Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Putus Asa di Negeri Kapitalis: Ketika Negara Abai, Iman Jadi Pelarian Terakhir

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:56 WIB Last Updated 2026-05-15T05:56:16Z

TintaSiyasi.id -- Ada fase dalam hidup ketika seseorang merasa segala pintu seolah tertutup. Harga kebutuhan melonjak, pekerjaan tak pasti, utang menumpuk, sementara bantuan negara terasa jauh dan rumit dijangkau. Dalam kondisi seperti ini, rasa putus asa bukan lagi sekadar emosi sesaat, tetapi menjadi pengalaman kolektif yang diam-diam dirasakan banyak orang. Inilah wajah getir kehidupan di bawah sistem kapitalisme—ketika negara tampak hadir dalam regulasi, tetapi absen dalam perlindungan nyata.

Fakta hari ini menunjukkan ironi yang sulit dibantah. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang kerap dibanggakan, kesenjangan justru melebar. Segelintir orang hidup dalam kelimpahan, sementara mayoritas berjuang untuk sekadar bertahan. Layanan kesehatan berkualitas mahal, pendidikan menjadi komoditas, dan kebutuhan pokok terus mengalami fluktuasi harga. Negara yang semestinya menjadi pelindung rakyat, perlahan bergeser menjadi penjaga stabilitas pasar. Kebijakan pun lebih sering berpihak pada investasi dan pertumbuhan angka, ketimbang kesejahteraan manusia.

Akar persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari fondasi sekularisasi yang memisahkan agama dari kehidupan publik. Kapitalisme tumbuh dari cara pandang ini—menjadikan materi sebagai ukuran utama, dan keuntungan sebagai tujuan. Dalam sistem seperti ini, wajar jika kebijakan negara cenderung pragmatis dan transaksional. Nilai keadilan, empati, dan tanggung jawab sosial sering kali kalah oleh kepentingan ekonomi.

Ketika negara abai, masyarakat mencari pegangan lain. Di titik inilah iman menjadi pelarian terakhir. Banyak yang kembali mendekat kepada Allah, bukan karena hidup sudah ringan, tetapi justru karena hidup terasa begitu berat. Doa menjadi tempat bersandar, sujud menjadi ruang aman, dan keyakinan kepada takdir menjadi cara untuk tetap waras di tengah tekanan.
Namun, penting untuk disadari: dalam Islam, iman bukan sekadar pelarian, melainkan fondasi perubahan. Putus asa sendiri sejatinya dilarang dalam ajaran Islam. Allah berfirman:

 وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir." (TQS. Yusuf: 87)

Ayat ini menegaskan bahwa harapan tidak boleh padam, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun. Tetapi Islam tidak berhenti pada aspek spiritual individu. Ia juga menawarkan solusi sistemik. Negara dalam Islam bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan pengurus urusan rakyat. 

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam sistem Islam, kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan adalah tanggung jawab negara. Sumber daya alam dikelola untuk kepentingan publik, bukan diserahkan kepada korporasi. Distribusi kekayaan diatur agar tidak beredar hanya di kalangan tertentu, sebagaimana firman Allah:

 كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ

"Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (TQS. Al-Hasyr: 7)

Dengan demikian, iman seharusnya tidak berhenti sebagai pelarian terakhir dari kegagalan sistem, tetapi menjadi pijakan untuk menghadirkan sistem yang benar. Putus asa yang dirasakan hari ini adalah sinyal bahwa ada yang keliru dalam cara hidup yang dijalani. Bukan sekadar individu yang perlu diperbaiki, tetapi juga sistem yang mengatur kehidupan.

Jika kapitalisme terus dipertahankan, maka jurang ketimpangan dan rasa putus asa akan semakin dalam. Namun jika manusia kembali menjadikan wahyu sebagai pedoman, bukan hanya dalam ibadah tetapi juga dalam pengelolaan kehidupan, maka harapan itu bukan lagi sekadar pelarian—melainkan awal dari perubahan yang nyata.

Wallaahu a’lam bish-shawab

Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd.
(Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)

Opini

×
Berita Terbaru Update