Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ikhlas dalam Menuntut Ilmu

Kamis, 21 Mei 2026 | 11:18 WIB Last Updated 2026-05-21T05:16:05Z
Jalan Ruhani Menuju Cahaya Ilmu yang Membawa Keberkahan

TintaSiyasi.id -- Di tengah zaman yang dipenuhi ambisi duniawi, manusia sering menuntut ilmu demi popularitas, gelar, jabatan, pujian, atau keuntungan materi. Padahal para ulama salaf telah mengingatkan bahwa ilmu bukan sekedar alat untuk meninggikan diri, melainkan cahaya yang Allah titipkan kepada hati yang bersih.

Seorang ulama tabi'in agung, Ibrahim an-Nakha'i berkata:
“Siapa saja yang mencari ilmu karena mengharapkan ridha Allah, maka Allah akan mendatangkan sesuatu yang mencukupinya.”
Perkataan ini mengandung hikmah yang sangat dalam. Orang yang ikhlas dalam menuntut ilmu tidak akan pernah benar-benar miskin, karena Allah sendiri yang akan mencukupi kebutuhan hidupnya, menjaga kehormatannya, menenangkan hatinya, dan membuka jalan keberkahan baginya.

Hakikat Ikhlas dalam Menuntut Ilmu
Ikhlas berarti mencerahkan niat hanya untuk Allah semata. Menuntut ilmu bukan untuk dipuji sebagai orang alim, bukan agar dianggap hebat, bukan pula untuk mengalahkan orang lain dalam mengadakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridha Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan betapa berbahayanya ilmu tanpa keikhlasan. Ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah justru dapat menjadi sebab kehancuran apabila dicampuri riya', kesombongan, dan ambisi dunia.
Dalam perspektif sufistik, ilmu yang tidak dilandasi keikhlasan hanya akan berhenti masuk akal, namun tidak masuk ke dalam hati. Ia mungkin membuat seseorang pandai berbicara, namun tentu saja belum bisa membuatnya dekat dengan Allah.

Ilmu adalah Cahaya, dan Cahaya Tidak Diberikan kepada Hati yang Kotor
Para ulama berkata:
“Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”
Keikhlasan merupakan wadah bagi turunnya cahaya ilmu. Semakin bersih hati seseorang, semakin mudah ia memahami hikmah dan kebenaran.
Banyak orang belajar bertahun-tahun, tetapi tidak mendapatkan keberkahan ilmu. Mengapa? Karena ilmu hanya dijadikan alat duniawi. Hatinya sibuk mencari pengakuan manusia, bukan mencari wajah Allah.
Sebaliknya, ada orang yang ilmunya sedikit tetapi sangat bermanfaat. Ucapannya menenangkan, nasihatnya menyentuh hati, dan hidupnya penuh keberkahan. Itu karena ilmunya lahir dari hati yang ikhlas.

Tanda-Tanda Orang yang Ikhlas dalam Menuntut Ilmu
1. Semakin Berilmu, Semakin Tawadhu'
Orang yang ikhlas tidak merasa dirinya paling benar. Ia justru semakin sadar betapa luasnya ilmu Allah dan betapa sedikitnya ilmu yang dimilikinya.
Allah berfirman:
“Di atas setiap orang yang berilmu masih ada Yang Maha Mengetahui.”
(QS. Yusuf: 76)
2. Ilmunya Mengantarkan kepada Takwa
Ilmu sejati melahirkan rasa takut kepada Allah, bukan imajinasi intelektual.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fatir: 28)
3. Tidak Haus Pujian
Ia tetap semangat belajar walaupun tidak dikenal manusia. Karena tujuan utamanya bukanlah popularitas, melainkan ridha Allah.
4. Mengamalkan Ilmu
Ilmu bukan sekedar dihafal, namun diwujudkan dalam akhlak, ibadah, dan pengabdian kepada umat.

Keberkahan Ilmu bagi Orang yang Ikhlas
Orang yang ikhlas mungkin tidak selalu kaya secara materi, tetapi Allah akan menganugerahkan kecukupan batin. Hatinya tenang, hidupnya bermakna, dan ilmunya bermanfaat bagi banyak orang.
Inilah makna kata Ibrahim an-Nakha'i bahwa Allah akan “mendatangkan sesuatu yang mencukupinya.” Kadang-kadang kecukupan itu berupa rezeki, kesempatan, pertolongan, kemuliaan, atau ketenangan jiwa yang tidak dapat dibeli dengan harta.
Dalam sejarah Islam, banyak ulama besar yang hidup sederhana, tetapi namanya harum sepanjang zaman karena keikhlasan mereka. Mereka tidak mengejar dunia, namun dunia justru datang menghormati mereka.

Penyakit Penuntut Ilmu di Zaman Modern
Di era digital, tuntutan ilmu terkadang berubah menjadi ajang pencitraan. Media sosial membuat sebagian orang lebih sibuk melihat alim daripada benar-benar memperbaiki diri.
Ada yang belajar agar viral.
Ada yang berdakwah demi pengikut.
Ada yang menghafal dalil untuk memenangkan debat.
Padahal ilmu tanpa adab dan keikhlasan dapat menggugah hati.
Karena itu para ulama selalu menekankan pentingnya niat muhasabah. Sebelum belajar, bertanyalah kepada diri sendiri:
• Apakah saya belajar mendekat kepada Allah?
• Apakah ilmuku membuatku lebih rendah hati?
• Apakah saya ingin mengamalkan ilmu ini?
• Apakah saya mencari ridha Allah atau pengakuan manusia?
Muhasabah seperti ini akan menjaga hati tetap lurus di jalan ilmu.

Menuntut Ilmu sebagai Jalan Peradaban Islam
Umat ​​Islam tidak akan bangkit hanya dengan semangat tanpa ilmu. Tetapi ilmu yang membangun peradaban harus disertai iman, adab, dan keikhlasan.
Ilmu yang ikhlas akan melahirkan:
• ulama yang membimbing umat,
• guru yang mendidik dengan kasih sayang,
• pemimpin yang adil,
• keajaiban yang bertakwa,
• Generasi dan generasi yang memadukan kecerdasan intelektual dengan kejernihan ruhani.
Peradaban Islam pada mulanya berjaya bukan semata-mata karena kecanggihan ilmu pengetahuan, tetapi karena ilmu itu diarahkan untuk ibadah dan kemaslahatan manusia.

Penutup
Ikhlas adalah ruh dari ilmu. Tanpa ikhlas, ilmu menjadi beban. Dengan ikhlas, ilmu menjadi cahaya yang mengakhiri dunia dan akhirat.
Maka luruskan niat setiap kali membuka kitab, menghadiri majelis, membaca buku, atau mengajar manusia. Jangan hanya meminta ilmu yang banyak, tapi mintalah ilmu yang berkah dan dekatkan kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita mencetak ilmu yang ikhlas, rendah hati, dan diberi keberkahan dalam ilmu serta kehidupan. Aamiin.

Dr Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update