TintaSiyasi.id -- Merespons Proyek Giant Sea Wall (tanggul laut raksasa) yang akan dibuat pemerintah membentang dari Banten hingga Jawa Timur dengan tujuan menyelamatkan pesisir utara, Analis Senior Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Fajar Kurniawan, mengatakan menyelamatkan Pantura berarti harus selamatkan ekosistemnya dan memanusiakan nelayan serta masyarakat di sana.
"Menyelamatkan Pantura berarti harus menyelamatkan ekosistemnya dan memanusiakan nelayan serta masyarakat pesisir yang tinggal di sana," ungkapnya di akun TikTok fajar.pkad, Selasa (19/5/2026).
Alasan pemerintah memang terdengar sangat mendesak menyelamatkan puluhan juta warga Pantura dari ancaman tenggelam akibat penurunan permukaan tanah hingga 25 cm per tahun dan mencegah potensi kerugian ekonomi yang masif. Namun, kata Fajar, dibalik kemegahan proyek senilai lebih dari 1.200 triliun ini apakah benar solusi jangka panjang atau justru sebaliknya.
"Ini sebuah proyek ambisius berbiaya fantastis yang beresiko menciptakan bencana ekologis baru yang jauh lebih mengerikan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta di lapangan. Pakar lingkungan, telah mengingatkan bahwa pembendungan laut secara masif ini berpotensi merusak ekosistem pesisir. Mulai dari hutan mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang," ungkapnya.
Kemudian, dampak sosial tidak main-main. Di Teluk Jakarta saja, ribuan keluarga nelayan tradisional terancam kehilangan ruang hidup, terusir dari wilayah tangkapannya. Untuk proyek sebesar ini, Fajar mengatakan, pemerintah tidak boleh hanya berfokus pada pendekatan teknis sipil semata tetapi harus dilakukan penilaian menyeluruh menggunakan instrumen yang terbaik.
Ia mencontohkan, Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), AMDAL yang partisipatif dan transparan, Social Baseline Study dan Livelihood Assessment, hingga perlibatan masyarakat lokal secara bermakna. Hak ini krusial demi memastikan dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial bisa ditekan seminimal mungkin, sementara perlindungan kepentingan publiknya benar-benar maksimal.
"Bagi kita, mega proyek Giant Sea Wall ini akan menjadi beban masa depan yang sangat nyata. Mengapa? Karena anggaran fantastis diatas 1000 triliun tersebut beresiko menjadi beban fiskal dan utang yang harus kita dan anak cucu kita bayar di masa depan," imbuhnya.
Sehingga, sebagai generasi masa depan, tidak boleh menjadi penonton pasif atas kebijakan ini, masyarakat harus bersuara.
"Teman-teman bisa menggunakan media sosial untuk mengedukasi publik, mengawal transparan assessment prosesnya, perencanaan, hingga pembangunan segmen tersebut, serta menuntut pemerintah agar berfokus menyelesaikan akar masalahnya," ajaknya.
Ia menjelaskan bahwa akar masalahnya bukan sekedar air laut yang naik melainkan ekstrasi air tanah secara masif. Kerusakan kawasan mangrove di pesisir dan tata ruang kota yang buruk.
Benteng beton tidak akan menyelesaikan masalah seluruhnya, selama akar masalah sebenarnya belum dipecahkan yaitu ekonomi kapitalistik ekstraktif yang telah mengakibatkan kerusakan nyata dimana-mana.
"Sehingga, mega proyek infrastruktur tidak boleh hanya menjadi ajang bagi-bagi proyek atau sekadar memproteksi kawasan property elit di pesisir," pungkasnya.[] Alfia