“Umat Islam pada hakikatnya adalah
satu tubuh, namun sistem politik modern menjadikannya terpecah dalam
sekat-sekat negara-bangsa yang saling membatasi,” lugasnya kepada TintaSiyasi.ID,
Rabu (27/05/2026).
Padahal setiap tahun, lanjut pria yang
akrab disapa Om Joy itu, ibadah haji memperlihatkan gambaran yang sangat jelas
tentang kesatuan itu di hadapan mata: jutaan manusia berdiri di Arafah tanpa
identitas nasional, tanpa simbol kelas, tanpa hierarki duniawi. “Yang tersisa
hanya satu hal: ketaatan total kepada Allah dalam satu ritual yang sama,”
ujarnya.
“Fenomena ini bukan sekadar
pemandangan spiritual, tetapi bukti hidup bahwa kesatuan umat bukan utopia,”
yakinnya.
“Jika kesatuan itu nyata dan terlihat
begitu jelas di Arafah, mengapa di luar itu umat justru dipaksa tunduk pada
fragmentasi politik modern yang memisahkan mereka dalam batas-batas negara
bangsa?” ulasnya keheranan.
Kesatuan yang Nyata di Arafah
Di tanah suci, Om Joy menegaskan jika realitas
itu tidak bisa disangkal. “Manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna
kulit berdiri dalam satu pakaian yang sama: ihram. Tidak ada simbol status,
tidak ada kebanggaan nasional, tidak ada sekat sosial. Yang berlaku hanya satu
ukuran: ketakwaan,” ungkapnya.
Lanjut dikatakan, di Arafah, tidak ada
“bangsa besar” dan “bangsa kecil”. “Tidak ada rivalitas negara. Semua menghadap
satu kiblat, mengikuti satu manasik, dalam satu kesadaran kolektif yang utuh.
Inilah kesatuan yang lahir dari iman, bukan dari kontrak politik duniawi,”
jelasnya.
Dari Kesatuan Iman ke Fragmentasi
Digital
Joko menyebutkan, begitu meninggalkan
Arafah, umat kembali masuk ke dalam struktur dunia modern yang berbeda.
“Bukan hanya sistem negara-bangsa,
tetapi juga sistem media global, algoritma digital, dan arus informasi yang
terus membentuk cara manusia berpikir dan memandang identitasnya,” urainya.
Di era AI dan media sosial, Joko menyebut
jika manusia tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan dan politik, tetapi juga
oleh algoritma yang bekerja membaca perilaku, membentuk preferensi, dan
memperkuat polarisasi.
“Akibatnya, umat yang satu secara
akidah perlahan terpecah ke dalam banyak identitas digital, banyak kepentingan
politik, dan banyak ruang opini yang saling bertabrakan,” urainya.
“Algoritma media sosial cenderung
memperkuat apa yang disukai pengguna. Semakin seseorang larut dalam identitas
nasional, kelompok, atau fanatisme tertentu, semakin sistem digital
mendorongnya masuk lebih dalam ke ruang gema (echo chamber) yang
mempersempit cara pandangnya,” paparnya.
Lanjut dikatakan, di titik itulah
teknologi tidak lagi netral. “AI dan algoritma perlahan menjadi bagian dari
mesin yang ikut membentuk fragmentasi sosial dan politik umat manusia,”
tandasnya.
“Maka tampaklah paradoks yang sulit
diabaikan. Di Arafah: satu umat, satu arah. Di dunia digital modern: satu umat,
tetapi terpecah dalam banyak identitas, banyak narasi, dan banyak pusat
loyalitas,” sebutnya.
Haji sebagai Cermin, Khilafah sebagai
Ikhtiar Kesatuan
“Haji bukan sekadar ritual tahunan.
Namun cermin terbuka tentang bagaimana manusia bisa berdiri setara tanpa sekat
nasionalisme, ras, dan kelas sosial,” tutur Om Joy.
Dalam sejarah Islam, ia menjelaskan bahwa
kesatuan itu tidak hanya hadir dalam ritual ibadah, tetapi juga pernah
diupayakan dalam ruang politik melalui institusi khilafah, sebagai kepemimpinan
umum yang menyatukan umat dalam satu otoritas hukum dan arah kebijakan.
