TintaSiyasi.id -- Menurut Izzuddin bin Abdussalam
Ikhlas adalah rahasia terbesar dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah. Amal yang besar bisa menjadi kecil tanpa ikhlas, dan amal yang kecil bisa menjadi agung karena keikhlasan. Para ulama salaf memandang ikhlas sebagai inti agama, ruh ibadah, dan cahaya hati.
Di antara ulama yang banyak menjelaskan tentang kemurnian niat adalah Izzuddin bin Abdussalam yang dikenal sebagai Sulthanul Ulama. Beliau menegaskan bahwa inti keselamatan manusia terletak pada lurusnya tujuan hidup dan bersihnya hati dari selain Allah.
Hakikat Ikhlas
Ikhlas berarti memurnikan tujuan hanya untuk Allah semata tanpa mencari pujian manusia, popularitas, penghormatan ataupun keuntungan duniawi.
Allah berfirman:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5).
Menurut Izzuddin bin Abdussalam, ikhlas bukan sekadar ucapan lisan, tetapi keadaan batin yang melahirkan perilaku lurus, jujur, dan istikamah dalam seluruh keadaan.
Orang yang ikhlas:
Tetap berbuat baik meski tidak dipuji
Tetap istiqamah meski tidak dilihat manusia
Tetap bekerja untuk agama meski dicela.
Tidak berubah karena sanjungan ataupun hinaan.
Metode Berperilaku Lurus dan Berhati Tulus
1. Meluruskan Tujuan Hidup
Akar keikhlasan adalah tauhid tujuan.
Seseorang harus bertanya kepada dirinya:
Untuk siapa aku bekerja?
Untuk siapa aku berdakwah?
Untuk siapa aku beribadah?
Untuk siapa aku mencari ilmu?
Jika jawabannya masih bercampur dengan ambisi dunia, maka hati perlu dibersihkan kembali.
Izzuddin bin Abdussalam mengajarkan bahwa amal yang diterima bukan hanya yang benar secara syariat, tetapi juga benar niatnya.
2. Menyembunyikan Amal Sebisa Mungkin
Para salaf sangat takut kehilangan ikhlas karena riya’.
Mereka lebih senang:
amalnya tidak diketahui
sedekahnya tersembunyi
tahajudnya dirahasiakan
tangis taubatnya hanya diketahui Allah.
Karena hati manusia mudah berubah ketika dipuji.
Semakin seseorang menikmati sanjungan manusia, semakin besar ancaman rusaknya keikhlasan.
3. Tidak Bergantung kepada Penilaian Manusia
Hati yang ikhlas tidak hidup dari tepuk tangan manusia.
Ia tenang ketika dipuji dan tetap tenang ketika dicela.
Sebab orientasinya bukan manusia, tetapi ridha Allah.
Inilah makna “berhati tulus tanpa batas”:
berbuat baik tanpa pamrih
menolong tanpa perhitungan
memberi tanpa menunggu balasan.
4. Mujahadah Melawan Nafsu
Ikhlas tidak lahir secara instan.
Ia membutuhkan:
latihan jiwa
pengendalian hawa nafsu
perang melawan ego
pengawasan hati terus-menerus.
Para ulama mengatakan:
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat diperbaiki daripada niat.”
Karena hati sangat mudah berubah:
hari ini ikhlas
besok ingin dipuji
lusa ingin dihormati.
Maka, muhasabah menjadi kebutuhan harian.
5. Mengingat Kematian dan Akhirat
Orang yang sering mengingat akhirat akan mudah ikhlas.
Mengapa?
Karena ia sadar:
pujian manusia tidak dibawa ke kubur
popularitas tidak menyelamatkan
jabatan akan hilang
yang tersisa hanyalah amal tulus.
Ikhlas tumbuh subur di hati yang mengenal kefanaan dunia.
Tanda-Tanda Orang Ikhlas
Menurut para ulama, di antara ciri orang yang ikhlas adalah:
Semangat beramal ketika sendiri maupun di depan manusia tetap sama.
Tidak kecewa ketika tidak dihargai.
Tidak haus pujian.
Lebih sibuk memperbaiki amal daripada mencari pengakuan.
Senang jika kebaikan tersebar meski bukan dirinya yang dikenal.
Rendah hati walaupun memiliki banyak kelebihan.
Bahaya Lawan Ikhlas: Riya’ dan Ujub
Riya’ adalah beramal karena ingin dilihat manusia.
Sedangkan ujub adalah kagum terhadap diri sendiri.
Keduanya merupakan racun amal.
Nabi Muhammad Saw., bersabda:
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Riya’.”
Karena itu para ulama salaf lebih takut kehilangan ikhlas daripada kehilangan harta.
Ikhlas Melahirkan Ketenangan
Orang yang ikhlas hidupnya ringan.
Mengapa?
Karena ia tidak sibuk mengejar pengakuan manusia.
Ia bekerja karena Allah. Ia berdakwah karena Allah. Ia bersabar karena Allah. Ia mencintai karena Allah.
Maka hatinya tidak mudah kecewa.
Keikhlasan menjadikan:
amal kecil bernilai besar
langkah sederhana bernilai ibadah
hidup terasa damai dan penuh makna.
Penutup
Izzuddin bin Abdussalam mengajarkan bahwa rahasia keselamatan manusia bukan terletak pada besarnya amal semata, tetapi pada lurusnya hati dan tulusnya niat.
Ikhlas adalah:
cahaya ruh
kekuatan istiqamah
rahasia diterimanya amal
jalan menuju kedekatan dengan Allah.
Ketika hati bersih dari selain Allah, maka manusia akan mampu:
berbuat lurus tanpa kepalsuan
mencintai tanpa pamrih
memberi tanpa batas
dan hidup dengan ketenangan yang tidak bisa dibeli dunia.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam amal, tulus dalam hati, dan istiqamah hingga akhir hayat. Aamiin.
Dr Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo