Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jalan Tembus Menuju Allah

Kamis, 21 Mei 2026 | 12:11 WIB Last Updated 2026-05-21T05:11:19Z
TintaSiyasi.id -- Membumikan Ilmu, Pekerjaan, dan Kekuasaan Sebagai Jalan Akhirat

Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik dari Nasehat Ibnul Qayyim al-Jauziyyah

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, manusia semakin sibuk mengejar pencapaian lahiriah. Gelar diburu, jabatan diperebutkan, kekayaan dikumpulkan, dan popularitas dijadikan ukuran keberhasilan. Namun ironisnya, semakin tinggi manusia naik dalam urusan dunia, semakin banyak pula yang kehilangan arah ruhaniahnya. Dunia menjadi tujuan, bukan kendaraan. Kekuasaan menjadi kesombongan, bukan amanah. Ilmu menjadi alat kebanggaan, bukan cahaya menuju Allah.

Dalam keadaan seperti inilah, nasihat agung dari Ibnul Qayyim al-Jauziyyah terasa begitu hidup:

> “Carilah jalan tembus Allah dan negeri akhirat. Menuju bahkan seluruh ilmu, pekerjaan, dan kekuasaan, hingga mencapai puncak yang diteladani dalam hal tersebut.”

Kalimat ini bukan sekedar motivasi spiritual biasa. Ia adalah manhaj kehidupan. Sebuah ideologi ruhani yang menempatkan seluruh aktivitas dunia sebagai sarana penghambaan kepada Allah.

Krisis Besar Umat: Kehilangan Orientasi Akhirat

Hari ini umat Islam menghadapi krisis yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar krisis ekonomi atau politik, yaitu krisis yang berorientasi pada kehidupan. Banyak manusia hidup hanya untuk memperbesar dunia, tetapi melupakan akhirat. Mereka membangun karier tetapi menghancurkan ruhnya. Mereka mengejar jabatan tetapi kehilangan ketenangan. Mereka memiliki pengaruh tetapi keberkahan miskin.

Inilah penyakit modernitas:
manusia kaya fasilitas tetapi miskin makna.

Teknologi berkembang luar biasa, namun hati manusia semakin kosong. Media sosial memenuhi pencitraan, tetapi memenuhi jiwa kegelisahan. Banyak orang terlihat sukses di mata manusia, tetapi hancur di hadapan Allah.

Padahal Allah telah mengingatkan:

> “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka.”
(QS. Hud: 15–16)

Ayat ini bukan larangan menjadi sukses, melainkan peringatan agar dunia tidak menjadi sesembahan baru.

Tasawuf Sejati: Menguasai Dunia Tanpa Dikuasai Dunia

Sebagian orang salah memahami tasawuf. Mereka mengira jalan ruhani berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Padahal para ulama salaf tidak pernah mengajarkan kemalasan, keterbelakangan, atau keterbelakangan.

Tasawuf sejati bukan lari dari dunia, tetapi menaklukkan dunia agar tunduk kepada Allah.

Para ulama besar dahulu adalah manusia-manusia produktif. Mereka berdagang, mengajar, memimpin, berjihad, menulis kitab, dan membangun peradaban. Namun hati mereka tidak diperbudak dunia.

Mereka memiliki dunia di tangan, namun akhirat di hati.

Inilah makna zuhud yang sebenarnya: bukan tidak memiliki apa-apa, tetapi tidak diperbudak oleh apa pun selain Allah.

Ilmu Sebagai Jalan Menuju Cahaya

Dalam perspektif ideologi dakwah-sufistik, ilmu bukan sekadar alat memperoleh pekerjaan. Ilmu adalah jalan mengenal Allah.

Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Bukan semakin sombong. Sebab ilmu tanpa adab dan ketundukan ruhani hanya akan melahirkan manusia cerdas yang merusak.

Hari ini dunia mempunyai banyak orang pintar, tetapi sedikit orang yang bijaksana. Banyak ahli bicara, tetapi sedikit ahli zikir. Banyak sarjana, tapi miskin keikhlasan.

Karena itu para ulama dahulu menangis ketika ilmu mereka bertambah. Mereka takut jika ilmu hanya berhenti di kepala tetapi tidak turun ke hati.

Allah berfirman:

> “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Maka seorang guru, dosen, dai, penulis, dan sarjana harus menjadikan ilmunya sebagai jalan dakwah menuju Allah, bukan alat kecerdasan intelektual.

Pekerjaan Adalah Ibadah Jika Mengandung Amanah

Islam tidak memisahkan dunia kerja dengan ibadah. Seorang petani yang jujur, pedagang yang amanah, dokter yang tulus, guru yang ikhlas, atau pejabat yang adil—semuanya sedang menempuh jalan menuju Allah jika diniatkan karena-Nya.

