TintaSiyasi.id -- Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Empati Pemimpin dan Derita Wong Cilik
Di negeri yang besar ini, terkadang ada kalimat-kalimat yang lahir dari ruang kekuasaan tetapi terasa jauh dari kebutuhan kehidupan rakyat kecil. Ada ucapan yang mungkin dimaksudkan untuk menenangkan keadaan, namun justru melukai hati masyarakat bawah. Ketika dikatakan bahwa naiknya dolar tidak terlalu berpengaruh bagi rakyat desa karena mereka tidak memakai dolar, maka rakyat kecil hanya bisa tersenyum pahit. Sebab mereka memang tidak memegang dolar, namun mereka merasakan dampaknya setiap hari di pasar, di sawah, di dapur, dan di warung-warung sederhana.
Rakyat desa tidak membeli barang dengan dolar, tetapi pupuk naik. Harga beras naik. Minyak goreng naik. Ongkos transportasi naik. Obat-obatan mahal. Harga kebutuhan pokok perlahan mulai hingga mencekik kehidupan.
Orang kecil mungkin tidak mengerti istilah inflasi, depresiasi rupiah, atau gejolak ekonomi global. Namun mereka sangat mengerti arti “uang belanja tidak cukup lagi.”
Didalamnya dakwah ideologis-sufistik harus hadir: membangunkan hati para pemimpin, menyadarkan hati nurani para elit, dan menghidupkan kembali rasa kasih kepada rakyat kecil.
Kekuasaan Tanpa Empati Adalah Awal Keruntuhan
Dalam sejarah peradaban, banyak kerajaan runtuh bukan karena lemahnya tentara, tetapi karena matinya empati penguasa terhadap rakyatnya. Ketika istana terlalu jauh dari suara rakyat kecil, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.
Islam mengajarkan bahwa pemimpin bukan sekadar penguasaan administratif, melainkan penjaga amanah Allah di muka bumi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas yang dipimpinnya.”
Hadis ini bukan sekedar nasehat spiritual, namun prinsip ideologis yang sangat kuat. Kekuasaan dalam Islam bukanlah alat kemegahan, melainkan beban amanah yang kelak ditampilkan di hadapan Allah.
Oleh karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami data statistik pertumbuhan ekonomi. Ia juga harus memahami air mata seorang ibu yang bingung membeli susu anaknya. Ia harus mendengar keluhan petani yang pupuknya mahal tetapi hasil panennya murah. Ia harus merasakan getirnya buruh kecil yang pendapatannya tetap, sementara harga kebutuhan hidup terus naik.
Sufisme Mengajarkan Kepekaan Hati
Kaum sufi mengajarkan bahwa keintiman kepada Allah bukan sekedar banyaknya ritual ibadah, namun juga kehidupan hati terhadap penderitaan manusia.
Abdul Qadir al-Jailani pernah mengingatkan bahwa hati yang keras terhadap penderitaan manusia adalah tanda jauhnya seseorang dari cahaya Ilahi.
Seorang pemimpin boleh memiliki kekuasaan besar, namun jika hatinya tidak mampu menyaksikan rakyat kecil, maka ia sedang kehilangan makna kepemimpinan yang sesungguhnya.
Tasawuf sejati bukan lari dari kehidupan sosial. Tasawuf sejati justru melahirkan manusia yang paling lembut kepada rakyat dan paling takut kepada Allah. Oleh karena itu, pemimpin yang dekat dengan Allah hendaknya semakin rendah hati, semakin sederhana, dan semakin peduli kepada wong cilik.
Desa Adalah Nafas Negeri
Jangan pernah meremehkan rakyat desa. Dari desa lahir pangan negeri ini. Dari desa lahir keceriaan, keikhlasan, dan ketahanan bangsa. Namun ironisnya, masyarakat desa sering menjadi kelompok pertama yang terkena dampak krisis ekonomi.
