Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Daycare Tidak Ramah Anak, Efek Sistem Sekuler

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:04 WIB Last Updated 2026-05-10T03:04:45Z

TintaSiyasi.id -- Kekerasan terhadap anak di tempat penitipan anak (daycare) kembali terulang. Little Aresha, penitipan anak di Yogyakarta diduga melakukan tindak kekerasan secara terstruktur dan sudah berlangsung lama. Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Yogyakarta Inspektur Dua Apri Sawitri menyatakan, pihaknya telah menyelidiki orang tua korban, dari 125 anak yang diselidiki, ada yang luka-luka, mengalami penurunan berat badan, 13 anak mengalami gangguan perkembangan, bahkan ada 17 anak yang kurang gizi (tempo.co, 4/5/2026). Polisi telah menetapkan 13 tersangka, termasuk kepala sekolah dan ketua yayasan. Tersangka dijerat UU Perlindungan Anak serta ketentuan KUHP baru, dengan ancaman hingga delapan tahun penjara.

 Efek Sekulerisme

Daycare tumbuh subur dalam sistem sekuler kapitalisme. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan aturan manusia sebagai nilai tertinggi. Standar kebahagiaan adalah ketika mendapatkan materi dan kepuasan jasmani sebanyak-banyaknya. Sementara standar perbuatan adalah asas manfaat.

Kapitalisme gagal mewujudkan kesejahteraan, menyebabkan para wanita menjadi bamper ekonomi. Banyak kaum ibu yang ditarik keluar rumah untuk bekerja menjadi tulang punggung keluarga, sehingga tugas mengasuh anak dialihkan ke pembantu, tidak sedikit yang menitipkan anaknya di daycare. Tekanan hidup yang kian berat, sehingga kaum ibu terpaksa bekerja karena gaji suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Gaya hidup materialisme menyebabkan wanita berkarir di luar rumah untuk eksistensi diri, wanita dianggap berdaya bila menduduki jabatan dengan penghasilan besar. Ibu rumah tangga dianggap profesi yang tidak berharga. Wanita berlomba mengejar karir di luar rumah, ditambah dengan industri lebih suka memilih tenaga kerja wanita, disamping upah yang lebih murah juga lebih teliti.

Kaum ibu, yang tugas utamanya merawat dan mengasuh anak, bertambah tugasnya mencari penghasilan diluar rumah. Anak yang seharusnya tumbuh dalam dekapan dan kasih sayang ibu, diserahkan pada orang lain. Sementara pengasuh diday care kurang dipersiapkan menjadi pengasuh anak.

 Daycare Little Aresha menerima anak melebihi kapasitas yang seharusnya. Ironisnya, tindak kekerasan juga diketahui ketua yayasan. Indikasi bahwa daycare ini hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya tanpa merasa berdosa ketika memperlakukan anak dengan tidak manusiawi, bahkan ada anak yang kurang gizi. Tabiat alami sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada materi.

Inilah efek penerapan sistem sekuler. Kekerasan pada anak hanyalah efek sebagian kecil ketika ibu-ibunya berlomba berkarir diluar rumah. Masih banyak efek lain seperti meningkatkan pengangguran laki-laki yang seharusnya wajib bekerja, banyak anak yang kehilangan kasih sayang ibu, besar diasuh oleh orang lain bahkan gadget. Kondisi yang akan menyebabkan penyakit sosial lainnya.

 Islam Melindungi Anak

Kekerasan anak ditempat penitipan anak tidak akan terjadi bila diatur dengan sistem Islam. Islam memiliki seperangkat aturan yang mampu menyejahterahkan dan melindungi manusia.

Khalifah adalah ra'in sebagaimana sabda Nabi saw, "Imam atau khalifah adalah ra'in dan ia bertanggungjawab atas rakyatnya" ( HR Bukhari dan Muslim).

Sistem ekonomi Islam mampu mewujudkan kesejahteraan dengan mengelola kepemilikan umum berbasis baitul mal. Negara menjamin kebutuhan pokok individu rakyat dengan mekanisme berlapis. Laki-laki wajib bekerja untuk menafkahi orang yang berada dalam tanggungannya. Negara wajib menyediakan lapangan kerja baik dengan mekanisme langsung maupun tidak langsung. Jika dia tidak mampu, maka ada kerabat jalur nafkah yang wajib membantu. Lapis berikutnya adalah masyarakat yang peduli untuk membantu orang lain. Jika belum terpenuhi maka kewajiban berpindah pada negara, santunan dari baitul mal. 

Negara juga berkewajiban menjamin kebutuhan pokok komunal seperti pendidikan, kesehatan, keamanan. Layanan dasar masyarakat yang harus dijamin negara, sehingga beban hidup rakyat ringan. 

Tugas wanita adalah sebagai ummu warabatul bayt, yakni sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Tugas wanita sungguh sangat mulia yakni mempersiapkan generasi penerus dan penjaga peradaban Islam. Anak-anak tumbuh besar dalam dekapan dan kasih sayang ibunya. Ibu juga berkewajiban mendidik anak, sehingga terbentuk kepribadian Islam.

Wanita boleh bekerja ketika tugas utamanya dirumah sudah terlaksana dengan baik. Dan ketika wanita keluar rumah demi kemaslahatan umat bukan demi mengejar materi dan eksistensi diri.

Islam juga memiliki sistem sanksi yang tegas dan menjerakan. Penerapan Islam dalam bingkai khilafah menjamin adanya lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak sehingga lahir generasi penerus peradaban Islam.

Wallahu a'lam

Oleh: Ida Nurchayati
Pemerhati Sosial

Opini

×
Berita Terbaru Update