TintaSiyasi.id -- Perspektif Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Akhlak, Kesadaran Ruhani, dan Perubahan Peradaban
Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, manusia berlomba menjadi terkenal, dihormati, dipuji, dan diterima lingkungan sosialnya. Banyak orang membangun citra diri agar disukai manusia. Namun ironisnya, semakin besar upaya pencitraan yang dilakukan, semakin kosong jiwa manusia dari ketulusan. Hubungan antarmanusia menjadi dangkal, penuh kepentingan, bahkan terpenuhi kepalsuan emosional.
Manusia modern tampak tersenyum di wajah, tetapi hatinya dipenuhi kegelisahan. Teknologi semakin canggih, tapi sayang sayang semakin menipis. Media sosial menampilkan keramaian, tetapi jiwa manusia mengalami kesetaraan spiritual yang mendalam.
Dalam keadaan seperti ini, umat manusia sesungguhnya sangat membutuhkan teladan agung yang mampu mengembalikan makna kemanusiaan. Dan teladannya adalah Muhammad Rasulullah SAW.
Beliau bukan sekedar nabi pembawa syariat, melainkan manusia sempurna yang memadukan kekuatan ideologi Islam dengan kelembutan ruhani. Rasulullah SAW berhasil membangun peradaban besar bukan hanya dengan kekuatan hukum, tetapi juga dengan kekuatan akhlak, cinta, kasih sayang, dan kesadaran ketuhanan.
Beliau dicintai para sahabat, dihormati kawan maupun lawan, bahkan dikenang sepanjang zaman karena keagungan pribadinya.
Allah SWT berfirman:
“Dan sebenarnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa akhlak bukan sekadar pelengkap agama, melainkan inti pancaran keimanan. Akhlak Rasulullah SAW lahir dari kesempurnaan hubungan beliau dengan Allah SWT.
Hakikat Menjadi Pribadi yang Disukai
Dalam perspektif Islam, menjadi pribadi yang disukai bukan berarti mencari popularitas manusia. Islam tidak mendidik umatnya menjadi “budak penilaian sosial.” Seorang mukmin sejati tidak hidup demi tepuk tangan manusia, tetapi demi ridha Allah.
Namun ketika seseorang benar-benar dekat kepada Allah, memperbaiki akhlaknya, membersihkan hatinya, dan menebarkan manfaat bagi sesamanya, maka Allah akan menanamkan cinta manusia kepadanya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril: 'Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka mencintailah ia.' Lalu Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit: 'Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintalah ia.' Maka penduduk langit menyelamatkannya. Kemudian diletakkanlah penerimaannya di bumi.”
Hadis ini menunjukkan bahwa cinta manusia yang sejati bukan dibangun dengan manipulasi citra, melainkan lahir dari cinta Allah.
Oleh karena itu, jalan menjadi pribadi yang dicintai manusia harus dimulai dari perbaikan hubungan dengan Allah.
Krisis Akhlak dalam Peradaban Modern
Hari ini manusia mengalami krisis akhlak yang sangat serius. Banyak manusia:
• mudah marah,
• suka mengatakannya,
• gemar bertengkar orang lain,
• rumah pengakuan,
• dan kehilangan empati sosial.
Peradaban kapitalistik membentuk manusia menjadi individualistis dan materialistis. Nilai manusia diukur berdasarkan:
• Kekayaan,
• jabatan,
• penampilan,
• Populer,
• dan kekuatan materi.
Akibatnya, manusia kehilangan ruh kasih sayang dan ketulusan.
Islam datang bukan sekedar mengatur ritual ibadah, namun membangun kepribadian manusia yang luhur. Rasulullah SAW bersabda:
“Sejujurnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
Artinya, dakwah Islam bukan hanya membangun sistem kehidupan, tetapi juga membangun manusia yang memiliki hati bersih dan akhlak agung.
Rasulullah SAW dan Revolusi Akhlak
Bangsa Arab sebelum Islam dikenal keras, kejam, penuh peperangan, dan fanatisme kesukuan. Namun Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi generasi terbaik umat manusia.
Perubahan besar itu tidak lahir semata-mata karena kekuatan hukum, tetapi karena sentuhan ruhani dan keteladanan akhlak.
Rasulullah SAW:
• memuliakan orang miskin,
• mencintai anak yatim,
• menghormati perempuan,
• menyayangi pelayan,
• membantu pekerjaan rumah,
• dan memaafkan musuh-musuhnya.
Beliau tidak membangun kekuasaan dengan kesombongan, tetapi dengan kasih sayang.
Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau memotret keras dan berhati kejam, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala hal (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.(QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini mengandung pelajaran besar: manusia lebih mudah ditaklukkan dengan kelembutan daripada kekerasan.
Akhlak yang Membuat Manusia Dicintai
1. Ikhlas dalam Berinteraksi
Keikhlasan adalah ruh dari seluruh amal. Banyak manusia tampak baik, namun kebaikannya penuh kepentingan tersembunyi.
Rasulullah SAW mengajarkan keikhlasan:
• memberi tanpa harapan balasan,
• membantu tanpa mencari pujian,
• dan mencintai karena Allah.
Orang yang ikhlas memiliki aura ketenangan. Hatinya tidak sibuk mencari pengakuan manusia karena ia merasa cukup dengan penilaian Allah.
2. Lemah Lembut dalam Perkataan
Lisan adalah cermin hati. Hati yang dipenuhi cahaya iman akan menyampaikan ucapan yang menenangkan.
