TintaSiyasi.id -- Kekejaman Zionis tak lagi diragukan. Aksi genosida terhadap rakyat Palestina menampakkan di bawah titik nadir batas kemanusiaan. Bahkan, di tengah gencatan senjata pun penjajah Zionis tetap melancarkan aksi genosida. Ini sesuai dengan laporan Anadolu meski di tengah gencatan senjata jumlah korban tewas di Gaza terus bertambah.
Israel mengungkapkan otoritas militer telah memerintahkan pasukan untuk membunuh setiap pria yang mereka temui di Gaza selama genosida yang dimulai pada tahun 2023. Tidak ada batasan usia siapa yang harus dibunuh. (Republika, 10-5-2026)
Bukan hanya terhadap orang yang hidup, kekejaman Zionis juga menimpa orang yang sudah mati. Tak hanya laki-laki, anak-anak dan perempuan tidak luput dari kebiadaban penjajah Zionis. Orang yang sudah mati pun jenazahnya tidak diperbolehkan dikubur di tanahnya sendiri, bahkan harus dibongkar lagi dan dipindahkan. Korban terus bertambah seiring penjajah Zionis memperluas wilayah pendudukannya.
Gaza menjadi tempat paling mematikan bagi jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis tewas sejak 7 Oktober 2023. Bukan hanya jurnalis, bahkan dokter pun turut merasakan kebiadaban Zionis. Akibat kekurangan tenaga medis, banyak korban kebiadaban Zionis tidak ditangani dengan benar.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin 4 Mei 2026 mengingatkan bahwa satu dari lima penderita amputasi di Jalur Gaza merupakan anak-anak. Kekurangan dokter spesialis prostetik dan pembatasan masuknya material ke Jalur Gaza menyebabkan ribuan orang tak mendapatkan perawatan yang memadai. Juru bicara PPB Stephen Dujarric menambahkan bahwa lebih dari 6.600 orang membutuhkan perawatan prostetik dan rehabilitasi. “Sejak 2023 ribuan orang telah menjalani amputasi, namun hanya delapan delapan tenaga medis yang tersedia untuk menangani masalah itu”. (Tempo, 5-5-2026)
Jumlah korban tewas akibat agresi Zionis Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, dengan 172.535 lainnya terluka, menurut sumber medis setempat. Mereka melaporkan rumah sakit yang masih beroperasi di seluruh Jalur Gaza menerima lima korban tewas dan 15 korban luka dalam 24 jam terakhir. (AntaraNews, 10-5-2026)
Pola kekerasan Zionis telah melampaui batas kemanusiaan terhadap Muslim Palestina. Kondisi ini mengarah pada praktik dehumanisasi terhadap Muslim Palestina di bawah penjajahan Zionis.
Bagaimana praktik dehumanisasi terhadap Muslim Palestina terjadi di bawah penjajahan Zionis?
Mengapa negeri-negeri Muslim cenderung bersikap pasif di tengah terus berlangsungnya dehumanisasi terhadap Muslim Palestine?
Bagaimana Islam menawarkan solusi strategis dalam menghentikan dehumanisasi penjajahan Zionis?
Dehumanisasi Menjadi Wajah Kekejaman Zionis terhadap Muslim Palestina
Dehumanisasi adalah proses ketika seseorang atau suatu kelompok diperlakukan seolah-olah kurang manusia, tidak memiliki martabat, perasaan, hak, atau nilai yang sama seperti manusia lain. Secara sederhana, dehumanisasi terjadi saat manusia tidak lagi dipandang sebagai manusia utuh—melainkan dianggap objek, ancaman, angka statistik, beban, atau bahkan disamakan dengan hewan/benda. (Sumber: Google)
Palestina di bawah penjajahan Zionis telah menampakkan pola kekejaman yang berlangsung terus-menerus terhadap warga sipil Palestina tanpa memandang usia maupun kondisi.
Pertama. Serangan terhadap warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.
Menurut kantor HAM PBB, dalam gelombang serangan Maret 2025 saja, tercatat setidaknya 506 warga Palestina tewas, termasuk 200 anak-anak dan 112 perempuan. Serangan dilaporkan mengenai rumah, sekolah yang dijadikan tempat pengungsian, dan tenda pengungsi. (Palestine.un.org, 25-3-2025)
Wajah kejam Zionis tak menjadikan nyawa warga sipil sebagai manusia yang memiliki hak hidup. Ini karenanya, aksi militer Zionis layak disebut genosida. Penjajah Zionis secara sadar menargetkan warga sipil, baik itu anak-anak, perempuan, lansia, bahkan tenaga medis. Padahal secara hukum humaniter internasional, mereka menjadi bagian kelompok yang seharusnya dilindungi secara khusus.
Kedua. Serangan terhadap wilayah padat penduduk.
Penjajah Zionis terus meluncurkan bom ke wilayah-wilayah padat penduduk, dan juga membombardir warga sipil tanpa rasa iba sedikitpun. Wajah kejam Zionis ini menjadikan warga sipil tak memiliki ruang hidup aman. Rumah-rumah berubah menjadi tempat berbahaya, bahkan di dalam kamp pengungsian sekalipun.
