TintaSiyasi.id -- Menanggapi pemberian izin usaha pertambangan atau IUP batu bara kepada organisasi kemasyarakatan Nahdatul Ulama (NU), Analis Senior Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Fajar Kurniawan, mengingatkan bahwa itu berisiko menyeret NU menjadi aktor dalam konflik agraria yang sistemis.
"Ini adalah ironi, karena berisiko menyeret NU menjadi aktor dalam konflik agraria yang sistemis," ujarnya di akun TikTok fajar.pkad, Ahad (3/5/2026).
Ia mengatakan, lahan IUP itu bukan lahan kosong yang mudah dikelola. Di sana ada ekspektasi publik yang tinggi, risiko lingkungan, ada potensi konflik, serta pertaruhan marwah NU sebagai ormas keagamaan yang menjadi patron bagi puluhan juta orang.
"Data dan fakta di lapangan, area konsesi di Kutai Timur bukanlah tanpa masalah. Berbagai laporan penelitian dan investigasi, menyoroti potensi pencemaran air asam tambang atau AAT yang menghantui warga sekitar," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa pertambangan batu bara secara teknis membutuhkan keahlian tingkat tinggi dan modal raksasa untuk memitigasi kerusakan lingkungan. Jika operasional ini gagal memenuhi standar audit lingkungan yang ketat, risikonya bukan cuma denda materi tetapi kerusakan reputasi ormas yang membawa nilai-nilai keumatan.
Sehingga, ia menekankan, jangan sampai organisasi sebesar NU hanya dijadikan bemper oleh pemain-pemain lama di balik layar, risiko yang jauh lebih besar lagi adalah risiko sosial.
"Lahan yang akan dikelola ini beririsan langsung dengan ruang hidup masyarakat adat Dayak Basap yang banyak mendiami berbagai wilayah di Kutai Timur," jelasnya.
"Dayak Basap memiliki keterikatan spiritual dan ekonomi dengan tanah leluhur mereka. Jika proses operasional ini mengabaikan hak-hak ulayat dan justru memicu kriminalisasi warga yang mempertahankan lahannya maka NU akan berhadapan langsung dengan umat di level akar rumput," paparnya.
Oleh karenanya, jika rencana pengelolaan tambang ini hanya melanggengkan kerusakan alam atau bahkan dapat memicu konflik sosial, maka tidak ada salahnya langkah tersebut ditinjau ulang.[] Alfia