Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pendidikan Kapitalistik : Saat SDM Dikorbankan demi Pasar Kerja

Rabu, 13 Mei 2026 | 06:32 WIB Last Updated 2026-05-12T23:32:32Z
TintaSiyasi.id -- Dikutip dari KOMPAS.com(25/04/2026)-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengungkapkan rencana untuk penutupan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kehidupan dunia di masa depan.

Sangat disayangkan, pendidikan yang seharusnya menjadi peluang bagi para siswa untuk mengejar mimpi dan cita-cita, harus dihadapi dengan pernyataan dari Kemendiktisaintek bahwa ada beberapa prodi yang berencana akan dihapus dari perkuliahan, seperti pendidikan dan kedokteran, Badri mengungkapkan "lowongan calon guru dan fasilitator didi taman kanak-kanak hanya 20 ribu, sedangkan yang dihasilkan dari lulusan pendidikan sekitar 490 ribu. Jadi yang 470 ribu tidak punya pekerjaan.

Solusi yang ia tawarkan adalah dengan mengembangkan program studi yang turut mendukung industrialisasi. Walakhir banyak rektor dari berbagai universitas yang turut menyorot dan merespons wacana dari Kemendiktisaintek. Salah satunya seperti Universitas Padjadjaran, yang tidak ingin menempuh cara ekstrim dengan langsung menutup program studi semacam itu, Unpad menilai evaluasi untuk penyegaran dan pembaruan kurikulum lebih tepat, sehingga program studi bisa relevan dengan kebutuhan kerja.

Maka inilah acuan yang diadopsi sistem pendidikan saat ini, dimana kampus justru menjadi acuan agar sesuai dengan tuntutan dunia industri. Oleh karena itu tak heran output yang dihasilkan tak lain hanya untuk mempersiapkan mahasiswa siap kerja, bukan melatih daya pikir kristis. Padahal dari anak mudalah yang menjadi potensi terbesar untuk mempertajam pikiran.

Dengan kata lain permasalahan tentang ketersediaan lapangan pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan penutupan program studi saja, tetapi pemerintah juga perlu mempertimbangkan hal lain seperti, mengganti sistem Al yang dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia, mensyaratkan lulusan sarjana pada pekerjaan yang sifatnya teknis, tidak mesti sarjana, dan lain sebagainya.

Fakta lain juga menunjukan mahasiswa yang terhubung dengan industri pasarpun juga terkena dampak, banyak yang lulusan sarjana dan mengambil program studi yang sejalan dengan market susah memiliki pekerjaan. Ada pula mahasiwa yang melakukan magang yang akhirnya hanya memenuhi SKS (Satuan Kredit Semester) saja. Ini membuktikan rencana yang ditawarkan pemerintah, dengan menutup program studi tidak solutif untuk menjawab tantangan ekonomi dimasa depan.

Disini negara justru seolah-olah seperti berlepas tangan dalam memenuhi kebutuhan individu rakyatnya, padahal seharusnya orientasi pendidikan itu fokus kepada kualitas SDM, bukan untuk melayani Industri. Ini disebabkaan adanya berbagai macam kepentingan segelintir pihak yang menyulitkan "pemain baru" untuk berkembang.

Maka Islam menawarkan solusi yang solutif bagi permasalahan ini.Maka Islam menawarkan solusi yang solutif bagi permasalahani ini. Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan strategis umat, sehingga pendidikan tak diukur dari nilai ekonomi sebab nanti ilmu akan kehilangan orientasi pembinaan manusia dan hanya dijadikan sebagai pemenuh indutrialisasi semata. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban. Jadi yang namanya belajar kita bawa sampai mati, justru tenaga pendidik sangat diperlukan sebagai lahirnya generasi dan peradaban.

Selain itu dalam sistem kepemerintahan Islam (khilafah) negara yang bertanggungjawab dalam menyediakan lapangan kerja. Sehingga kesalahan pengangguran tidak disalahkan sepenuhnya terhadap jurusan kuliah tertentu, tetapi yang perlu dibenahi adalah sistem ekonomi negara dan tata kelolanya. Maka cara yang ditempuh oleh khilafah adalah sebagai berikut:

1. Pemerataan Pembangunan

Daulah islam tidak hanya mempusatkan ekonomi di kota besar, tetapi juga ke daerah, agar tidak terjadi penumpukkan pengangguran.

2. Pengelolaan SDA oleh negara

Islam menetapkan sumber daya strategis, seperti air, tambang, hutan sebagai milik umum untuk dikelola. Pengelolaan ini membuka banyak peluang pekerjaan dan hasilnya untuk kesejahteraan umat, bukan dimonopoli oleh segelintir orang.

3. Pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan umat

Pendidikan tidak dibuat untuk mengikuti kebutuhan pasar sesaat, tetapi disusun berdasarkan kebutuhan riil umat dan negara, karena peran pendidik sangat penting untuk membentuk kepribadian islam pada generasi serta menjaga akidah dan pemikiran umat.

Sangat jelas sekali apabila pendidikan dikelola oleh sistem yang tidak menafikan aturan agama dari kehidupan. Karena yang menjadi standar adalah tunduk pada syariat, sehingga yang dipertimbangkan adalah hal-hal haram bukan semata logika pasar atau kepentingan ekonomi jangka pendek. Allahu A'lam.

Oleh : Marsa Qalbina 
(Pendakwah Ideologis)

Opini

×
Berita Terbaru Update