Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rupiah Makin Melemah, Analis PKAD: Manifestasi dari Kerapuhan Sistem

Jumat, 15 Mei 2026 | 09:35 WIB Last Updated 2026-05-15T02:35:19Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi makin melemahnya Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS (USD) hingga tembus Rp17.500 per dolar AS, Analis Ekonomi dari Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan itu manifestasi dari kerapuhan sebuah sistem.

"Saat rupiah menembus level psikologis 17.400 per dolar AS, sesungguhnya kita tidak hanya melihat pelemahan nilai tukar, melainkan manifestasi dari kerapuhan sebuah sistem," ungkapnya di akun TikTok ismail.pkad, Kamis (14/6/2026).

Angka ini, kata dia, bukanlah statistik hampa, ia adalah konsekuensi dari asimetri global yang memaksa kita tunduk pada kebijakan moneter di belahan bumi lain.

Ia mengatakan, ketika US Treasury yield menyentuh 4,47 persen terjadi eksodus modal kapital outflow masif dari pasar berkembang menuju safe haven Amerika Serikat.

"Di saat yang sama eskalasi geopolitik di Timur Tengah hingga Laut Hitam memicu volatilitas harga energi yang menekan neraca kita," ujarnya.

Kemudian, secara domestik Indonesia terhimpit siklus musiman, tingginya permintaan valas untuk deviden korporasi, kewajiban utang luar negeri, hingga biaya haji.

"Dengan yield obligasi domestik di level 6,9 persen daya tawar kita seolah memudar di hadapan investor global. Kita sedang mengalami tekanan sistemis yang bersifat ganda eksternal dan struktural," jelasnya.

Namun, arus besar global mulai bergeser dari manuver BRICKS hingga Uni Eropa kesadaran untuk melepaskan diri dari hegemoni dolar melalui Local Currency Settlement makin nyata.

"Pertanyaannya mengapa kita tidak melangkah ke solusi yang lebih substansial?," tanyanya.

Ia mengungkapkan bahwa Syekh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya An-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam menawarkan antitesis yang kian relevan hari ini.

"Beliau menegaskan bahwa stabilitas moneter yang absolut hanya dapat dicapai melalui mata uang yang memiliki nilai intrinsik tetap yaitu sistem emas dan perak," jelasnya.

"Bayangkan sebuah aliansi strategis negeri-negeri muslim yang membentuk blok ekonomi dengan mata uang berbasis emas. Bukan sekadar mata uang kertas yang nilainya rentan dimanipulasi instrumen bunga, melainkan aset yang diakui secara universal oleh sejarah peradaban," sambungnya.

Sehingga, menurutnya, standar emas bukanlah sekedar nostalgia atau romantisme masa lalu, ia adalah arsitektur finansial fundamental untuk mengakhiri subordinasi ekonomi melalui nilai tukar.

Di tengah kegoncangan kapitalisme global yang kian ditinggalkan inilah momentum untuk merumuskan kemandirian moneter yang lebih adil bagi daya beli rakyat. Sebab kekuatan sejati mata uang tidak seharusnya ditopang oleh utang atau kepercayaan semu melainkan oleh nilai nyata yang ia kandung.

"Di tengah pesatnya digitalisasi saat ini apakah transisi menuju sistem berbasis emas merupakan langkah yang realistis?," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update