Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Haji Menyatukan Hati, Nasionalisme Memecah Negeri

Rabu, 27 Mei 2026 | 06:08 WIB Last Updated 2026-05-26T23:08:06Z

TintaSiyasi.id -- Tepat di Hari Raya Iduladha 1447 H, Jurnalis Joko Prasetyo menyampaikan bahwa umat Islam pada hakikatnya adalah satu tubuh, namun sistem politik modern menjadikannya terpecah dalam sekat-sekat negara-bangsa yang saling membatasi.

 

“Umat Islam pada hakikatnya adalah satu tubuh, namun sistem politik modern menjadikannya terpecah dalam sekat-sekat negara-bangsa yang saling membatasi,” lugasnya kepada TintaSiyasi.ID, Rabu (27/05/2026).

 

Padahal setiap tahun, lanjut pria yang akrab disapa Om Joy itu, ibadah haji memperlihatkan gambaran yang sangat jelas tentang kesatuan itu di hadapan mata: jutaan manusia berdiri di Arafah tanpa identitas nasional, tanpa simbol kelas, tanpa hierarki duniawi. “Yang tersisa hanya satu hal: ketaatan total kepada Allah dalam satu ritual yang sama,” ujarnya.

 

“Fenomena ini bukan sekadar pemandangan spiritual, tetapi bukti hidup bahwa kesatuan umat bukan utopia,” yakinnya.

 

“Jika kesatuan itu nyata dan terlihat begitu jelas di Arafah, mengapa di luar itu umat justru dipaksa tunduk pada fragmentasi politik modern yang memisahkan mereka dalam batas-batas negara bangsa?” ulasnya keheranan.

 

Kesatuan yang Nyata di Arafah

 

Di tanah suci, Om Joy menegaskan jika realitas itu tidak bisa disangkal. “Manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit berdiri dalam satu pakaian yang sama: ihram. Tidak ada simbol status, tidak ada kebanggaan nasional, tidak ada sekat sosial. Yang berlaku hanya satu ukuran: ketakwaan,” ungkapnya.

 

Lanjut dikatakan, di Arafah, tidak ada “bangsa besar” dan “bangsa kecil”. “Tidak ada rivalitas negara. Semua menghadap satu kiblat, mengikuti satu manasik, dalam satu kesadaran kolektif yang utuh. Inilah kesatuan yang lahir dari iman, bukan dari kontrak politik duniawi,” jelasnya.

 

Dari Kesatuan Iman ke Fragmentasi Digital

 

Joko menyebutkan, begitu meninggalkan Arafah, umat kembali masuk ke dalam struktur dunia modern yang berbeda.

 

“Bukan hanya sistem negara-bangsa, tetapi juga sistem media global, algoritma digital, dan arus informasi yang terus membentuk cara manusia berpikir dan memandang identitasnya,” urainya.

 

Di era AI dan media sosial, Joko menyebut jika manusia tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan dan politik, tetapi juga oleh algoritma yang bekerja membaca perilaku, membentuk preferensi, dan memperkuat polarisasi.

 

“Akibatnya, umat yang satu secara akidah perlahan terpecah ke dalam banyak identitas digital, banyak kepentingan politik, dan banyak ruang opini yang saling bertabrakan,” urainya.

 

“Algoritma media sosial cenderung memperkuat apa yang disukai pengguna. Semakin seseorang larut dalam identitas nasional, kelompok, atau fanatisme tertentu, semakin sistem digital mendorongnya masuk lebih dalam ke ruang gema (echo chamber) yang mempersempit cara pandangnya,” paparnya.

 

Lanjut dikatakan, di titik itulah teknologi tidak lagi netral. “AI dan algoritma perlahan menjadi bagian dari mesin yang ikut membentuk fragmentasi sosial dan politik umat manusia,” tandasnya.

 

“Maka tampaklah paradoks yang sulit diabaikan. Di Arafah: satu umat, satu arah. Di dunia digital modern: satu umat, tetapi terpecah dalam banyak identitas, banyak narasi, dan banyak pusat loyalitas,” sebutnya.

 

Haji sebagai Cermin, Khilafah sebagai Ikhtiar Kesatuan

 

“Haji bukan sekadar ritual tahunan. Namun cermin terbuka tentang bagaimana manusia bisa berdiri setara tanpa sekat nasionalisme, ras, dan kelas sosial,” tutur Om Joy.

 

Dalam sejarah Islam, ia menjelaskan bahwa kesatuan itu tidak hanya hadir dalam ritual ibadah, tetapi juga pernah diupayakan dalam ruang politik melalui institusi khilafah, sebagai kepemimpinan umum yang menyatukan umat dalam satu otoritas hukum dan arah kebijakan.

