TintaSiyasi.id -- Persatuan negara-negara Muslim berpotensi menjadi kekuatan besar yang mampu menandingi dominasi global yang sedang berkuasa. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Iran tidak mudah ditaklukkan oleh Amerika Serikat dan Israel, meskipun hanya berdiri sebagai satu negara Muslim. Kedua negara tersebut justru menghadapi perlawanan yang tidak ringan. Hal ini memperlihatkan bahwa citra kekuatan superpower tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Dari sini, umat Islam dapat mengambil pelajaran bahwa jika negeri-negeri Muslim bersatu, kekuatan politik dan militernya akan jauh lebih besar.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Putra dari Ayatullah Ali Khamenei itu menegaskan, bahwa ketahanan Iran di tengah tekanan internasional telah menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di dunia. (Media Indonesia, 10/04/2026)
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Pada awalnya, Amerika Serikat tampak optimistis bahwa tekanan militer yang besar akan segera melemahkan Iran dan memaksanya tunduk. Namun kenyataannya, skenario tersebut tidak berjalan mulus.
Perang tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, jumlah senjata, atau kekuatan udara. Ada faktor lain yang sering luput diperhitungkan, yaitu ketahanan politik dan kekuatan internal suatu negara. Dalam kasus Iran, muncul perlawanan kuat dari unsur militer ideologis seperti Garda Revolusi. Situasi ini membuat strategi Amerika Serikat tidak berjalan sesuai harapan. Pernyataan yang berubah-ubah dari pihak Amerika menunjukkan belum tercapainya target strategis yang diinginkan.
Sejak awal, tujuan utama Amerika Serikat bukan sekadar melemahkan militer Iran, tetapi juga mengubah posisinya agar sepenuhnya berada dalam pengaruhnya. Selama ini Iran memang berada dalam orbit global Barat, namun tetap menunjukkan sikap independen, terutama dalam isu nuklir, pengembangan rudal, dan pengaruh regional. Upaya untuk mengganti kepemimpinan atau melemahkan struktur internal Iran pun tidak berhasil sesuai perkiraan.
Sebaliknya, Iran mampu memberikan respons dengan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke berbagai target, termasuk wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Hal ini menunjukkan bahwa Iran memiliki kekuatan internal yang telah dibangun dalam jangka panjang.
Meskipun telah menghadapi embargo selama puluhan tahun, Iran tetap mampu bertahan. Negara tersebut terus mengembangkan industri strategis, memperkuat riset ilmiah, serta meningkatkan teknologi pertahanan. Tekanan dari luar justru mendorong konsolidasi internal dan memperkuat daya tahan nasional.
Dari peristiwa ini, terdapat pelajaran penting bagi negara-negara Muslim. Kekuatan suatu negara tidak hanya bergantung pada persenjataan, tetapi juga pada legitimasi kepemimpinan dan dukungan rakyat. Tanpa keterikatan antara pemimpin dan masyarakat, kekuatan militer bisa terlihat besar namun rapuh dari dalam.
Konflik ini juga membuka perspektif baru tentang batas kekuatan Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun, dunia diarahkan untuk melihatnya sebagai kekuatan yang sulit ditandingi. Namun sejarah menunjukkan bahwa setiap kekuatan besar memiliki titik lemah, terutama ketika diliputi kesombongan dan kepentingan yang berlebihan.
Dalam sistem global saat ini, hubungan antarnegara lebih banyak didasarkan pada kepentingan daripada persahabatan. Hal ini menjelaskan mengapa aliansi dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan politik.
Kemandirian militer yang ditunjukkan Iran memberikan pelajaran penting dalam konteks geopolitik. Konflik ini tidak sekadar perang fisik, tetapi juga bagian dari perebutan pengaruh global. Kawasan Timur Tengah sering menjadi arena persaingan kekuatan besar yang berusaha mempertahankan dominasi mereka.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana sistem kapitalisme global bekerja, di mana kekuatan besar berupaya memperluas pengaruhnya melalui berbagai aspek, mulai dari politik hingga ekonomi dan budaya.
Sebaliknya, dalam pandangan Islam, kepemimpinan memiliki tujuan untuk membawa keadilan dan kesejahteraan. Sejarah mencatat bahwa ketika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan, mereka mampu membangun peradaban yang maju dan berpengaruh di berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.
Persatuan yang dilandasi akidah menjadi faktor utama yang menjadikan umat kuat dan mampu berkontribusi besar bagi dunia. Oleh karena itu, peristiwa yang terjadi saat ini seharusnya menjadi bahan refleksi bagi umat Islam untuk kembali memperkuat persatuan dan nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupan.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 103 yang mengajak umat untuk berpegang teguh pada agama dan tidak terpecah belah, persatuan menjadi kunci utama dalam meraih kekuatan dan kemuliaan.
Perbedaan dalam hal-hal cabang seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bersatu dalam tujuan yang lebih besar. Dengan kesadaran dan strategi yang tepat, umat Islam dapat kembali membangun kekuatan yang berlandaskan nilai dan prinsip yang kokoh.
Wallahu a’lam bishshawab.[]
Oleh: Sunani
(Aktivis Muslimah)