TintaSiyasi.id -- Di tengah derasnya arus teknologi, media sosial, hiburan digital, dan budaya instan, lahirlah satu istilah yang sangat populer di kalangan anak muda: “generasi rebahan.” Istilah ini awalnya terdengar lucu, ringan, bahkan menghibur. Namun jika direnungkan lebih dalam, ia sesungguhnya adalah alarm sosial dan spiritual yang sangat serius.
Hari ini, banyak anak muda menghabiskan berjam-jam waktunya hanya untuk menggulir layar tanpa arah, tenggelam dalam hiburan yang tidak berujung, hidup tanpa visi, tanpa target, tanpa misi besar. Energi muda yang seharusnya menjadi bahan bakar perubahan justru habis untuk kesia-siaan.
Padahal sejarah membuktikan:
perubahan besar di dunia hampir selalu lahir dari tangan para pemuda.
Pemuda: Energi Besar Peradaban
Dalam setiap fase kebangkitan umat manusia, pemuda selalu menjadi motor penggeraknya. Pemuda memiliki:
• keberanian,
• idealisme,
• semangat,
• daya juang,
• kreativitas,
• dan kemampuan menghadapi tantangan.
Karena itulah Islam memberi perhatian besar kepada generasi muda.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”
(QS. Al-Kahfi: 13)
Perhatikan, Ashabul Kahfi disebut sebagai fityah (para pemuda). Mereka bukan generasi yang larut dalam kenyamanan zaman. Mereka adalah generasi yang berani melawan arus kerusakan.
Begitu pula Rasulullah ﷺ ketika memulai dakwahnya. Yang pertama menyambut risalah Islam mayoritas adalah anak-anak muda:
• Ali bin Abi Thalib,
• Zubair bin Awwam,
• Mus'ab bin Umair,
• Usamah bin Zaid.
Mereka tidak hidup untuk sekadar bersenang-senang. Mereka hidup membawa misi.
Budaya Rebahan: Ketika Hiburan Menjadi Penjara
Rebahan secara fisik mungkin bukan masalah. Setiap manusia butuh istirahat. Tetapi yang berbahaya adalah ketika “rebahan” berubah menjadi:
• gaya hidup,
• pola pikir,
• dan identitas generasi.
Hari ini banyak orang:
• sulit fokus,
• malas belajar,
• kehilangan semangat membaca,
• enggan berpikir mendalam,
• cepat bosan,
• ingin hasil instan,
• dan lebih suka hiburan dibanding perjuangan.
Media sosial yang awalnya alat komunikasi berubah menjadi mesin candu perhatian. Banyak pemuda lebih sibuk mengejar:
• viralitas,
• validasi,
• dan popularitas,
daripada kualitas diri dan kontribusi nyata.
Waktu berjam-jam habis untuk:
• video pendek,
• scroll tanpa arah,
• drama digital,
• debat kosong,
• dan hiburan yang melelahkan jiwa.
Ironisnya, tubuh mungkin rebah di kasur, tetapi pikiran juga ikut tertidur.
Krisis Terbesar: Hilangnya Makna Hidup.
Sesungguhnya masalah terbesar generasi muda hari ini bukan sekadar kemiskinan materi, tetapi kemiskinan makna hidup.
Banyak anak muda:
• tidak tahu tujuan hidupnya,
• tidak punya visi perjuangan,
• tidak memiliki arah,
• dan kehilangan alasan mengapa mereka harus bangkit.
Akibatnya hidup terasa hampa.
Mereka mencari pelarian:
• lewat hiburan,
• game,
• tontonan,
• pergaulan,
• bahkan sebagian terjerumus pada maksiat dan keputusasaan.
Padahal hati manusia tidak akan tenang tanpa kedekatan kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketika ruhani kosong, maka hiburan dijadikan pengganti ketenangan. Namun hiburan tidak pernah mampu mengisi kehampaan jiwa.
Generasi Perubahan Selalu Lahir dari Kesadaran
Perubahan tidak pernah lahir dari kemalasan.
Peradaban tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya menjadi penonton kehidupan.
Dunia berubah karena adanya manusia-manusia yang:
• mau belajar,
• mau berjuang,
• mau berpikir,
• mau berkorban,
• dan mau bangkit meski berkali-kali jatuh.
Lihatlah para ulama besar Islam:
• Imam Syafi'i belajar dalam kemiskinan tetapi menjadi lautan ilmu.
• Imam Al-Ghazali menghabiskan hidupnya mencari hakikat dan membangun peradaban ilmu.
• Shalahuddin Al-Ayyubi sejak muda ditempa dengan ilmu dan jihad hingga membebaskan Al-Quds.
Mereka tidak hidup dalam budaya santai tanpa arah.
Musuh Terbesar Pemuda Adalah Kemalasan yang Dibungkus Kenyamanan
Syaitan tidak selalu menyesatkan manusia dengan kemaksiatan besar. Kadang ia cukup membuat seseorang:
• menunda,
• bermalas-malasan,
• sibuk pada hal remeh,
• dan lupa pada tujuan hidupnya.
Sedikit demi sedikit umur habis.
Hari berganti tanpa makna.
Tahun berlalu tanpa karya.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Betapa banyak pemuda yang sehat fisiknya tetapi mati semangatnya.
Umat Ini Tidak Membutuhkan Pemuda yang Hanya Pandai Mengeluh
Umat membutuhkan:
• pemuda yang berpikir,
• pemuda yang membaca,
• pemuda yang berkarya,
• pemuda yang berakhlak,
• pemuda yang tangguh,
• dan pemuda yang membawa solusi.
Hari ini dunia dipenuhi krisis:
• krisis moral,
• krisis keluarga,
• krisis pendidikan,
• krisis ekonomi,
• krisis kepemimpinan,
• dan krisis spiritual.
Siapa yang akan memperbaikinya jika generasi mudanya sibuk tidur dalam kelalaian?
Bangkitlah, Karena Masa Muda Tidak Akan Kembali
Masa muda adalah musim emas kehidupan.
Jika ia berlalu, ia tidak akan pernah kembali.
Karena itu jangan habiskan usia muda hanya untuk:
• hiburan tanpa batas,
• kemalasan,
• dan kesia-siaan.
Gunakan masa muda untuk:
• belajar,
• membaca,
• memperbaiki diri,
• berdakwah,
• membangun karya,
• membantu umat,
• dan mendekat kepada Allah.
Mulailah dari hal kecil:
• bangun disiplin,
• kurangi candu media sosial,
• baca buku setiap hari,
• perbanyak ilmu,
• jaga shalat,
• pilih lingkungan baik,
• dan buat target hidup yang mulia.
Penutup: Jadilah Generasi Perubahan
Sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling lama rebahan.
Tetapi sejarah akan mencatat siapa yang berjuang membawa perubahan.
Kelak di hadapan Allah, masa muda akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan… dan tentang masa mudanya untuk apa digunakan.”
(HR. Tirmidzi)
Maka pilihlah:
apakah ingin menjadi generasi yang tenggelam dalam kenyamanan semu,
atau generasi yang bangkit membawa cahaya perubahan?
Karena dunia tidak berubah oleh mereka yang hanya rebahan.
Dunia berubah oleh mereka yang bergerak.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo, 9 Mei 2026 Aruna Senggigi Resort Beach & Convention, Lombok Barat NTB)