Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lirik Lagu 1980-an Tuai Kontroversi, Jurnalis: Harusnya Kebenaran Tidak Menunggu Viral

Selasa, 21 April 2026 | 03:32 WIB Last Updated 2026-04-20T20:32:18Z

TintaSiyasi.id -- Lirik lagu sejak 1980-an di sebuah universitas kini tengah menuai kritik, karena diduga melanggar normal sosial, dinilai Jurnalis Joko Prasetyo terjadi karena nilai sebuah kebenaran ditetapkan karena viral.

 

"Standarnya bukan nilai, tetapi tekanan. Nilai akademik dalam hal ini bukan kompas moral, hanya menjadi cermin dari apa yang sedang dianggap aman secara sosial. Padahal kebenaran tidak menunggu viral," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID, Jumat (17/04/2026).

 

Ia memandang, lirik lagu tersebut mulai dipersoalkan lantaran telah berubahnya standar penilaian terkait kebenaran. “Dulu lagu tersebut dianggap biasa, namun saat ini menjadi masalah,” ujarnya.

 

"Dan di sinilah letak kegentingannya. Karena itu, berarti kebenaran tidak berdiri sendiri, kebenaran menunggu pengakuan sosial, dan kebenaran lahir dari opini, bukan dari prinsip," terangnya.

 

Pria yang akrab disapa Om Joy itu menjelaskan jika lirik lagu yang dianggap oleh mahasiswa sebagai tradisi tersebut tidak viral, maka tidak akan muncul gelombang kritik. “Dari kejadian ini tampak jelas kritikan muncul dari sebuah ketergantungan pada momentum bukan pada sebuah kebenaran,” lugasnya.

 

"Maka sekali lagi, standarnya bukan nilai tetapi tekanan. Nilai akademik dalam hal ini bukan kompas moral. Hanya menjadi cermin dari apa yang sedang dianggap aman secara sosial," jelasnya.

 

Lebih lanjut, Om Joy mengingatkan bahwasanya ketika standar kebenaran tidak bersumber dari sesuatu yang tetap, maka akan berubah mengikuti zaman, bergeser mengikuti opini, dan tunduk pada tekanan.

 

"Hari ini sesuatu dianggap tidak pantas. Besok, bisa saja dianggap ekspresi seni. Lusa, bisa dilegalkan atas nama kebebasan. Tanpa fondasi yang kokoh, semua hanya soal waktu," imbuhnya.

 

Alhasil, ia menegaskan jika kehadiran Islam justru memutus ketidakjelasan ini. “Dalam Islam, aurat terap aurat sejak dulu hingga sekarang, serta kehormatan tetap harus dijaga dalam kondisi apa pun,” tandasnya.

 

"Yang merendahkan martabat manusia tetap salah, meskipun ditertawakan banyak orang. Tidak menunggu 1980, tidak menunggu 2026, tidak menunggu viral. Standarnya tetap, karena sumbernya tetap. Maka masalah sebenarnya bukan pada satu pernyataan sikap. Namun pada cara berpikir yang melahirkannya. Dan di titik ini, harus dikatakan dengan jujur," jelasnya.

 

"Pernyataan sikap seperti ini jauh lebih berbahaya daripada lirik lagu itu sendiri. Karena lagu bisa selesai, bisa hilang, bisa diganti. Namun cara pandang? Menetap, diwariskan, membentuk generasi," sambungnya.

 

Adapun, ia menekankan, selama cara berpikirnya tetap sama, bahwa benar-salah ditentukan oleh norma sosial, citra institusi, dan tekanan publik, maka jangan heran jika 'Erika-Erika' lain akan terus lahir. “Bahkan bukan lagi sekadar lagu, tetapi gaya hidup,” tegasnya.

 

"Inilah buah dari sistem yang memisahkan nilai dari wahyu. Sistem pendidikan sekuler telah lama menanamkan bahwa moral adalah hasil kesepakatan, bukan ketetapan. Bahwa benar bisa dinegosiasikan, bukan ditaati. Dan kampus yang seharusnya menjadi penjaga akal justru ikut mewariskan kerancuan itu," keluhnya.

 

Namun, ia menyanyangkan, negeri yang sejak awal telah mengakui bahwa kemerdekaan adalah berkat rahmat Allah yang maha kuasa, namun dalam praktiknya, aturan-Nya malah diabaikan dalam mengatur kehidupan. “Pengakuan ada, namun penerapan ditinggalkan,” tegasnya.

 

"Maka jangan heran jika standar kebenaran menjadi kabur. Ini bukan sekadar kritik. Ini peringatan. Selama akar persoalannya tidak dicabut, selama manusia masih merasa cukup dengan standar selain wahyu, maka problem serupa hanya akan berulang, dengan bentuk yang mungkin lebih parah," bebernya.

 

"Sebelum semuanya semakin parah, segeralah tegakkan khilafah untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Sudah saatnya kembali kepada ukuran yang tidak berubah. Bukan apa kata publik. Bukan apa kata zaman. Namun apa yang Allah tetapkan. Di situlah kebenaran tidak pernah goyah," tandasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update