 

“Di titik ini, perbandingan menjadi jelas: seperti haji yang menyatukan umat dalam satu ibadah global tanpa sekat, demikian pula khilafah dipahami sebagai ikhtiar politik untuk menjaga kesatuan umat agar tidak terpecah oleh batas-batas nasionalisme modern,” paparnya.

 

Sebaliknya, Joko menyatakan, dunia modern justru bergerak ke arah yang berbeda. Nasionalisme memecah negeri-negeri Muslim ke dalam puluhan negara bangsa, sementara teknologi digital dan AI memperkuat fragmentasi itu melalui perang opini, polarisasi media sosial, dan pengelompokan identitas berbasis algoritma.

 

“Manusia dipetakan berdasarkan data. Preferensi politik dibaca. Emosi publik dianalisis. Bahkan opini dapat diarahkan melalui sistem digital yang bekerja tanpa henti,” imbuhnya.

 

“Akibatnya, umat tidak lagi bergerak sebagai satu tubuh, tetapi tercerai dalam banyak arah dan banyak pusat gravitasi politik,” masygulnya.

 

Dalil Kesatuan Umat

 

Joko menyebut, untuk menegaskan bahwa kesatuan itu bukan romantisme sejarah, Islam meletakkannya dalam fondasi wahyu yang sangat jelas.

 

Sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu, dan Aku Adalah Tuhan kalian, maka bertakwalah kepada-Ku,” nukilnya dari QS al-Anbiya ayat 92.

 

“Ayat ini bukan hanya seruan spiritual, tetapi penegasan arah hidup umat: satu akidah, satu orientasi pengabdian, dan satu kesadaran kolektif sebagai umat Islam,” ujarnya menjelaskan.

 

Ia menyatakan, haji menjadi manifestasi paling nyata dari kesatuan itu. “Sementara dalam sejarah, khilafah menjadi salah satu bentuk ikhtiar politik untuk menjaga agar kesatuan tersebut tidak dihancurkan oleh kepentingan-kepentingan yang saling bertabrakan,” urainya.

 

Cermin yang Tidak Boleh Diabaikan

 

Joko mengingatkan bahwa haji adalah cermin yang tidak boleh diabaikan. “Di Arafah, tampak jelas kemungkinan ideal: umat tanpa sekat duniawi. Dalam sejarah khilafah, terlihat upaya menjaga kesatuan itu dalam ruang politik. Namun dalam realitas modern, fragmentasi justru menjadi wajah dominan umat,” ulasnya.

 

“Dan di era AI, fragmentasi itu tidak hanya dipertahankan oleh sistem politik negara-bangsa, tetapi juga diperkuat oleh algoritma digital yang terus membelah manusia ke dalam kelompok-kelompok identitas, opini, dan loyalitas yang saling bertabrakan,” urainya.

 

Ujungnya, Om Joy menyebut bahwa pertanyaan itu tidak bisa lagi dihindari: “Jika di Arafah umat bisa satu tanpa nasionalisme, dan dalam sejarah pernah diupayakan kesatuan politik umat, mengapa hari ini umat justru semakin tercerai-berai di tengah sistem digital modern yang terus memperkuat perpecahan?”

 

Di titik itu, Om Joy menganalisis bahwa persoalan tidak lagi berhenti sebagai wacana sosial atau perdebatan politik, namun bergerak lebih dalam menuju urusan hisab di hadapan Allah, ketika seluruh manusia dikumpulkan dan setiap amal ditimbang tanpa menyisakan atribut duniawi apa pun.

 

“Tidak ada lagi bendera negara. Tidak ada lagi algoritma media sosial. Tidak ada lagi pencitraan digital. Yang tersisa hanyalah amal, iman, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.,” lugasnya.

 

Di penghujung semuanya, Joko menekankan bahwa yang menentukan bukan bagaimana dunia membagi umat ini, tetapi bagaimana umat ini mempertanggungjawabkan arah hidupnya di hadapan Allah kelak: menuju rahmat dan surga-Nya, atau menuju hisab yang berat dan ancaman neraka.

 

“Sebab itu, pertanyaan ini tidak lagi bisa diperlakukan sekadar opini: “Apakah arah hidup kolektif umat hari ini sedang bergerak menuju kesatuan yang diridhai Allah, atau justru semakin tenggelam dalam sekat-sekat dunia modern yang terus diperkuat oleh nasionalisme dan algoritma digital?” pungkasnya.[] Rere


 


Opini

×
Berita Terbaru Update