TintaSiyasi.id -- Dalam kehidupan, jabatan, kekuasaan, popularitas, dan kedudukan sering kali menjadi bagian yang sangat melekat pada diri seseorang. Ketika semua itu masih dimiliki, seseorang merasa dihormati, dicari, dipuji, bahkan dianggap penting. Namun, ketika masa itu berakhir, pensiun, kehilangan jabatan, tidak lagi berpengaruh atau tidak lagi menjadi pusat perhatian, sebagian orang mengalami keguncangan jiwa yang dalam. Inilah yang dikenal dengan istilah Post Power Syndrome.
Fenomena ini bukan hanya masalah psikologis, tetapi juga masalah spiritual. Banyak manusia terlalu menggantungkan harga dirinya pada dunia, sehingga ketika dunia pergi, ia merasa dirinya ikut hilang.
Padahal Allah Swt telah mengingatkan:
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185).
Apa Itu Post Power Syndrome?
Post Power Syndrome adalah kondisi mental dan emosional seseorang setelah kehilangan kekuasaan, jabatan, kedudukan, pengaruh atau status sosial yang selama ini menjadi identitas dirinya.
Seseorang merasa:
tidak berharga
kehilangan makna hidup
kesepian
mudah marah
sedih berkepanjangan bahkan mengalami depresi.
Dalam perspektif Islam, keadaan ini sering muncul karena hati terlalu bergantung pada dunia dan lupa bahwa kemuliaan sejati berasal dari Allah Swt.
Ciri-Ciri Post Power Syndrome
1. Sulit Menerima Kenyataan
Orang yang terkena Post Power Syndrome sering tidak siap menerima perubahan hidup. Ia terus mengenang masa kejayaan dan menolak kenyataan bahwa hidup telah berubah.
Ia ingin tetap diperlakukan seperti dahulu.
Padahal dunia memang berputar. Hari ini seseorang berada di atas, besok bisa berada di bawah.
Allah Swt berfirman:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140).
2. Haus Pengakuan dan Penghormatan
Ia merasa tersiksa ketika tidak lagi dihormati, tidak dipanggil atau tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Dulu teleponnya ramai, kini sunyi. Dulu pendapatnya dicari, kini diabaikan.
Lalu hatinya gelisah karena ternyata yang dicintai selama ini bukan dirinya, tetapi jabatannya.
3. Mudah Marah dan Sensitif
Ia menjadi emosional, mudah tersinggung, dan sulit menerima kritik.
Karena selama berkuasa ia terbiasa dihormati dan dituruti, maka ketika kehilangan kuasa, egonya terluka.
4. Menarik Diri dari Lingkungan
Sebagian orang memilih menyendiri karena malu atau merasa tidak lagi penting.
Ia kehilangan semangat hidup karena seluruh identitas dirinya dibangun di atas status duniawi.
5. Sering Membanggakan Masa Lalu
Pembicaraannya selalu:
“Dulu saya…”
“Waktu saya menjabat…”
“Saat saya berkuasa…”
Ia hidup dalam nostalgia, bukan dalam kesadaran ruhani saat ini.
6. Mengalami Gangguan Psikologis dan Fisik
Tidak sedikit yang akhirnya mengalami:
stres
insomnia
tekanan darah tinggi
kecemasan
depresi bahkan sakit berkepanjangan.
Karena hati yang kosong dari kedekatan kepada Allah akan mudah rapuh ketika kehilangan dunia.
Akar Masalah Post Power Syndrome
Masalah utamanya bukan kehilangan jabatan, tetapi kehilangan makna hidup.
Ketika seseorang menjadikan kekuasaan sebagai sumber harga diri, maka hilangnya kekuasaan terasa seperti hilangnya dirinya sendiri.
Padahal dalam Islam:
jabatan hanyalah amanah
kekuasaan hanyalah titipan
popularitas hanyalah ujian
Bukan identitas sejati manusia.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta dunia yang berlebihan akan melahirkan penderitaan ketika dunia itu pergi.
