Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Nyawa Melayang demi Konten: Alarm Keras Rusaknya Sistem Perlindungan Anak

Senin, 18 Mei 2026 | 05:53 WIB Last Updated 2026-05-17T22:53:18Z

TintaSiyasi.id -- Kematian seorang anak di Lombok Timur akibat meniru aksi “freestyle” bukan sekadar kecelakaan biasa. Ini adalah alarm keras atas rusaknya sistem perlindungan anak di tengah derasnya arus konten digital yang tak terkendali. Ketika anak-anak usia TK dan SD kehilangan nyawa hanya karena meniru apa yang mereka lihat di layar, maka yang patut dipertanyakan bukan hanya perilaku anak, tetapi sistem yang membiarkan hal itu terjadi.

Dilansir dari Kumparan News 7 Mei 2026- Seorang bocah bernama Hamad Izan Wadi berusia 8 tahun di Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia diduga setelah melakukan aksi freestyle yang terinspirasi dari game online.
Siswa sekolah dasar (SD) itu kemudian mengalami cedera parah di bagian leher, diduga tulang lehernya patah.

Kapolsek Lenek, Ipda Alam Prima Yogi, mengatakan korban sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, setelah menjalani perawatan medis, nyawanya tak tertolong pada Minggu (3/5).

“Iya benar terjadi di wilayah Lenek. Peristiwa freestyle-nya sudah lama sebelum korban akhirnya meninggal di rumah sakit,” kata Yogi kepada kumparan, Kamis (7/5).

Anak-anak adalah peniru ulung. Di usia yang belum matang secara akal, mereka belum mampu memilah mana yang aman dan mana yang berbahaya. Apa yang terlihat keren, menantang, dan viral akan dengan mudah diikuti tanpa mempertimbangkan risiko. Inilah fitrah perkembangan mereka. Namun sayangnya, dunia digital hari ini justru dipenuhi konten ekstrem yang mengabaikan keselamatan demi sensasi dan popularitas.

Fenomena ini diperparah dengan minimnya pendampingan orang tua. Gawai seringkali dijadikan “pengasuh kedua” tanpa kontrol yang memadai. Anak dibiarkan menjelajah dunia maya sendirian, terpapar berbagai konten tanpa filter. Di sisi lain, lingkungan sosial juga tidak cukup hadir untuk mengawasi dan melindungi. Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam ruang bebas yang justru membahayakan dirinya sendiri.

Negara pun belum menunjukkan peran optimalnya. Himbauan demi himbauan tidak cukup untuk membendung arus konten berbahaya yang terus bermunculan. Fakta bahwa tren mematikan ini bisa menyebar luas menunjukkan lemahnya kontrol terhadap platform digital. Dalam sistem yang ada, kebebasan berekspresi seringkali dijadikan alasan untuk membiarkan konten berbahaya tetap beredar.

Inilah potret nyata kegagalan sistem sekuler dalam melindungi generasi. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, maka standar keamanan dan kebaikan tidak lagi berlandaskan pada nilai yang kokoh. Yang diutamakan adalah kebebasan dan keuntungan, bukan keselamatan dan kemaslahatan.

Islam memandang anak sebagai amanah yang wajib dijaga. Karena akalnya belum sempurna, mereka tidak dibebani hukum, tetapi justru harus dilindungi sepenuhnya. Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik dan mengarahkan, memastikan setiap asupan informasi yang diterima anak membawa kebaikan, bukan bahaya.

Namun perlindungan anak dalam Islam tidak berhenti pada keluarga. Lingkungan masyarakat memiliki kewajiban untuk saling menjaga melalui amar ma’ruf nahi munkar, menciptakan suasana yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak. Lebih dari itu, negara memegang peran kunci sebagai pelindung (junnah) yang akan menutup segala pintu kerusakan, termasuk membatasi konten digital yang berpotensi membahayakan generasi.

Dengan sistem pendidikan berbasis akidah Islam, anak tidak hanya dijaga secara fisik, tetapi juga dibentuk kepribadiannya agar mampu mengontrol diri. Negara akan memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kemaslahatan, bukan menjadi alat yang justru merusak dan mengancam nyawa.

Tragedi ini seharusnya menjadi titik balik. Tidak cukup hanya menyalahkan anak atau sekadar menghimbau orang tua. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar dalam sistem kehidupan yang benar-benar menempatkan keselamatan dan masa depan generasi sebagai prioritas utama.

Jika tidak, maka bukan tidak mungkin tragedi serupa akan terus berulang dan lebih banyak lagi nyawa anak yang menjadi korban dari dunia yang seharusnya mereka pelajari, bukan mereka takuti.
Wallahu a'lam bishawab

Oleh: Salma Rafida
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update