“Ramadan bukan sekadar puasa,
tetapi targetnya ketakwaan dan istikamah sepanjang waktu,” tutur Kiai Hafidz dalam
taujih virtual pada Kelas I’rab Online MSH khusus ibu-ibu bertema Merawat
Takwa Pasca-Ramadan dengan Syukur, Selasa (31/03/2026).
Kiai menjelaskan, Allah Swt.
telah menegaskan tujuan puasa dalam Al-Qur’an, “La‘allakum tattaqun” (QS
Al-Baqarah: 183), yaitu agar kaum Muslim mencapai ketakwaan.”
Menurutnya Khadim Ma’had Syaraful Haramain tersebut, makna ayat itu menunjukkan bahwa ketakwaan tidak hanya ditargetkan saat Ramadan, tetapi harus terus berlanjut setelahnya.
“Kata tattaqun itu fi’il
mudhori’. Fi’il mudhori’ itu fi’il yang mengandung zaman.
Zamannya itu zaman hal, berarti sekarang dan mustaqbal, nanti,” ulasnya.
“Berarti apa hikmah yang Allah
inginkan? Allah itu menginginkan agar kita bertakwa. Takwanya itu bukan saat
ini saja, tapi takwanya juga terus-menerus sampai yang akan datang,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut, Kiai
Hafidz juga menjelaskan bahwa puasa Ramadan yang diwajibkan selama sebulan
merupakan pengganti dari puasa Asyura yang sebelumnya hanya satu hari.
“Namun, yang menjadi titik tekan bukan sekadar pergantian hukum, melainkan tujuan pembentukan ketakwaan yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Meski demikian, Kiai mengingatkan
para peserta, khususnya kaum ibu, bahwa tidak semua orang yang berpuasa
otomatis mendapatkan hikmah dari ibadah tersebut.
“Betapa banyak orang yang
berpuasa laisahu minamihi, dia tidak mendapatkan dari puasanya, ilal
ju kecuali lapar dan dahaga,” katanya.
Menurutnya, kondisi itu
menunjukkan bahwa kewajiban puasa bisa saja terlaksana, tetapi hikmah berupa
ketakwaan tidak selalu tercapai.
“Karena itu, penting memahami
indikator ketakwaan, yaitu keyakinan dalam hati, ucapan lisan, serta amal
perbuatan,” ulasnya.
Lebih lanjut, Kiai Hafidz
menegaskan bahwa keistikamahan dalam ketaatan bukanlah semata hasil kemampuan
manusia, melainkan karena taufik dari Allah.
“Ibu-ibu bisa istikamah itu bukan
karena ibu-ibu yang hebat, tetapi karena Allah yang mengistikamahkan. Allah
yang menghilangkan rasa malas di dalam diri ibu-ibu,” ungkapnya.
Kiai juga menjelaskan bahwa
nikmat taufik merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri, terutama oleh para
ibu yang terus berjuang menjaga ketaatan di tengah aktivitas rumah tangga dan
kesibukan harian.
“Cara mensyukuri nikmat taufik
itu adalah dengan cara, jadi misalnya ibu-ibu sekarang bisa datang ngikuti
kajian, maka ketika pekan depan datang lagi, niatkan itu untuk mensyukuri
nikmat yang sudah didapatkan sebelumnya,” jelasnya.
Kiai juga menegaskan pentingnya
menjaga kesinambungan amal setelah Ramadan, sebagai bentuk nyata dari syukur
atas nikmat tersebut.
“Maka setelah Ramadan jangan
berhenti. Bacalah Al-Qur’an, khatamlah Al-Qur’an, dan niatkan untuk mensyukuri
nikmat,” katanya.
Dengan demikian, Kiai Hafidz menutup
penjelasan dengan menegaskan bahwa Ramadan bukanlah tujuan akhir, melainkan
titik awal bagi setiap Muslim, khususnya kaum ibu, untuk menjaga ketakwaan dan
keistikamahan melalui amal yang terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.[] Titin
Hanggasari