Ketiga. Penghancuran terhadap fasilitas-fasilitas umum.
Pola kekejaman penjajah Zionis nampak berulang meluncurkan serangan ke sekolah-sekolah, tempat ibadah, dan rumah sakit. Tak ada lagi anak yang dapat menikmati pendidikan. Banyaknya layangan kesehatan yang rusak kerab membuat korban serangan tak mendapatkan penanganan medis yang layak. Penghancuran hak dasar hidup sebagai manusia menjadi wajah kejam dehumanisasi yang dilakukan Zionis.
Keempat. Pembatasan akses terhadap air bersih, listrik, makanan, dan obat-obatan.
Akibat penghancuran fasilitas umum menyebabkan warga sipil kehilangan akses terhadap air bersih, listrik padam, bahkan makanan dan obat-obatan sulit untuk diperoleh. Tak berhenti di situ, bahkan Zionis melakukan penghadangan terhadap berbagai bantuan yang akan masuk ke Palestina. Aksi solidaritas dari berbagai penjuru dunia dihadang oleh wajah kejam Zionis.
Kelima. Pengungsian massal.
Kehilangan rumah, pekerjaan, dan kestabilitasan hidup memaksa warga sipil untuk berbondong-bondong mengungsi. Anak-anak tidak bisa tumbuh layak, hidup dalam bayang-bayang suasana ketakutan yang terus-menerus dan berkepanjangan.
Kekerasan yang dilakukan penjajah Zionis terhadap Muslim Palestina yang notabenenya sebagai warga sipil terus berulang dan masif. Anak-anak dan perempuan termasuk lansia sebagai kelompok rentan tidak lagi bisa mendapatkan perlindungan. Dehumanisasi terhadap rakyat Palestina bukan sekadar persoalan kekerasan fisik semata, tetapi juga hilangnya martabat sebagai manusia, hilangnya rasa aman, berikut juga hilangnya hak dasar sebagai manusia. Dehumanisasi menjadi wajah kekejaman Zionis terhadap Muslim Palestina di bawah penjajahan.
Sikap Diam Negeri-Negeri Muslim di Tengah Terus Berlangsungnya Dehumanisasi terhadap Muslim Palestine
Keangkuhan Zionis terus langgeng karena memperoleh dukungan politik, militer, dan keuangan dari Amerika. Tanpa peduli kesepakatan gencatan senjata, Zionis terus melancarkan aksi serangannya ke Gaza. Bahkan, demi membungkam dan menutup mata dunia, serangan terhadap jurnalis menjadi bagian pola kekejamannya.
Seharusnya dunia dan kaum Muslim tidak diam atas pendudukan Gaza. Penjajahan Zionis atas tanah Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun harus segera dihentikan. Keberadaan entitas Zionis sudah seharusnya dihapus di atas muka bumi.
Palestina tidak sekadar membutuhkan dukungan moral semata. Seharusnya ada kekuatan politik yang kuat bergerak untuk menyelamatkan Muslim Palestina. Negeri-negeri Muslim lebih dari 50 negeri, tetapi tak satupun tergerak untuk melakukan pembelaan secara militer membebaskan Palestina.
Sekat nasionalisme sering menjadi faktor pertimbangan kepentingan geopolitik. Atas nama hubungan ekonomi, militer, dan diplomatik dengan kekuatan global telah merantai kaki penguasa negeri-negeri Muslim untuk berlari menyelamatkan saudar Muslimnya di Palestina. Keberanian politik hilang ditelan kepentingan ekonomi internasional.
Bahkan, di saat bantuan-bantuan kemanusiaan di hadang baik melalui darat dan laut sekalipun, mereka tetap bergeming. Inilah yang nyata terjadi bahwa penguasa negeri-negeri Muslim, di saat kapal-kapal bantuan kemanusiaan itu diblokade penjajah Zionis, tidak ada satupun yang tergerak mengirimkan angkatan lautnya untuk melindungi.
Negeri-negeri muslim lemah, patah taringnya di hadapan sistem nation-state. Sekat-sekat nation-state dirancang sedemikian rupa demi kelanggengan eksistensi Zionis laknatullah. Bahkan, dukungan kemanusiaan dari segala penjuru dunia tak mampu mendobrak keangkuhan Zionis Yahudi. Semakin nyata, peradaban Barat hari ini di bawah keangkuhan Zionis telah menginjak-nginjak marwah umat Muslim di seluruh dunia. Memotong-motong tali ukhuwah islamiyah hingga tak lagi memiliki kekuatan di mata dunia.
Perbedaan kepentingan antarnegara Muslim telah mengikis rasa ukhuwah islamiyah. Tak lagi terwujud kesatuan langkah. Ukhuwah islamiyah terbentur agenda politik masing-masing negeri.
Inilah akibat tak ada lagi persatuan umat Islam yang terhimpun dalam 'one state one ummah'. Umat Islam tersekat nation-state hingga mudah tercabik-cabik. Tali ukhuwah islamiyah menjadi rapuh tak mampu menunjukkan kekokohan kekuatan ikatannya. Dua miliar lebih umat Muslim di dunia menjadi laksana buih di lautan di atas bangunan peradaban kapitalisme Barat. Saatnya umat bangun, bangkit dari kemerosotannya, bersatu menunjukkan kekuatan taringnya.
