebih dicintai Allah daripada semangat besar yang cepat padam.
Tawakal Bukan Menunggu
Sebagian orang salah memahami tawakal. Mereka menunggu tanpa usaha, berharap keajaiban turun dari langit. Padahal tawakal sejati adalah bergerak sambil menyerahkan hasil kepada Allah.
Burung tidak tinggal diam di sarangnya sambil menunggu makanan jatuh. Ia sejak terbang pagi dengan keyakinan bahwa Allah telah menjamin rezekinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sakit hari dalam keadaan makan.”
(HR. Tirmidzi)
Burung itu bergerak. Ia terbang. Ia mencari. Di situlah tawakal bertemu dengan ikhtiar.
Jalan Akan Terbuka Saat Kita Berjalan
Sering kali Allah tidak menampilkan seluruh jalan karena Dia ingin kita belajar percaya kepada-Nya. Cahaya lampu kendaraan di malam hari hanya mencapai beberapa meter ke depan, tetapi itu cukup untuk membawa kita sampai tujuan.
Begitulah hidup.
Kita tidak perlu mengetahui seluruh masa depan untuk memulai kebaikan. Kita hanya perlu melangkah hari ini dengan niat yang lurus dan hati yang yakin kepada Allah.
Maka jangan terlalu sibuk memikirkan semua kemungkinan hingga lupa menjalani kehidupan.
Mulailah bekerja.
Langkah.
Mulailah berjuang.
Membangun perbaikan diri.
Karena orang yang terus bergerak akan lebih dekat dengan tujuannya daripada orang yang hanya pandai merencanakan tanpa tindakan.
Dan sering kali, keajaiban hidup dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
(Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)