Hari ini manusia begitu mudah dicaci dan dihina, terutama di media sosial. Padahal satu ucapan kasar mampu melukai hati seseorang bertahun-tahun.
Rasulullah SAW mengajarkan:
• berkata baik,
• menjaga kehormatan manusia,
• dan menghindari menyakiti hati orang lain.
Pribadi yang dicintai adalah pribadi yang kehadirannya membuat orang merasa aman.
3. Tawadhu' dan Tidak Sombong
Kesombongan adalah penyakit iblis. Orang sombong ingin selalu dipuji, dihormati, dan merasa lebih tinggi dari orang lain.
Padahal Rasulullah SAW yang paling mulia justru paling rendah hati.
Beliau duduk bersama fakir miskin, makan bersama para sahabat, dan tidak membedakan manusia berdasarkan status sosial.
Tawadhu' adalah tanda kedekatan seseorang dengan Allah. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah.
4. Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Rasulullah SAW tidak hidup untuk dirinya sendiri. Beliau hidup untuk umat.
Hari ini banyak manusia hanya memikirkan:
• keuntungan pribadi,
• kenyamanan diri,
• dan kepentingannya sendiri.
Islam mendidik umatnya menjadi manusia yang memberi manfaat bagi lingkungan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Manusia yang bermanfaat akan selalu hidup dalam doa dan cinta manusia.
5. Pemaaf dan Lapang Dada
Memaafkan adalah kekuatan ruhani yang besar.
Rasulullah SAW memaafkan penduduk Thaif yang melempari beliau dengan batu. Beliau juga memaafkan kaum Quraisy ketika berhasil menaklukkan Makkah.
Inilah akhlak kenabian:
• tidak dendam,
• tidak hausbola,
• dan tidak menikmati penderitaan orang lain.
Hati yang penuh dendam akan gelap. Sedangkan hati yang mudah memaafkan akan dipenuhi cahaya ketenangan.
Dimensi Ideologis: Akhlak sebagai Pilar Peradaban Islam
Dalam perspektif ideologi, akhlak bukan hanya urusan pribadi, tetapi fondasi peradaban.
Peradaban Islam dibangun di atas:
• aqidah,
• syariat,
• dan akhlak.
Ketika akhlak rusak:
• keluarga rusak,
• masyarakat rusak,
• dan negara pun rusak.
Oleh karena itu Islam sangat serius membentuk kepribadian manusia.
Sistem Islam tidak hanya menghasilkan manusia cerdas, tetapi juga manusia bertakwa dan beradab.
Ilmu tanpa akhlak melahirkan kerusakan. Kekuasaan tanpa akhlak melahirkan kezaliman. Kekayaan tanpa akhlak melahirkan kesombongan.
Maka kebangkitan umat Islam tidak cukup hanya dengan pembangunan ekonomi dan teknologi. Umat membutuhkan revolusi ruhani dan revolusi akhlak.
Dimensi Sufistik: Cahaya Hati dan Daya Tarik Ruhani
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa manusia yang dicintai memiliki cahaya ruhani di dalam hatinya.
Cahaya itu lahir dari:
• dzikir,
• keikhlasan,
• taubat,
• mujahadah,
• dan kedekatan dengan Allah.
Ketika hati bersih:
• wajah menjadi teduh,
• ucapan menjadi lembut,
• Perilaku menjadi sopan,
• dan kehadirannya membawa ketenangan.
Sebaliknya, hati yang terpenuhi:
• iri,
• riya',
• dengki,
• cinta dunia,
• dan ,
akan merindukan kegelisahan meskipun tersenyum.
Karena itu para ulama sufi lebih sibuk memperbaiki hati daripada sekedar memperindah penampilan lahiriah.
Mereka memahami bahwa manusia tertarik bukan hanya karena rupa fisiknya, tetapi juga oleh energi ruhani yang terpancar dari hati.
Menjadi Pribadi yang Dicintai di Akhir Zaman
Di zaman penuh fitnah ini, menjadi pribadi yang lembut dan berakhlak mulia adalah jihad besar.
Ketika manusia saling menghina, jadilah penebar kedamaian.
Ketika manusia sibuk mencari pujian, sibukkan diri mencari ridha Allah.
Ketika manusia keras dan egois, jadilah pribadi yang penuh kasih sayang.
Jangan membangun hubungan atas dasar kepentingan dunia semata. Bangunlah hubungan karena iman dan ketulusan.
Karena sesungguhnya manusia akan melupakan:
• wajah kita,
• harta kita,
• dan jabatan kita.
Tetapi mereka akan mengingat:
• kelembutan kita,
• membantu kita,
• dan akhlak kita.
penutup
Menjadi pribadi yang disukai ala Rasulullah SAW bukanlah seni pencitraan, melainkan proses penyucian jiwa.
Semakin dekat seseorang kepada Allah:
• semakin lembut hatinya,
• semakin indah akhlaknya,
• dan semakin besar manfaatnya bagi manusia.
Inilah jalan para nabi, para shalih, dan para pecinta Allah.
Maka jika ingin dicintai manusia:
• membersihkan hati,
• memperbaiki hubungan dengan Allah,
• muliakan manusia,
• jaga lisan,
• tebarkan kasih sayang,
• dan menghidupkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Karena akhlak mulia tidak hanya menghiasi kehidupan pribadi, tetapi juga menjadi cahaya yang mampu membangkitkan kembali peradaban umat manusia.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)