Tintasiyasi.id.com -- Dampak dari penerapan sistem kapitalisme di Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia telah terlihat secara kasat mata.
Sistem ini memiliki daya rusak yang mengerikan. Dia merusak semua lini kehidupan, dari merusak moral individu masyarakat hingga memorak-porandakan akhlak para penjabat.
Kebobrokan itu sangat nyata terlihat oleh siapa pun yang masih memiliki nilai kebaikan dalam dirinya kecuali orang-orang yang sudah mati hati nuraninya.
Daya rusak sistem ini telah menyerang segala lini kehidupan mulai dari sistem pergaulan, ekonomi, politik hingga pendidikan.
Semua lini tersebut telah menegasikan ajaran Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini sehingga banyak didapati kerusakan dalam sistem pergaulan masyarakat seperti pergaulan bebas yang melahirkan LGBT, perselingkuhan, kehancuran rumah tangga dan lainnya.
Begitu pula dalam sistem ekonominya, transaksi riba yang diharamkan oleh agama Islam dinormalisasi oleh sistem hari ini sehingga riba menjadi santapan sehari-hari padahal riba inilah yang mengundang murka Allah.
Demikian pula dengan sistem pemerintahannya, kekuasaan bukan dipergunakan untuk mensejahterakan rakyat tetapi malah disalahgunakan untuk memperkaya para penguasa. Sementara rakyat bagai sapi perah yang tenaga serta pikirannya diperas untuk memenuhi nafsu keserakahan para penguasa.
Dan yang lebih miris lagi sistem pendidikan negeri ini tidak bertujuan untuk mencerdaskan generasi dan menghasilkan generasi yang berkepribadian Islam tetapi malah mengutamakan program ‘makanan bergizi’ yang belakangan hari menjadi polemik di tengah masyarakat.
Alih-alih meningkatkan kecerdasan generasi malah menambah permasalahan yang sudah ada dan menjadi program yang tidak memiliki kontribusi nyata bagi permasalahan negeri.
Dengan banyaknya fakta kebobrokan sistem hari ini, masihkah kita diam dan tak perduli dengan keadaan negeri? Apakah harus benar-benar hancur negeri ini baru kita tersadar kalau negeri kita sudah dikuasai oleh asing yang notabene kafir harbi fi’lan yaitu Amerika dan sekutu-sekutunya.
Ingatlah negeri Indonesia adalah negeri dengan mayoritas penduduk muslim tetapi masyarakatnya banyak yang tidak memahami Islam secara benar, akhirnya tingkah lakunya tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.
Kuatnya daya cengkram kapitalisme inilah yang telah menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam, sehingga banyak yang mengaku muslim tetapi menolak penerapan syariat Islam bahkan hingga menolak sistem pemerintahan Islam itu sendiri yaitu Khilafah Islamiyyah.
Entah apakah karena takut atau memang tidak pernah mau tahu karena mustahil di saat informasi yang serba cepat hari ini seseorang tidak pernah mendengar sistem pemerintahan Islam.
Parahnya lagi ketika ada kelompok dakwah mengingatkan akan kewajiban umat Islam untuk kembali pada ajarannya, mayoritas dari umat Islam itu sendiri yang menolak dan malah mengagung-agungkan sistem demokrasi yang merupakan bentuk sistem pemerintahan dari kapitalisme.
Padahal ajaran Islam merupakan risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw dari Allah Swt, sedangkan demokrasi berasal dari sistem kufur yang dibawa oleh montesquieu yang jelas-jelas orang kafir.
Dan kekuatan umat Islam itu terletak pada ajarannya. Ketika ajaran Islam itu ditegakkan maka seluruh negeri akan tunduk karena ajaran Islam memperlakukan manusia sesuai dengan fitrahnya.
Karena fitrah manusia pada dasarnya adalah tunduk kepada penciptanya bukan tunduk pada aturan manusia.
Jadi jika hari ini kita masih merasakan kezaliman dan ketidakadilan dari semua sektor kehidupan, sadarilah karena kita sedang berada dalam kemaksiatan besar kepada Allah Swt karena telah meninggalkan perintahnya untuk menerapkan syariat-Nya.
Maka, tidak mengherankan selama sistem kapitalisme masih bercokol di negeri ini kerusakan, kemaksiatan dan kezaliman akan terus terjadi dan merajalela.
Semua kerusakan tersebut akan sirna ketika sistem Islam kembali ditegakkan. Tentu tegaknya syariat Islam harus diperjuangkan tidak bisa hanya menunggu dan berpangku tangan. Umat Islam harus terus diingatkan agar segera menjadikan ajaran Islam sebagai landasan hidup baik sebagai individu, masyarakat maupun bernegara.
Tidak ada lagi tawar menawar karena konsekuensi sebagai muslim adalah taat pada Allah dan Rasul-Nya. Tinggalkan semua pengaruh sistem kehidupan kufur yang bertentangan dengan Islam.
Putuskan semua hubungan dengan antek-antek asing dan usir semua penjajahan di negeri ini yang mengatasnamakan investasi.
Indonesia tak butuh bantuan asing karena Indonesia hakikatnya negeri yang kaya. Indonesia pun tak kekurangan orang-orang pintar tetapi kekurangan orang yang berani berkata kebenaran.
Jangan sampai kita termasuk dalam golongan orang-orang yang menolak penegakkan syariat Islam, karena konsekuensinya amat berat. Di dunia dianggap bangkai berjalan dan di akhirat akan dibangkitkan dalam keadaan buta karena berpaling dari peringatan Allah Swt.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Thaha ayat 124:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِ نَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
Dalam ayat ini telah jelas digambarkan bahwa manusia yang berpaling dari peringatan Allah (Al-Qur’an), mengabaikan ayat-ayat-Nya, dan membutakan hati dari petunjuk selama di dunia, maka di akhirat akan dibangkitkan dalam keadaan buta dan Allah Swt akan mengabaikannya.
Sebagaimana Allah Swt telah digambarkan dalam kelanjutan dari surat Thaha ini dalam ayat 125 dan 126 berikut:
قَا لَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْۤ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا
"Dia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?"
قَا لَ كَذٰلِكَ اَتَـتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَا ۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى
"Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan."
Demikianlah Allah telah memperingatkan manusia tetapi manusia terlalu angkuh dengan apa yang dimilikinya padahal apa yang dimiliki tersebut tidak akan pernah menjadi miliknya, dia akan binasa sebagaimana dunia yang dipijaknya.[]
Oleh: Emmy Emmalya
(Analis Mutiara Umat Institute)