Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ramadan Bukan Sekadar Puasa, Ulama: Targetnya Ketakwaan dan Istikamah Sepanjang Waktu

Senin, 27 April 2026 | 14:00 WIB Last Updated 2026-04-27T07:00:29Z

TintaSiyasi.id -- Ulama K.H. Hafidz Abdurahman, M.A. menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar puasa, tetapi targetnya ketakwaan dan istikamah sepanjang waktu.

 

“Ramadan bukan sekadar puasa, tetapi targetnya ketakwaan dan istikamah sepanjang waktu,” tutur Kiai Hafidz dalam taujih virtual pada Kelas I’rab Online MSH khusus ibu-ibu bertema Merawat Takwa Pasca-Ramadan dengan Syukur, Selasa (31/03/2026).

 

Kiai menjelaskan, Allah Swt. telah menegaskan tujuan puasa dalam Al-Qur’an, “La‘allakum tattaqun” (QS Al-Baqarah: 183), yaitu agar kaum Muslim mencapai ketakwaan.”

 

Menurutnya Khadim Ma’had Syaraful Haramain tersebut, makna ayat itu menunjukkan bahwa ketakwaan tidak hanya ditargetkan saat Ramadan, tetapi harus terus berlanjut setelahnya.

 

“Kata tattaqun itu fi’il mudhori’. Fi’il mudhori’ itu fi’il yang mengandung zaman. Zamannya itu zaman hal, berarti sekarang dan mustaqbal, nanti,” ulasnya.

 

“Berarti apa hikmah yang Allah inginkan? Allah itu menginginkan agar kita bertakwa. Takwanya itu bukan saat ini saja, tapi takwanya juga terus-menerus sampai yang akan datang,” ujarnya.

 

Dalam kajian tersebut, Kiai Hafidz juga menjelaskan bahwa puasa Ramadan yang diwajibkan selama sebulan merupakan pengganti dari puasa Asyura yang sebelumnya hanya satu hari.

“Namun, yang menjadi titik tekan bukan sekadar pergantian hukum, melainkan tujuan pembentukan ketakwaan yang berkelanjutan,” imbuhnya.

 

Meski demikian, Kiai mengingatkan para peserta, khususnya kaum ibu, bahwa tidak semua orang yang berpuasa otomatis mendapatkan hikmah dari ibadah tersebut.


“Betapa banyak orang yang berpuasa laisahu minamihi, dia tidak mendapatkan dari puasanya, ilal ju kecuali lapar dan dahaga,” katanya.

 

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan bahwa kewajiban puasa bisa saja terlaksana, tetapi hikmah berupa ketakwaan tidak selalu tercapai.

 

“Karena itu, penting memahami indikator ketakwaan, yaitu keyakinan dalam hati, ucapan lisan, serta amal perbuatan,” ulasnya.

 

Lebih lanjut, Kiai Hafidz menegaskan bahwa keistikamahan dalam ketaatan bukanlah semata hasil kemampuan manusia, melainkan karena taufik dari Allah.

 

“Ibu-ibu bisa istikamah itu bukan karena ibu-ibu yang hebat, tetapi karena Allah yang mengistikamahkan. Allah yang menghilangkan rasa malas di dalam diri ibu-ibu,” ungkapnya.

 

Kiai juga menjelaskan bahwa nikmat taufik merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri, terutama oleh para ibu yang terus berjuang menjaga ketaatan di tengah aktivitas rumah tangga dan kesibukan harian.

 

“Cara mensyukuri nikmat taufik itu adalah dengan cara, jadi misalnya ibu-ibu sekarang bisa datang ngikuti kajian, maka ketika pekan depan datang lagi, niatkan itu untuk mensyukuri nikmat yang sudah didapatkan sebelumnya,” jelasnya.

 

Kiai juga menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan amal setelah Ramadan, sebagai bentuk nyata dari syukur atas nikmat tersebut.

 

“Maka setelah Ramadan jangan berhenti. Bacalah Al-Qur’an, khatamlah Al-Qur’an, dan niatkan untuk mensyukuri nikmat,” katanya.

 

Dengan demikian, Kiai Hafidz menutup penjelasan dengan menegaskan bahwa Ramadan bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal bagi setiap Muslim, khususnya kaum ibu, untuk menjaga ketakwaan dan keistikamahan melalui amal yang terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.[] Titin Hanggasari

Opini

×
Berita Terbaru Update