TintaSiyasi.id -- Ulama Ustaz Arief B. Iskandar, menyatakan bahwa sesungguhnya dunia islam (umat Islam) memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi kekuatan politik global.
"Dunia Islam sesungguhnya memiliki modal yang amat besar: wilayah luas, jumlah penduduk besar, sumberdaya alam melimpah, posisi geografis yang sangat strategis, serta yang paling penting potensi ideologisnya yang amat kuat," ungkapnya di akun Telegram Arief B Iskandar, Sabtu (4/4/2026).
Ia menjelaskan, akan tetapi, potensi besar itu belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan politik yang terpadu. Pasalnya, negeri-negeri Muslim masih berjalan dalam batas-batas kepentingan nasional masing-masing. Kesatuan visi belum kokoh. Arah geopolitik bersama belum benar-benar terbangun.
Kawasan yang memiliki nilai strategis demikian besar justru terus berada dalam pusaran konflik. Keberadaan Israel dalam konfigurasi kawasan juga menjadi bagian penting dari realitas geopolitik yang terus berlangsung selama puluhan tahun. Akibatnya, energi politik negeri-negeri Muslim sering habis dalam menghadapi ketegangan yang terus berulang
Lebih lanjut ia mengungkapkan, hari ini negeri-negeri Muslim terbentang luas dari Asia hingga Afrika. Kekayaan energinya sangat besar. Jalur strategisnya sangat menentukan. Jumlah penduduknya sangat signifikan. Akan tetapi, semuanya masih berjalan sendiri-sendiri.
"Padahal sejarah telah menunjukkan bahwa ketika kaum Muslim berada dalam satu kepemimpinan politik global, dunia memandang mereka sebagai kekuatan besar yang diperhitungkan. Bukan hanya karena luas wilayahnya, tetapi karena kesatuan visi, kesatuan arah dan kesatuan keputusan politik strategis," tegasnya.
Dalam konteks inilah gagasan tentang mpersatuan umat Islam sedunia di bawah naungan institusi pemerintahan Islam global (khilafah) menjadi relevan untuk terus dibicarakan. Dia menegaskan, khilafah tentu bukan semata sebagai nostalgia sejarah, tetapi sebagai kebutuhan politik yang nyata.
Apalagi, lanjut dia, ketika dunia masih berada dalam konfigurasi kekuatan kapitalisme global dengan Amerika Serikat sebagai penggerak utamanya. Menghadapi kekuatan sebesar itu tentu tidak cukup dengan solidaritas emosional sesaat.
“Diperlukan bangunan politik global yang kokoh, yang mampu menyatukan arah, menghimpun potensi, menjaga kedaulatan dan menghadirkan keputusan strategis yang berpijak pada kepentingan umat secara keseluruhan. Sekali lagi harus ditegaskan, pembicaraan tentang institusi pemerintahan Islam global (khilafah) selalu menemukan relevansinya dalam pembacaan realitas dunia,” paparnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa khilafah bukan sekadar simbol sejarah, tetapi gambaran tentang perlunya satu kepemimpinan politik yang mampu menyatukan negeri-negeri Muslim dalam satu visi besar. Tanpa kesatuan politik global yang kokoh, potensi besar dunia Islam akan tetap mudah dipetakan, dipengaruhi, bahkan dipertentangkan satu sama lain.
"Sebaliknya, jika umat memiliki persatuan global yang hakiki maka seluruh potensi dan kekuatan ekonomi, politik, militer dan strategis yang tersebar itu dapat berubah menjadi daya pengaruh besar dalam percaturan internasional," ujarnya.
Maka dari itu, di tengah bandul konflik yang sedang bergerak ini, pelajaran terpenting bagi umat Islam bukan sekadar membaca siapa yang sedang kuat dan siapa yang sedang melemah. Yang jauh lebih penting adalah memikirkan jalan panjang menuju persatuan Dunia Islam yang sesungguhnya.
"Tentu persatuan yang tidak berhenti pada simpati, tidak berhenti pada retorika, tetapi hadir dalam bangunan politik global yang nyata. Dengan begitu Dunia Islam tidak terus-menerus menjadi ruang perebutan pengaruh, tetapi kembali tampil sebagai subjek peradaban yang memiliki arah, martabat dan kedaulatan sendiri," tegasnya.
Dalam hal ini penting untuk selalu diingat firman Allah SWT yang memerintahkan dua hal: berpegang teguh pada ideologi Islam dan bersatu di bawah naungan Islam (tidak bercerai-berai). Demikian sebagaimana firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegangteguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai (QS Ali Imran [3]: 103)”.
Ia menjelaskan, ayat ini bukan sekadar seruan moral, tetapi juga petunjuk strategis: bahwa persatuan adalah syarat kekuatan, sedangkan perpecahan selalu membuka jalan bagi kelemahan. Sejarah, secara berulang, telah membuktikan hal demikian.[] Alfia