Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Darah Palestina Menuntut Persatuan Umat

Senin, 18 Mei 2026 | 05:49 WIB Last Updated 2026-05-17T22:49:33Z

TintaSiyasi.id -- Tragedi kemanusiaan di Palestina terus menunjukkan wajah paling kelam dari penjajahan modern. Dunia menyaksikan bagaimana rakyat Gaza hidup di bawah hujan bom, kelaparan, ketakutan, dan kehilangan tanpa henti. Namun yang terjadi hari ini bukan sekadar perang biasa, melainkan dehumanisasi sistematis terhadap manusia Palestina.

Dehumanisasi itu tidak hanya menimpa mereka yang masih hidup, tetapi juga mereka yang telah meninggal dunia. Warga sipil dibunuh tanpa pandang usia, termasuk perempuan dan anak-anak. Bahkan jenazah warga Palestina pun tidak dibiarkan beristirahat dengan layak di tanah kelahirannya sendiri. Kuburan dibongkar, jasad dipindahkan, dan kehormatan manusia diinjak-injak tanpa rasa kemanusiaan.

Pendudukan Zionis di Palestina juga terus meluas. Serangan demi serangan dilakukan untuk memperbesar wilayah kekuasaan mereka di Gaza dan wilayah Palestina lainnya. Di tengah berbagai seruan gencatan senjata, agresi militer justru semakin brutal dan menunjukkan bahwa penjajahan belum memiliki niat untuk berhenti.

Korban jiwa terus bertambah dalam angka yang mengerikan. Sejak 7 Oktober 2023, puluhan ribu warga Gaza dilaporkan tewas dan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka. Korban terbesar tetap berasal dari masyarakat sipil yang tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari bombardir yang berlangsung terus-menerus.

Anak-anak Palestina menjadi kelompok yang paling menderita. Banyak dari mereka kehilangan orang tua, rumah, bahkan anggota tubuh akibat ledakan bom dan serangan militer. Tidak sedikit anak-anak Gaza yang harus menjalani amputasi di usia sangat muda karena fasilitas kesehatan lumpuh dan perang yang tak kunjung berhenti.

Tidak hanya warga sipil, para jurnalis pun menjadi sasaran kekerasan. Gaza kini disebut sebagai salah satu tempat paling mematikan bagi jurnalis di dunia. Ratusan jurnalis tewas sejak agresi berlangsung. Mereka dibunuh ketika berusaha menyampaikan fakta kepada dunia tentang apa yang sebenarnya terjadi di Palestina.

Pembunuhan terhadap jurnalis menunjukkan adanya upaya sistematis untuk membungkam informasi. Zionis memahami bahwa media dapat membuka mata dunia terhadap kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan. Karena itu, suara-suara yang mencoba mengungkap kebenaran justru dijadikan target serangan.

Fakta-fakta ini memperlihatkan bahwa yang terjadi di Palestina bukan sekadar konflik perebutan wilayah. Dunia sedang menyaksikan penghancuran kehidupan manusia secara sistematis. Ketika rumah sakit dihancurkan, kamp pengungsian dibom, anak-anak dibunuh, dan bantuan kemanusiaan dihalangi, maka yang berlangsung sesungguhnya adalah tragedi kemanusiaan besar.

Sayangnya, dunia internasional tampak gagal menghentikan kekejaman tersebut. Berbagai resolusi dan seruan perdamaian tidak memiliki kekuatan nyata di hadapan kepentingan politik global. Zionis tetap melanjutkan agresi karena mendapat dukungan politik, militer, dan finansial dari negara-negara besar, terutama Amerika Serikat.

Dukungan inilah yang membuat penjajahan terus berlangsung. Persenjataan modern, bantuan dana, hingga perlindungan diplomatik menjadikan Zionis merasa memiliki legitimasi untuk terus menyerang Gaza tanpa takut mendapat hukuman internasional.

Di sisi lain, negeri-negeri muslim juga terlihat belum mampu memberikan langkah nyata yang efektif untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina. Banyak negara hanya mengeluarkan kecaman dan pernyataan solidaritas, tetapi tidak mampu menghadirkan kekuatan politik maupun militer yang benar-benar bisa menghentikan agresi.

Kondisi ini menunjukkan lemahnya persatuan dunia Islam hari ini. Nasionalisme telah membuat umat Islam terpecah ke dalam batas-batas negara sehingga ukhuwah Islamiah kehilangan kekuatannya. Padahal penderitaan Palestina seharusnya menjadi persoalan bersama seluruh kaum muslim.

Islam memandang bahwa penjajahan adalah kezaliman yang wajib dihilangkan. Dalam sejarahnya, umat Islam memiliki ikatan persaudaraan yang melampaui batas suku, bangsa, dan wilayah. Ketika satu wilayah muslim diserang, kaum Muslim di wilayah lain akan bergerak membela karena mereka dipersatukan oleh akidah yang sama.

Karena itu, pembebasan Palestina membutuhkan ukhuwah Islamiah yang hakiki, bukan sekadar solidaritas simbolik. Persatuan umat harus diwujudkan dalam kekuatan nyata yang mampu melindungi kaum Muslim dan menghentikan penjajahan.

Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab besar menjaga darah, kehormatan, dan tanah kaum muslim. Negara tidak boleh membiarkan penjajahan berlangsung tanpa perlawanan. Pemimpin dalam Islam dituntut menjadi pelindung umat, bukan sekadar pengamat tragedi.

Islam juga mengajarkan bahwa kemuliaan umat tidak akan terwujud jika kaum muslim terus tercerai-berai dan tunduk pada kepentingan politik global. Persatuan politik umat menjadi kebutuhan penting agar dunia Islam memiliki kekuatan menghadapi penjajahan dan intervensi asing.

Karena itu, banyak kalangan Muslim meyakini bahwa diperlukan kepemimpinan umat yang mampu menyatukan potensi dunia Islam, baik secara politik, ekonomi, maupun militer. Dengan persatuan tersebut, umat Islam diyakini akan memiliki kemampuan lebih besar untuk menghentikan penjajahan dan melindungi rakyat Palestina.

Palestina hari ini bukan hanya tentang konflik wilayah, tetapi tentang kemanusiaan yang sedang dihancurkan di depan mata dunia. Ketika anak-anak kehilangan masa depan, jurnalis dibungkam, dan ribuan nyawa melayang tanpa keadilan, maka diam bukan lagi pilihan. Dunia membutuhkan keberanian untuk menghentikan kezaliman, dan umat Islam membutuhkan persatuan nyata agar tragedi kemanusiaan di Palestina tidak terus berulang tanpa akhir.

Oleh: Marissa Oktavioni, S.Tr.Bns.
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update