TintaSiyasi.id -- Kita hidup di era ketika ukuran kesuksesan sering kali ditentukan oleh
• jumlah pengikut,
• banyaknya pemirsa,
• viralitas,
• dan popularitas.
Hari ini seseorang bisa dikenal jutaan orang hanya dalam semalam.
Satu video viral dapat mengubah hidup seseorang secara instan.
Akibatnya banyak generasi muda mulai percaya bahwa:
Terkenal berarti berhasil.
Padahal belum tentu.
Alasannya tidak semua yang viral itu bernilai.
Dan tidak semua yang bermanfaat itu populer.
Budaya Viral dan Krisis Nilai
Media sosial telah mengubah cara manusia mencari pengakuan.
Banyak orang hari ini rela melakukan apa saja demi perhatian:
• membuat sensasi,
• mencari kontroversi,
• buka aib diri,
• • kehidupan,
• bahkan merendahkan martabat demi hiburan.
Yang penting banyak.
Yang penting ditonton.
Yang penting terkenal.
Padahal popularitas tanpa nilai hanya akan melahirkan nasib buruk.
Lebih berbahaya lagi ketika generasi muda mulai mengukur harga dirinya dari:
• jumlah suka,
• komentar,
• atau validasi manusia.
Ketika pujian naik, ia merasa berharga.
Ketika perhatiannya hilang, ia merasa tidak berarti.
Inilah jebakan besar zaman digital:
menjadi manusia budak penilaian manusia lain.
Islam Mengajarkan Nilai, Bukan Sekadar Popularitas
Dalam Islam, ukuran kemuliaan bukanlah seberapa terkenalnya seseorang, tetapi:
• seberapa bertakwa,
• seberapa ikhlas,
• dan seberapa besar manfaatnya bagi manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Perhatikan:
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan “yang paling terkenal,” tetapi “yang paling bermanfaat.”
Karena nilai hidup manusia tidak ditentukan oleh sorotan dunia, melainkan kontribusinya di sisi Allah.
Viral Itu Cepat, Manfaat Itu Bertahan Lama
Sesuatu yang viral biasanya hanya bertahan sebentar.
Hari ini dipuji, besok dilupakan.
Hari ini ramai dibicarakan, lusa hilang tanpa jejak.
Namun manfaat yang tulus akan terus hidup meski pelakunya sudah tiada.
:
• Imam Bukhari,
• Imam Nawawi,
• Ibnu Sina,
• Muhammad Al-Fatih.
Mereka tidak hidup untuk mengejar sensasi.
Tetapi karya dan manfaat mereka tetap hidup hingga hari ini.
Karena kebermanfaatan melampaui usia manusia.
Bahaya Ketika Hidup Hanya Mengejar Pengakuan
Orang yang hidup hanya demi pengakuan manusia akan mudah:
• kecewa,
• iri,
• rumah pujian,
• dan kehilangan ketenangan.
Mengapa?
Karena manusia tidak pernah benar-benar puas.
Hari ini dipuji, besok dicela.
Hari ini didukung, hari esok ditinggalkan.
Jika kebahagiaan bergantung pada penilaian manusia, maka hidup akan dipenuhi kegelisahan.
Padahal Allah Ta'ala berfirman:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas…”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Ikhlas artinya berbuat baik bukan demi popularitas, tapi demi ridha Allah.
Generasi Hebat Adalah Generasi yang Memberi Dampak
Kesuksesan sejati bukan tentang diketahui semua orang.
Kesuksesan sejati adalah ketika keberadaan kita membawa kebaikan.
Tidak harus menjadi artis.
Tidak harus menjadi influencer besar.
Tidak harus viral.
Seorang guru yang mendidik dengan ikhlas adalah orang sukses.
Seorang penulis yang menyebarkan ilmu adalah orang sukses.
Seorang pemuda yang membantu masyarakat adalah orang sukses.
Seorang anak yang membahagiakan orang tuanya adalah orang sukses.
Karena ukuran sukses bukan gemerlap sorotan manusia, tapi kebermanfaatan di hadapan Allah.
Media Sosial Bisa Menjadi Ladang Amal atau Ladang Kesia-siaan
Teknologi sebenarnya netral.
Media sosial bisa menjadi:
• sarana dakwah,
• media ilmu,
• tempat berbagi inspirasi,
• dan jalan menyebarkan manfaat.
Tetapi ia juga bisa menjadi:
• tempat riya',
• panggung pengawasan,
• sumber lalai,
• pusat dan validasi pencarian.
Karena itu generasi muda harus bertanya pada dirinya sendiri:
“Apa yang saya sebarkan memberi manfaat atau hanya mencari perhatian?”
Orang Besar Tidak Selalu Ramai Dibicarakan
Banyak manusia besar yang hidup dalam kemudahan.
Mereka tidak viral.
Tidak dipuja media.
Tetapi diam-diam menjadi cahaya bagi sekitarnya.
Ada orang yang:
• mengajar anak-anak miskin,
• membangun masjid,
• membantu tetangga,
• menjaga orang tua,
• menggetarkan ilmu,
• dan memperbaiki masyarakat.
Mungkin namanya tidak dikenal dunia.
Tetapi namanya dikenal di langit.
Dan itu jauh lebih mulia.
Penyakit Zaman: Ingin Cepat Terkenal, Enggan Proses Panjang
Banyak anak muda hari ini ingin:
Semoga sukses,
• cepat terkenal,
• cepat kaya,
• dan cepat viral.
Tetapi sedikit yang mau:
• belajar lama,
• berjuang,
• bersabar,
• dan memperbaiki kualitas diri.
Padahal pohon besar tidak tumbuh dalam sehari.
Begitu pula manusia besar dibentuk oleh:
• proses,
• sabar,
• ilmu,
• kegagalan,
• dan ) panjang.
Jadilah Pemuda yang Bernilai, Bukan Sekadar Terlihat
Dunia hari ini penuh orang yang ingin terlihat hebat.
Tetapi masyarakat membutuhkan orang yang benar-benar memberi manfaat.
Jangan sibuk membangun citra, tetapi kosong karya.
Jangan sibuk mencari perhatian, tetapi kehilangan arah hidup.
Bangunlah:
• ilmu,
• akhlak,
• spiritualitas,
• karya,
• dan kontribusi nyata.
Karena manusia yang bermanfaat akan tetap dikenang meski tidak viral.
Penutup: Jadilah Cahaya, Meski Tidak Disorot Dunia
Tidak semua cahaya tampil di panggung besar.
Ada cahaya yang diam-diam mencapai kehidupan banyak orang.
Dan itulah manfaatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jangan terlalu sibuk mengejar popularitas.
Kejarlah keberkahan.
Jangan terlalu haus dikenal manusia.
Berjuanglah agar dikenal Allah sebagai hamba yang bermanfaat.
Karena pada akhirnya,
yang membuat hidup mulia bukan seberapa viralnya kita di dunia,
tetapi seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan setelah tiada.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (9 Mei 2026, Montana Hotel Senggigi Lombok Barat, NTB)