Tintasiyasi.id.com -- Kadang yang bikin miris di zaman sekarang itu bukan cuma harga kebutuhan pokok yang makin bikin dompet megap-megap, tapi juga tontonan anak-anak yang makin susah dibedakan antara hiburan dan ancaman.
Dulu anak kecil kalau main paling mentok lompat tali, petak umpet, atau balapan layangan. Sekarang?
Mainnya sambil pegang HP, nonton konten viral, lalu meniru adegan ekstrem tanpa paham risikonya.
Dan yang lebih menyedihkan, kadang nyawa jadi taruhannya.
Baru-baru ini publik dikejutkan dengan kabar dari YouTube tribbunlombok.com (8/5/2026) dua anak di Lombok Timur, satu usia TK dan satu lagi usia SD, meninggal dunia setelah diduga meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan game online.
Aksi tersebut diduga terinspirasi dari game populer Garena Free Fire yang menampilkan berbagai gerakan ekstrem dan penuh sensasi.
Pada saat kejadian anak tersebut sudah mendapatkan pertolongan medis dan telah dilakukan tindakan operasi di kepala tapi tidak terselamatkan saat dilakukan operasi di kepala yang kedua.
Anak-anak itu mungkin tidak sedang berniat mencelakakan diri. Mereka hanya menganggap itu keren. Menganggap itu seru. Menganggap itu permainan biasa.
Tapi justru di situlah masalah besarnya. Anak kecil belum punya kemampuan berpikir matang sebagaimana orang dewasa. Mereka mudah meniru apa yang dilihat, apalagi jika tampilannya menarik, viral, dan dianggap hebat oleh lingkungan sekitar.
Kalau orang dewasa saja bisa kecanduan scroll media sosial sampai lupa waktu, apalagi anak-anak yang akalnya belum sempurna?
Maka tragedi ini sebenarnya bukan sekadar “kecelakaan biasa”. Ini alarm keras bahwa ada yang serius bermasalah dalam pola pendidikan generasi hari ini.
Ironisnya, setelah kejadian muncul, barulah ramai himbauan bermunculan. Kepolisian mengingatkan orang tua. Sekolah mulai waspada. Psikolog anak memberi edukasi. KPAI mengajak pengawasan penggunaan gadget.
Semua benar. Semua penting.
Tapi pertanyaannya,
"Kenapa sistemnya selalu bekerja setelah korban berjatuhan?"
Inilah problem besar kehidupan sekuler hari ini. Teknologi berkembang cepat, tapi perlindungan terhadap generasi berjalan lambat. Konten berbahaya berseliweran bebas, sementara orang tua sering dibiarkan berjuang sendirian menghadapi banjir digital. Anak-anak sekarang hidup di dunia yang bahkan orang dewasa kadang tak sanggup memfilternya.
Satu klik bisa membuka kekerasan.
Satu swipe bisa menampilkan adegan ekstrem.
Satu video viral bisa ditiru jutaan anak dalam hitungan jam.
Kenapa Generasi Makin Rapuh?
Padahal Islam sejak awal sudah memandang anak sebagai amanah besar yang wajib dijaga, bukan sekadar dibiarkan tumbuh sendiri bersama algoritma media sosial.
Rasulullah Saw bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan cuma cocok ditempel di poster parenting lucu-lucuan. Ini adalah peringatan serius bahwa orang tua punya tanggung jawab besar terhadap keselamatan anak, termasuk keselamatan pola pikir dan lingkungan mereka.
Dalam Islam, anak yang belum balig memang belum dibebani hukum syariat secara penuh karena akalnya belum sempurna. Maka tugas orang dewasa adalah membimbing, menjaga, dan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Bukan membiarkan HP menjadi “pengasuh utama”.
Hari ini banyak orang tua sebenarnya sayang anak. Sangat sayang bahkan. Tapi sayangnya kadang kalah oleh kesibukan, kelelahan, atau ketidaksiapan menghadapi era digital.
Akhirnya anak diberi gadget agar diam. Diberi kuota agar tidak rewel. Dibiarkan scrolling sendirian agar rumah tenang.
Padahal dunia digital tidak pernah benar-benar aman untuk anak tanpa pendampingan.
Yang lebih mengkhawatirkan, lingkungan sosial hari ini juga makin individualis. Dulu kalau anak bermain berlebihan, tetangga ikut menegur. Sekarang banyak orang takut dianggap ikut campur.
Akibatnya anak-anak bermain sendiri tanpa pengawasan yang memadai.
Inilah bukti bahwa pendidikan generasi tidak bisa dibebankan hanya kepada orang tua semata. Islam punya konsep pendidikan yang jauh lebih kokoh dan realistis.
Ada tiga pilar utama yang saling menguatkan;
Pertama, keluarga. Orang tua menjadi madrasah pertama yang menanamkan akidah, adab, dan pola pikir benar kepada anak.
Kedua, lingkungan masyarakat. Lingkungan harus ikut menjaga moral dan keselamatan generasi, bukan malah menjadi tempat normalisasi kerusakan.
Ketiga, negara. Negara wajib hadir melindungi rakyat dari informasi dan konten berbahaya yang merusak akal serta keselamatan anak-anak.
Sayangnya, dalam sistem kapitalisme hari ini, ukuran utama sering kali adalah keuntungan dan traffic. Selama konten menghasilkan viewers, klik, dan uang, maka akan terus diputar tanpa peduli dampaknya terhadap generasi.
Akhirnya anak-anak dijadikan pasar. Perhatian mereka diperebutkan. Psikologi mereka dimanfaatkan.Bahkan bahaya pun bisa dikemas menjadi hiburan.
Islam tidak membiarkan itu terjadi.
Negara dalam sistem Islam wajib menyaring informasi yang berbahaya bagi masyarakat, terutama anak-anak. Konten merusak tidak akan dibiarkan bebas hanya demi keuntungan industri digital.
Sebaliknya, negara akan memperbanyak konten edukatif, membangun sistem pendidikan berbasis akidah, serta menciptakan lingkungan sehat bagi tumbuh kembang generasi.
Karena tujuan pendidikan dalam Islam bukan sekadar mencetak anak “melek teknologi”, tapi membentuk manusia berkepribadian Islam, cerdas, beradab, dan paham mana yang bermanfaat serta mana yang membahayakan.
Allah SWT berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini bukan cuma bicara akhirat, tapi juga perintah menjaga keluarga dari segala jalan kerusakan sejak di dunia.
Maka tragedi freestyle yang merenggut nyawa anak-anak ini seharusnya menjadi renungan besar bersama.
Jangan sampai generasi kita lebih dekat dengan konten viral daripada nasihat orang tua.
Lebih hafal gerakan game daripada adab kehidupan. Lebih akrab dengan algoritma daripada tuntunan agama.
Sebab ketika pendidikan anak diserahkan kepada media sosial tanpa arah, maka yang tumbuh bukan generasi kuat, melainkan generasi yang mudah terseret arus apa pun yang sedang viral.
Lalu, ketika nyawa anak mulai melayang hanya demi meniru tontonan, itu bukan lagi sekadar tren. Itu tanda darurat peradaban.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)