Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kenaikan Dolar Sangat Berdampak Terhadap Rakyat Kecil

Minggu, 17 Mei 2026 | 16:36 WIB Last Updated 2026-05-17T09:36:57Z

TintaSiyasi.id -- Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus mengalami pelemahan hingga menyentuh Rp17.600. Jumat (15/5/2026), Direktur Siyasah Institute Ustaz Iwan Januar mengatakan, kenaikan dolar sangat berdampak terhadap rakyat kecil.

"Jadi kata siapa bahwa kenaikan dolar itu enggak berdampak buat kita rakyat kecil? Ini berdampak banget!" Ungkapnya di akun TikTok iwanjanuar, Kamis (14/6/2026).

Hari ini dolar nyaris tembus 18.000 per US dolar, artinya bahwa dulu yang barang bisa dibeli dengan 1 dolar hanya 14.000, sekarang harus dibayar dengan angka hampir 18.000. Artinya ada nilai yang turun dan ada harga barang yang naik yang harus dibayarkan, dan ngerinya Indonesia ini banyak mengandalkan barang impor.

Ia mencontohkan, kacang kedelai impor yakni sebagai bahan baku tahu dan tempe, BBM, gandum, barang-barang elektronik. Banyak barang-barang baik itu bahan baku maupun bahan jadi yang ternyata impor dari luar negeri dan semua harus dibayar dengan dolar.

"Yang paling mengerikan utang Indonesia pun harus dibayar dengan dolar. Dan hari ini utang Indonesia hampir tembus 10.000 triliun rupiah dan karena dibayar dengan dolar maka otomatis pembayarannya pun dalam APBN kembali bertambah. Hampir 37 persen APBN Indonesia habis dipakai untuk membayar utang luar negeri bunga dengan pokok cicilan,” terangnya. 

Sehingga, ia mengartikan bahwa anggaran belanja negara untuk kepentingan rakyat seperti pembangunan itu akan berkurang, karena sebagian besar harus dibayar untuk membayar bunga utang dan pokok utang yang semua di dalam dolar.

Ia menjelaskan alasan negeri ini terpuruk yakni Indonesia mengandalkan utang luar negeri yang semua dibayar dengan dolar. Kemudian banyak mengandalkan impor yang mesti dibayar dengan dolar, dan Indonesia hanya bergantung kepada mata uang dolar. 

"Dan semua bukan kebetulan tetapi ada desain yang dibuat oleh negara-negara besar untuk terus melemahkan negara-negara dunia ketiga negara berkembang agar mereka terperangkap dalam jerat utang dan terperangkap dengan permainan dolar yang dibuat oleh Amerika Serikat," ungkapnya. 

Ia memberikan saran bahwa sebagai bangsa yang besar apalagi umat muslim ada 50 negara, jumlah umatnya hampir 2 miliar harusnya melakukan beberapa langkah. 

Pertama, membangun kemandirian. "Kaum muslimin termasuk Indonesia harus menjadi negara yang mandiri dengan sumber daya alam yang luar biasa mestinya kita bisa memilih tidak mengandalkan impor dari luar negeri," ungkapnya. 

Kedua, negeri muslim harus punya mata uang yang kuat. "Sebetulnya Islam sudah mengajarkan dan sudah memiliki sistem mata uang yang kuat yaitu adalah dinar dan dirham, mata uang yang berbasis emas dan perak yang nilainya relatif stabil kuat dan tidak bisa dipermainkan oleh bangsa lain," paparnya. 

"Kalau kita kembali kaum muslimin kepada ekonomi yang mandiri yang dibangun dengan syariat Islam menggunakan mata uang dinar dan dirham, maka kita akan menjadi sebuah negara yang kuat dan umat Islam menjadi umat yang kuat pula, bukan umat yang bergantung kepada mata uang asing dan apalagi bergantung kepada utang luar negeri dan bergantung kepada produk impor yang semua menjadi alat penjajahan di tanah air," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update