Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Peradaban Islam Dibangun Atas Iman, Ilmu, dan Pelayanan Publik

Minggu, 26 April 2026 | 22:37 WIB Last Updated 2026-04-26T15:37:15Z

TintaSiyasi.id -- Founder I&U Institute Fauzi Ihsan Jabir, memaparkan bahwa peradaban Islam dibangun atas iman, ilmu, dan pelayanan publik. 

"Semua menunjukkan satu hal, peradaban Islam dibangun di atas Iman ilmu. Dan pelayanan publik Umar Bin Khattab mengajarkan kepada kita, membangun jalan bisa menjadi ibadah, menggali sungai bisa menjadi amal shalih, menata kota bisa menjadi dakwah selama tujuannya untuk kemaslahatan umat dan mencari ridha Allah SWT," ujarnya di Acara Kisah Khilafah #8 Visi Peradaban Umar, Ketika Infrastruktur Menjadi Ibadah, di Akun Youtube Rayahtv, Jumat (27/2/2026).

Ia mengungkap, ketika Umar memperluas Masjid Nabawi yang beliau pikirkan bukan hanya kemegahan tetapi fungsinya masjid diperluas, diberi atap agar jamaah terlindungi dari hujan, lantainya diberi tikar agar nyaman, dan beliau melarang warna-warna yang mencolok agar orang tidak terganggu dalam shalat.

"Artinya jelas, arsitektur dalam Islam bukan tentang estetika semata, tetapi tentang khusyuk dan kemaslahatan. Masjid juga bukan hanya tempat shalat, ia menjadi pusat ilmu, administrasi, komunikasi politik, bahkan tempat menerima instruksi negara," ungkapnya. 

Ia memberikan contoh, di Kufah, Basrah, dan Fustat masjid selalu dibangun di tengah kota karena peradaban Islam dimulai dari tauhid lalu bergerak ke ekonomi, militer, dan juga sosial.

Ia mengatakan bahwa Umar memahami satu hal penting peradaban tidak akan tegak tanpa konektivitas. Beliau (Umar) mengalokasikan dana baitul mal untuk jalur transportasi antar wilayah. Disediakan unta khusus untuk logistic, dibangun pos perbekalan yang disebut Daar Adzakir tempat musafir mendapatkan makanan dan air.

"Bayangkan rest area di gurun pasir 1400 tahun yang lalu, lebih dari itu Umar membuat kebijakan, musafir dan orang tersesat lebih berhak atas air. Ini bukan sekadar kebijakan sosial ini adalah implementasi dari rahmatan lil alamin dalam infrastruktur, dan beliau memahami syarat Al-Qur'an bahwa pembangunan harus menghadirkan keamanan perjalanan dan menghilangkan kesulitan manusia," paparnya. 

Selanjutnya, ketika wilayah Islam meluas ke Irak dan Mesir, Umar tidak hanya menaklukan tetapi juga membangun, jalan diperbaiki jembatan dibuat, sungai digali kembali, kanal-kanal yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah dibuka kembali oleh Amr bin As atas perintah Umar Bin Khattab.

"Hasilnya perdagangan hidup, logistik ke Hijaz lancar, kesejahteraan meningkat ini adalah kebijakan ekonomi makro yang lahir dari visi spiritual karena bagi Umar kemakmuran rakyat adalah bagian dari amanah kepemimpinan," jelasnya. 

Kemudian, Umar membangun kota-kota baru Basrah, Kufah, Fustat, dan lain-lain, tetapi ini bukan sekedar urbanisasi, ini adalah Master plan peradaban, setiap kota memiliki masjid di tengah, pasar di sekitarnya, perumahan berbasis kabilah, padang gembala untuk logistik, militer, dan jalan lebar sebagai mobilitas pasukan. "Artinya kota dirancang untuk pertahanan ekonomi dan dakwah sekaligus," ungkapnya. 

Ia memaparkan, Basrah dibangun dekat air dan padang gembala agar logistik terjamin. Kufah dipilih karena cocok untuk kesehatan tentara dan unta. Fustat dipilih karena strategis dengan Sungai Nil dan mudah terhubung ke pusat pemerintahan.

"Ini bukan kebetulan ini adalah perencanaan kota berbasis kebutuhan manusia dan juga negara, di wilayah Syam dibanguntansi tangsi dengan ribuan kuda siap tempur, setiap kuda diberi tanda tentara fisabilillah," ungkapnya. 

Ia mengutip firman Allah persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. (Qs. Al Anfal ayat 60)

Ia menegaskan, infrastruktut bukanlah hanya untuk ekonomi, tetapi untuk keamanan, dan pertahanan umat.

"Ketika kota-kota mulai makmur, rumah-rumah mulai dibangun dari batu dan harta melimpah, Umar Mulai khawatir beliau berkata 'jangan sampai kemewahan membuat umat kehilangan ruh jihad dan kesederhanaan'. Beliau membatasi tidak boleh berlebihan dalam membangun, tidak boleh saling meninggikan rumah, tetap sederhana, karena bagi Umar peradaban bukan soal gedung yang tinggi tetapi ketakwaan yang tinggi," jelasnya. 

Ia mengutip QS. An Nur 55: 'Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.

Ia menekankan, kunci kejayaan bukan infrastruktur semata tetapi iman dan amal shalih. 

"Yang paling menarik dari kebijakan Umar adalah semua proyek jalan, kanal,nkota logistik tidak berdiri sendiri ia terhubung dengan pelayanan musafir jaminan keamanan bagi orang-orang non muslim, perjanjian sosial dan distribusi kesejahteraan. Bahkan dalam perjanjian dengan penduduk wilayah yang ditaklukkan mereka diminta memperbaiki Jalan menunjukkan arah bagi musafir dan menjamu pasukan yang sedang lewat," lugasnya. 

Ia menjelaskan, infrastruktur menjadi tanggung jawab kolektif masyarakat, ini adalah konsep publik service yang jauh melampaui zamannya. 

"Basrah dan kufah kemudian menjadi pusat ilmu, para sahabat tabiin ulama dan pedagang berkumpul ilmu hadis, fikih, Bahasa Arab, dan ekonomi berkembang Kenapa? Karena infrastrukturnya mendukung ada masjid, pasar, keamanan mobilitas dan juga logistik," ujarnya. 

"Pradaban ilmu lahir dari ekosistem yang dibangun dengan visi, hari ini kita sering melihat infrastruktur hanya sebagai proyek fisik, padahal dalam sejarah umar infrastruktur adalah alat ibadah, alat dakwah alat kesejahteraan dan juga alat pertahanan, maupun alat pendidikan yang dibangun dengan niat untuk melayani manusia dan mendekatkan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala," cecarnya. 

Karena itu, ia mengatakan, Umar tidak pernah berkata seberapa megah kota kita tetapi beliau bertanya apakah rakyat kita aman, apakah musafir terbantu, apakah umat tetap sederhana dan taat. 

"Dari masjid yang sederhana dengan atap pelepah hingga kanal yang menghubungkan dua laut dan juga rest area bagi musafir di gurun pasir, hingga kota-kota yang melahirkan ulama besar," ungkapnya. 

"Maka pertanyaan sekarang ketika kita membangun hari ini apakah kita hanya membangun beton atau sedang membangun peradaban?" Pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update