Namun ketika pekerjaan hanya dijadikan alat memperkaya diri tanpa nilai ruhani, maka manusia akan terjebak dalam kelelahan yang tidak pernah selesai.

Banyak orang yang bekerja siang malam tetapi kecemasan kosong. Gajinya naik, tapi ketenangannya hilang. Rumahnya besar, tetapi keluarganya retak. Jabatan meningkat, namun ibadahnya runtuh.

Mengapa?

Karena pekerjaan kehilangan dimensi akhirat.

Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa amal kecil yang ikhlas lebih dicintai Allah daripada amal besar yang dipenuhi riya'.

Dalam dunia modern yang kompetitif ini, umat Islam membutuhkan paradigma baru: bekerja keras seperti pejuang dunia, tetapi berhati-hati seperti ahli akhirat.

Kekuasaan dan Jabatan: Amanah atau Bencana

Di antara fitnah terbesar manusia adalah kekuasaan. Jabatan dapat mengangkat seseorang menjadi mulia atau justru menghancurkannya di hadapan Allah.

Hari ini banyak manusia rela mengorbankan agama demi kursi. Mereka berdusta demi kekuasaan, memfitnah demi popularitas, dan mempertahankan amanah demi kepentingan pribadi.

Padahal jabatannya hanyalah titipan sementara.

Para khalifah saleh menangis ketika diangkat menjadi pemimpin, karena mereka memahami beratnya hisab di akhirat. Sementara manusia modern hanya saling berebut kekuasaan seolah-olah itu jalan menuju keselamatan.

Dalam pandangan ideologi dakwah-sufistik, pemimpin sejati bukanlah yang paling memuji manusia, tetapi yang paling takut kepada Allah.

Kekuasaan harus menjadi sarana membantu rakyat kecil, menegakkan keadilan, melindungi kaum lemah, dan menjaga agama.

Jika tidak, kekuasaan hanya akan menjadi jalan kehancuran moral bangsa.

Penyakit Peradaban Modern: Kehilangan Ruh

Kita hidup di zaman percepatan teknologi tetapi lambatnya spiritual. Manusia mampu menembus langit dengan ilmu pengetahuan, namun gagal menembus hatinya sendiri.

Banyak orang mengetahui cara sukses finansial, tetapi tidak tahu cara menenangkan jiwa. Banyak yang memahami strategi bisnis, tetapi tidak memahami hakikat hidup.

Karena itu umat Islam membutuhkan kebangkitan ruhani yang berbasis tauhid, ilmu, dan akhlak.

Kebangkitan umat tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik. Umat ​​membutuhkan pembangunan hati. Alasan runtuhnya sebuah bangsa sering kali bukan karena berkurangnya kekayaan, tetapi karena rusaknya moral dan hilangnya rasa takut kepada Allah.

Menjadi Ahli Dunia yang Dicintai Langit

Nasehat Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengajarkan bahwa seorang mukmin harus berusaha mencapai puncak dalam bidangnya. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi lemah atau tertinggal.

Namun ada syaratnya: semua itu harus menjadi jalan menuju ridha Allah.

Jadilah pengusaha, tetapi pengusaha yang dermawan.
Jadilah seorang sejarawan, tetapi seorang sejarawan yang tawadhu'.
Jadilah pemimpin, tetapi pemimpin yang takut zalim.
Jadilah dai, tetapi dai yang ikhlas dan lembut.

Karena kemuliaan sejati bukan pada tingginya kedudukan di bumi, melainkan tingginya nilai seseorang di sisi Allah.

Penutup: Dunia Hanya Persenggahan

Pada akhirnya seluruh manusia akan kembali kepada Allah. Jabatan akan ditinggalkan. Kekayaan akan diwariskan. Popularitas akan dilupakan. Yang tersisa hanyalah amal dan keikhlasan.

Maka jangan jadikan dunia sebagai rumah abadi. Jadikan ia ladang amal menuju negeri akhirat.

Berjalanlah di bumi dengan ilmu dan kerja keras, tetapi menggantungkan hati hanya kepada Allah. Sebab orang yang mengenal Allah tidak akan tertipu oleh gemerlap dunia.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sukses di dunia tanpa kehilangan akhirat, kuat dalam perjuangan tanpa kehilangan keikhlasan, dan tinggi kedudukannya di bumi tanpa kehilangan kerendahan hati di hadapan-Nya.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Dr Nasrul Syarif M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo.

Opini

×
Berita Terbaru Update