Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rupiah Makin Melemah, Analis Ekonomi PKAD: Kita Sedang Menuju Badai Sempurna

Kamis, 21 Mei 2026 | 06:42 WIB Last Updated 2026-05-20T23:42:58Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi makin lemahnya rupiah terhadap dolar AS, Analis Ekonomi Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan kita (Indonesia) sedang menuju badai sempurna.

"Masalahnya tidak berhenti disitu. Kita sedang menuju badai sempurna. Korporasi besar butuh deviden dalam valas. Sementara pemerintah kita sedang menghadapi jatuh tempo utang dan bunga yang sangat besar di 2026," ungkapnya di akun TikTok ismail.pkad, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, saat ini daya beli masyarakat sedang mengalami pelemahan yang nyata. Di sisi lain, kurs rupiah terus tertekan terhadap dolar AS. Fenomena capital outflow pelarian modal ke luar negeri terjadi masif karena investor mencari aman.

"Mengapa? Karena The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuannya pada level tertinggi dalam dua dekade terakhir," ujarnya.

Saat ini rupiah akan tertekan makin dalam. Sebagian besar anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) habis hanya untuk membayar biaya (utang) masa lalu.

Selain itu, lanjut dia, kemiskinan, sempitnya lapangan kerja, dan harga barang yang melambung seolah menjadi kutukan yang tidak habis-habis dalam sistem moneter Indonesia saat ini.

"Bayangkan jika instrumen bunga atau riba ditiadakan dari sistem global. Bayangkan jika seluruh mata uang di dunia tidak lagi berbasiskan pada janji diatas kertas melainkan kembali pada standar emas sesuatu yang memiliki nilai intrinsik asli apakah kekacauan finansial yang kita rasakan hari ini akan tetap terjadi?," ungkapnya.

Dia memgungkapkan, secara historis, emas adalah penawar inflasi terbaik. Jika dunia menggunakan basis standar emas, tidak akan ada negara yang bisa mencetak uang seenaknya tanpa aset pelindung

"Fluktuasi gila-gilaan karena spekulasi pasar bisa diredam. Ekonomi akan kembali pada sektor rill bukan sekadar angka digital di layar saham, artinya problem fundamental seperti kemiskinan dan turunnya daya beli sebenarnya bisa dihindari jika tata kelola moneter kita memiliki jangkar yang stabil," paparnya.

Dia menyatakan, standar emas bukan sekadar romantisme masa lalu tetapi mungkin satu-satunya jalan keluar dari rapuhnya sistem finansial berbasis utang.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update