Cara Mengatasi Post Power Syndrome dalam Islam
1. Menanamkan Bahwa Dunia Itu Sementara
Islam mengajarkan bahwa semua jabatan pasti berakhir.
Tidak ada manusia yang abadi dalam kekuasaan.
Nabi Sulaiman A.S yang memiliki kerajaan besar pun wafat. Para khalifah besar pun meninggalkan dunia.
Maka, mengapa manusia biasa merasa berat kehilangan jabatan?
Rasulullah Swt., bersabda:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari).
Jabatan hanyalah persinggahan, bukan tujuan.
2. Mengembalikan Identitas Diri sebagai Hamba Allah
Kemuliaan sejati bukan karena kursi, pangkat atau pengaruh.
Tetapi karena ketakwaan.
Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Jika seseorang sadar dirinya adalah hamba Allah, maka ia tetap mulia meski tanpa jabatan.
3. Memperbanyak Ibadah dan Dzikir
Hati yang dekat kepada Allah tidak akan mudah kosong ketika kehilangan dunia.
Dzikir adalah terapi jiwa.
Allah Swt., berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Orang yang dulu sibuk dengan dunia, kini harus belajar sibuk dengan:
shalat
membaca Al-Qur’an
majelis ilmu
sedekah
dakwah dan amal akhirat.
4. Mengubah Orientasi dari Kekuasaan menuju Kebermanfaatan
Jabatan boleh hilang, tetapi manfaat jangan hilang.
Orang besar bukan yang punya kuasa, tetapi yang tetap memberi manfaat meski tanpa kuasa.
Masih banyak ladang amal:
membina umat
mengajar
menulis
membantu masyarakat
menjadi penasihat
berdakwah
membimbing keluarga.
Selama hidup masih bermanfaat, hidup tetap mulia.
5. Belajar Ikhlas dan Tawadhu’
Jabatan sering melahirkan rasa “aku penting”.
Karena itu setelah kehilangan jabatan, Allah sedang mendidik manusia agar kembali rendah hati.
Orang yang tawadhu’ tidak tergantung pada penghormatan manusia.
Ia tenang karena hanya mencari ridha Allah.
6. Menyiapkan Kehidupan Ruhani Sebelum Kehilangan Jabatan
Kesalahan banyak orang adalah:
sibuk membangun karier
tetapi lupa membangun jiwa
Akibatnya ketika jabatan hilang, ia kosong.
Maka, sejak masih memiliki kekuasaan:
dekatilah masjid
cintai ilmu
perbanyak amal
bangun hubungan dengan Allah.
Agar ketika dunia pergi, hati tetap hidup.
Renungan Sufistik
Jabatan itu seperti bayangan sore: sebentar memanjang, lalu hilang ditelan malam.
Manusia yang menggantungkan dirinya pada jabatan akan ikut runtuh ketika jabatan itu runtuh.
Namun, manusia yang menggantungkan dirinya kepada Allah akan tetap kokoh meski dunia meninggalkannya.
Karena kemuliaan sejati bukan saat manusia mengenal kita, tetapi saat Allah ridha kepada kita.
Penutup
Post Power Syndrome sesungguhnya adalah peringatan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai pusat hidupnya.
Jabatan hanyalah amanah sementara. Kekuasaan hanyalah ujian singkat. Popularitas hanyalah fatamorgana.
Yang abadi hanyalah amal saleh dan kedekatan kepada Allah Swt.
Maka, orang yang bijak bukan yang menangis ketika kehilangan jabatan, tetapi yang bersyukur karena Allah masih memberinya kesempatan memperbaiki akhiratnya.
Sebab pada akhirnya, bukan kursi yang menyelamatkan manusia, melainkan iman, amal saleh, dan hati yang bersih di hadapan Allah Swt.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
7 Mei 2026, Training Pra Purna Tugas, Aruna Senggigi Resort Hotel Lombok Barat