“Di titik ini, perbandingan menjadi
jelas: seperti haji yang menyatukan umat dalam satu ibadah global tanpa sekat,
demikian pula khilafah dipahami sebagai ikhtiar politik untuk menjaga kesatuan
umat agar tidak terpecah oleh batas-batas nasionalisme modern,” paparnya.
Sebaliknya, Joko menyatakan, dunia
modern justru bergerak ke arah yang berbeda. Nasionalisme memecah negeri-negeri
Muslim ke dalam puluhan negara bangsa, sementara teknologi digital dan AI
memperkuat fragmentasi itu melalui perang opini, polarisasi media sosial, dan
pengelompokan identitas berbasis algoritma.
“Manusia dipetakan berdasarkan data.
Preferensi politik dibaca. Emosi publik dianalisis. Bahkan opini dapat
diarahkan melalui sistem digital yang bekerja tanpa henti,” imbuhnya.
“Akibatnya, umat tidak lagi bergerak
sebagai satu tubuh, tetapi tercerai dalam banyak arah dan banyak pusat
gravitasi politik,” masygulnya.
Dalil Kesatuan Umat
Joko menyebut, untuk menegaskan bahwa
kesatuan itu bukan romantisme sejarah, Islam meletakkannya dalam fondasi wahyu
yang sangat jelas.
“Sesungguhnya umat ini adalah umat
yang satu, dan Aku Adalah Tuhan kalian, maka bertakwalah kepada-Ku,”
nukilnya dari QS al-Anbiya ayat 92.
“Ayat ini bukan hanya seruan
spiritual, tetapi penegasan arah hidup umat: satu akidah, satu orientasi
pengabdian, dan satu kesadaran kolektif sebagai umat Islam,” ujarnya
menjelaskan.
Ia menyatakan, haji menjadi
manifestasi paling nyata dari kesatuan itu. “Sementara dalam sejarah, khilafah
menjadi salah satu bentuk ikhtiar politik untuk menjaga agar kesatuan tersebut
tidak dihancurkan oleh kepentingan-kepentingan yang saling bertabrakan,” urainya.
Cermin yang Tidak Boleh Diabaikan
Joko mengingatkan bahwa haji adalah
cermin yang tidak boleh diabaikan. “Di Arafah, tampak jelas kemungkinan ideal:
umat tanpa sekat duniawi. Dalam sejarah khilafah, terlihat upaya menjaga
kesatuan itu dalam ruang politik. Namun dalam realitas modern, fragmentasi
justru menjadi wajah dominan umat,” ulasnya.
“Dan di era AI, fragmentasi itu tidak
hanya dipertahankan oleh sistem politik negara-bangsa, tetapi juga diperkuat
oleh algoritma digital yang terus membelah manusia ke dalam kelompok-kelompok
identitas, opini, dan loyalitas yang saling bertabrakan,” urainya.
Ujungnya, Om Joy menyebut bahwa pertanyaan
itu tidak bisa lagi dihindari: “Jika di Arafah umat bisa satu tanpa
nasionalisme, dan dalam sejarah pernah diupayakan kesatuan politik umat,
mengapa hari ini umat justru semakin tercerai-berai di tengah sistem digital
modern yang terus memperkuat perpecahan?”
Di titik itu, Om Joy menganalisis bahwa
persoalan tidak lagi berhenti sebagai wacana sosial atau perdebatan politik, namun
bergerak lebih dalam menuju urusan hisab di hadapan Allah, ketika seluruh
manusia dikumpulkan dan setiap amal ditimbang tanpa menyisakan atribut duniawi
apa pun.
“Tidak ada lagi bendera negara. Tidak
ada lagi algoritma media sosial. Tidak ada lagi pencitraan digital. Yang
tersisa hanyalah amal, iman, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.,”
lugasnya.
Di penghujung semuanya, Joko
menekankan bahwa yang menentukan bukan bagaimana dunia membagi umat ini, tetapi
bagaimana umat ini mempertanggungjawabkan arah hidupnya di hadapan Allah kelak:
menuju rahmat dan surga-Nya, atau menuju hisab yang berat dan ancaman neraka.
“Sebab itu, pertanyaan ini tidak lagi
bisa diperlakukan sekadar opini: “Apakah arah hidup kolektif umat hari ini
sedang bergerak menuju kesatuan yang diridhai Allah, atau justru semakin
tenggelam dalam sekat-sekat dunia modern yang terus diperkuat oleh nasionalisme
dan algoritma digital?” pungkasnya.[] Rere