Ketika harga solar naik, ongkos ikut panen naik. Ketika harga pupuk naik, petani menanggung beban berat. Ketika harga kebutuhan pokok naik, rakyat kecil mengurangi dan menahan kebutuhan makan.
Mereka mungkin diam, tetapi diamnya rakyat kecil sering kali menyimpan luka yang dalam.
Oleh karena itu, ucapan para pemimpin harus dijaga. Sebab satu kalimat yang tidak empatik dapat merugikan jutaan hati rakyat kecil.
Islam mengajarkan: “Barangsiapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.”
Betapa besarnya ancaman bagi pemimpin yang kehilangan kasih sayang terhadap rakyatnya.
Ideologi Islam Membela Kaum Lemah
Ideologi dakwah bukan sekedar bicara identitas atau simbol agama. Ideologi dakwah sejati adalah membangun keberpihakan terhadap keadilan sosial dan kemanusiaan.
Al-Qur'an selalu berpihak kepada kaum lemah:
fakir miskin,
anak yatim,
orang tertindas,
dan masyarakat kecil.
Islam datang bukan untuk melindungi elite kerakusan, tetapi untuk menegakkan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Ketika perekonomian hanya menguntungkan segelintir orang sementara rakyat kecil semakin terhimpit, maka para dai, ulama, sejarawan, dan intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan keberanian.
Karena diam terhadap penderitaan rakyat adalah bentuk pengkhianatan hati nurani.
Pemimpin yang Dicintai Langit
Dalam sejarah Islam, kita mengenal Umar bin Khattab yang menangis ketika mendengar ada rakyat yang kelaparan. Dia takut jika ada seekor kejang di Irak, maka Allah akan meminta pertanggung jawaban darinya.
Inilah spiritualitas kekuatan yang hilang di zaman modern.
Hari ini banyak orang yang berlomba mengejar jabatan, tetapi sedikit yang siap memikul amanah. Banyak orang ingin dihormati rakyat, tetapi tidak mau mendengar penderitaan rakyat.
Padahal pemimpin besar bukan yang paling sering dipuji media, tetapi yang paling banyak didoakan oleh rakyat kecil karena keadilannya.
Doa petani yang dizalimi bisa menembus langit. Tangisan ibu miskin bisa mengejutkan Arsy Allah. Dan keluhan wong cilik yang tertindas tidak pernah tertutup dari pendengaran Tuhan.
Saatnya Menghidupkan Hati
Bangsa ini tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan hati. Kita memerlukan pemimpin yang:
memiliki ilmu,
punya empati,
dekat dengan rakyat,
dan takut kepada Allah.
Sebab krisis terbesar bukan hanya krisis ekonomi, tetapi krisis hati nurani.
Jika hati para pemimpin hidup, maka kebijakan akan penuh kasih. Jika hati para pemimpin mati, maka rakyat hanya menjadi angka statistik.
Maka marilah kita semua:
memperbaiki diri,
menghidupkan kepedulian sosial,
memperkuat spiritualitas,
dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh rakyat.
Karena negeri ini tidak akan hancur hanya karena kemiskinan, tetapi bisa runtuh ketika para elit kehilangan rasa kemanusiaan.
Penutup: Dengarkan Suara Rakyat Kecil
Wahai para pemimpin… Turunlah sesekali ke pasar-pasar tradisional. Dengarkan keluhan petani di sawah. Rasakan kehidupan buruh kecil. Masuklah ke rumah-rumah sederhana yang dapurnya mulai sulit mengepul.
Sebab dari sanalah lahir kebijakan yang berkeadilan.
Rakyat desa memang tidak menggunakan dolar dalam transaksi mereka. Tetapi mereka sangat merasakan ketika harga kebutuhan hidup naik karena gejolak perekonomian dunia.
Dan sesungguhnya, pemimpin yang paling mulia bukanlah yang paling tinggi jabatannya, tetapi yang paling dalam cintanya kepada rakyat kecil dan paling takut akan tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)