Tak seharusnya negeri-negeri Muslim diam di hadapan dehumanisasi yang dilakukan penjajah Zionis terhadap Muslim Palestina. Pelanggaran penjajah Zionis Yahudi terhadap hukum humaniter kemanusiaan merupakan bukti bahwa penjajah ini tak kenal batas dalam melanggangkan aksinya.
Zionis layak menduduki tahta tertinggi penyandang label teroris di dunia. Zionis laknatullah tak puas sekadar menggenosida rakyat Palestina baik dari yang masih dalam kandungan hingga para lansia. Tak cukup menteror dengan dentuman bom dan bombardir senapan, tanpa ampun Zionis memblokade berbagai bantuan yang masuk baik dari darat maupun laut. Mirisnya, para penguasa negeri-negeri Muslim terus diam dengan kearogansian Zionis ini.
Paling memuakkan adalah ketika teroris teriak teroris. Pejuang Palestina yang berjuang mempertahankan setiap jengkal tanahnya adalah bentuk jihad yang nyata. Label teroris yang disematkan penjajah Zionis atas perjuangan rakyat Palestina hanyalah justifikasi palsu demi legitimasi upaya genosida atas rakyat Palestina. Dengan label teroris itu penjajah Zionis berupaya mengkriminalisasi setiap bentuk solidaritas terhadap Palestina. Hanya mereka yang telah buta mata, tuli telinga, mati hati yang mengamini label palsu Zionis atas pejuang Palestina.
Sikap diam negeri-negeri Muslim di tengah terus berlangsungnya dehumanisasi terhadap Muslim Palestina karena tak adanya persatuan umat Islam dalam satu komando. Sekat nasionalisme dalam nation-state mengamputasi kekuatan umat. Nation-state mengikis tapi ukhuwah islamiah hingga menjadi rapuh. Kekuatan kepentingan antarnegara Muslim menjadi belenggu untuk membela saudara Muslimnya, melanggengkan dehumanisasi yang dilakukan Zionis secara terus-menerus.
Solusi Islam dalam Menghentikan Dehumanisasi Penjajahan Zionis
Lemahnya kekuatan besar umat Islam diakibatkan sekat nation-state, karena itu untuk mengembalikan kekuatan itu haruslah ada ikatan kokoh akidah Islam yang bernaung dalam satu komando. Pembebasan Palestina membutuhkan kekuatan ukhuwah islamiyah yang hakiki yakni berupa persatuan Muslim sedunia untuk berjihad. Institusi pemersatu umat Islam sedunia itu adalah khilafah.
Oleh karena itu, solusi tuntas permasalahan Palestina adalah jihad dan khilafah. Hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Hawalah radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa ketika khilafah telah turun di negeri yang disucikan yaitu Palestina, maka telah dekat perkara-perkara besar, keguncangan, dan perkara-perkara yang mengguncangkan. Perkara-perkara besar yang akan mengguncangkan dunia adalah kehancuran kaum kafir.
Maka telah jelas Rasulullah memberitahukan bahwa solusi Palestina adalah khilafah, tidak bisa diselesaikan dengan perdamaian atau gencatan senjata. Sebagaimana hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa ibukota negeri kaum Muslim di akhir zaman adalah Syam dan sekitarnya. Inilah janji Allah!
Khilafah akan menghentikan dehumanisasi yang dilakukan Zionis terhadap Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada pemiliknya, sekaligus me-riayah warga Palestina agar bisa hidup mulia.
Islam menghormati nyawa manusia, bahkan dalam peperangan sekalipun, Islam memerintahkan untuk berlaku baik dan menjaga nyawa penduduk sipil serta fasilitas umum. Islam memiliki aturan perang yang sangat luar biasa indahnya. Penerapan Islam jelas akan menjaga kemuliaan manusia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam hari ini adalah penegakan khilafah yang akan mengerahkan militer di dunia Islam untuk melakukan jihad membebaskan Palestina dan menghilangkan entitas Zionis.
Kemuliaan umat harus diperjuangkan kembali. Umat harus dibangun kesadarannya akan janji Allah, dan didorong untuk mewujudlkannya kembali persatuan umat. Upaya itu membutuhkan kepemimpinan sebuah jamaah dakwah ideologis yang tulus mengajak umat untuk berjuang. Dengan rahmat Allah, jalan dakwah akan mendapatkan hasil sepanjang menapaki thariqah Rasulullah, sebagaimana yang diemban oleh jamaah dakwah ideologis yang tulus menerapkan Islam kaffah.
Saatnya bangkit mengembalikan marwah umat, menghentikan dehumanisasi yang dilakukan penjajah Zionis. Marwah hanya akan terwujud dengan Islam. Dan tidak akan tegak Islam kecuali dengan penerapan secara kaffah oleh Khilafah Rasyidah.[]
#LamRad
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst
Oleh: Dewi Srimurtiningsih
Dosol Uniol 4.0 Diponorogo