Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Guru Dilecehkan, Dampak Sistem Pendidikan Sekuler

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:51 WIB Last Updated 2026-05-05T04:51:42Z

Tintasiyasi.id.com -- Beberapa waktu lalu telah terjadi pelecehan terhadap Guru di SMAN 1 Purwakarta. Syamsiah, guru yang mengajar mata pelajaran PKN di sekolah tersebut menjadi korban atas muridnya yang melibatkan sebanyak sembilan siswa. 

Ibu Syamsiah diketahui telah mengabdi di SMAN 1 Purwakarta sejak 2003, tetapi baru kali ini ia mengalami peristiwa seperti ini. Namun, hal tersebut tidak mengubah komitmennya dalam mendidik generasi. 

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan reaksi terhadap kejadian tersebut. Ia mengaku prihatin dan telah menerima laporan lengkap dari Dinas Pendidikan terkait insiden itu. 

Dedi menuturkan, pihak sekolah telah mengambil langkah awal dengan menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat. Selama masa tersebut, siswa diminta menjalani pembinaan di rumah (detik.com, 18/04/26).

Peristiwa pelecehan di dunia pendidikan kini kembali viral di media sosial yang memperlihatkan sejumlah siswa bersikap tidak pantas terhadap gurunya di dalam kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah kepada guru tersebut yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati. 

Tidak bisa dipungkiri, perkembangan karakter anak saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni tidak hanya di sekolah, tetapi juga keluarga, lingkungan dan kemajuan teknologi yang semakin canggih serta dapat diakses dengan cepat oleh penggunanya. 

Pelecehan guru di Purwakarta sebagai cerminan krisis moral akibat sistem sekuler liberal dalam pendidikan yang mengabaikan adab kepada guru. Seharusnya guru yang menjadi panutan untuk dicontoh kepada siswa, justru saat ini siswa yang melecehkan gurunya sendiri.

Seringkali tindakan tersebut dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial, sebab siswa lebih mengedepankan viralitas dan gaya-gayaan dimata temannya daripada menjaga martabat guru serta menjadi versi terbaik dan pintar di mata temannya. Kejadian seperti ini sebagai bukti lemahnya wibawa guru karena murid merasa berani melakukan hal seperti itu. 

Berbeda dengan aturan Islam. Kurikulum pendidikan dibuat berdasarkan akidah Islam untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat agar menjadi generasi yang unggul. 

Akidah Islam sebagai pondasi awal untuk menguatkan keimanan seseorang agar tetap istiqomah dalam jalan kebaikan. Selain itu, Negara juga harus menyaring konten digital yang merusak moral, seperti tayangan yang mencontohkan pelecehan atau kekerasan yang sangat mudah ditonton dari kalangan anak-anak sampai dewasa. 

Di dalam Islam, sosok seorang guru adalah yang paling mulia dan berhak mendapatkan penghargaan tinggi, serta penghidupan yang layak dari Negara, sehingga wibawa mereka tetap terjaga di mata murid dan masyarakat. 

Sedemikian detailnya Islam memperlakukan seorang guru dalam kehidupan sehari-hari agar tetap bisa memberikan pembelajaran kepada generasi saat ini. 

Penerapan sistem Islam dalam masalah seperti ini sangat dibutuhkan, agar nantinya khalifah dapat bersikap tegas memberikan sanksi terhadap pelaku sesuai syariat, sehingga memberikan efek jera. Sekaligus menjadikan penebus dosa bagi pelaku dan pencegah bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa lagi. 

Sesuai firman Allah SWT:

“Dan sesungguhnya kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarnu dan kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” (Q.S Al-Ahqaf: 27) 

Oleh karena itu, jika sistem Islam diterapkan dan negara dipimpin oleh seorang Khalifah, negeri ini akan diatur sesuai dengan syariat Islam, yang dimana semua permasalahan akan mendapatkan solusi yang tepat untuk menyelesaikannya dan memberikan efek jera terhadap pelaku yang melakukan kejahatan. Dengan demikian, kejadian serupa tidak akan terulang lagi. Wallahu a’lam bishshowwab.[]

Oleh: Kamelia Agustina
(Muslimah Peduli Generasi) 

Opini

×
Berita Terbaru Update