TintaSiyasi.id -- Lirik lagu sejak 1980-an di sebuah universitas kini tengah menuai kritik, karena diduga melanggar normal sosial, dinilai Jurnalis Joko Prasetyo terjadi karena nilai sebuah kebenaran ditetapkan karena viral.
"Standarnya bukan nilai, tetapi tekanan. Nilai akademik dalam hal ini
bukan kompas moral, hanya menjadi cermin dari apa yang sedang dianggap aman
secara sosial. Padahal kebenaran tidak menunggu viral," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID,
Jumat (17/04/2026).
Ia memandang, lirik lagu tersebut mulai dipersoalkan lantaran telah
berubahnya standar penilaian terkait kebenaran. “Dulu lagu tersebut dianggap
biasa, namun saat ini menjadi masalah,” ujarnya.
"Dan di sinilah letak kegentingannya. Karena itu, berarti kebenaran
tidak berdiri sendiri, kebenaran menunggu pengakuan sosial, dan kebenaran lahir
dari opini, bukan dari prinsip," terangnya.
Pria yang akrab disapa Om Joy itu menjelaskan jika lirik lagu yang dianggap
oleh mahasiswa sebagai tradisi tersebut tidak viral, maka tidak akan muncul
gelombang kritik. “Dari kejadian ini tampak jelas kritikan muncul dari sebuah
ketergantungan pada momentum bukan pada sebuah kebenaran,” lugasnya.
"Maka sekali lagi, standarnya bukan nilai tetapi tekanan. Nilai
akademik dalam hal ini bukan kompas moral. Hanya menjadi cermin dari apa yang
sedang dianggap aman secara sosial," jelasnya.
Lebih lanjut, Om Joy mengingatkan bahwasanya ketika standar kebenaran tidak
bersumber dari sesuatu yang tetap, maka akan berubah mengikuti zaman, bergeser
mengikuti opini, dan tunduk pada tekanan.
"Hari ini sesuatu dianggap tidak pantas. Besok, bisa saja dianggap
ekspresi seni. Lusa, bisa dilegalkan atas nama kebebasan. Tanpa fondasi yang
kokoh, semua hanya soal waktu," imbuhnya.
Alhasil, ia menegaskan jika kehadiran Islam justru memutus ketidakjelasan
ini. “Dalam Islam, aurat terap aurat sejak dulu hingga sekarang, serta
kehormatan tetap harus dijaga dalam kondisi apa pun,” tandasnya.
"Yang merendahkan martabat manusia tetap salah, meskipun ditertawakan
banyak orang. Tidak menunggu 1980, tidak menunggu 2026, tidak menunggu viral.
Standarnya tetap, karena sumbernya tetap. Maka masalah sebenarnya bukan pada
satu pernyataan sikap. Namun pada cara berpikir yang melahirkannya. Dan di
titik ini, harus dikatakan dengan jujur," jelasnya.
"Pernyataan sikap seperti ini jauh lebih berbahaya daripada lirik
lagu itu sendiri. Karena lagu bisa selesai, bisa hilang, bisa diganti.
Namun cara pandang? Menetap, diwariskan, membentuk generasi," sambungnya.
Adapun, ia menekankan, selama cara berpikirnya tetap sama, bahwa
benar-salah ditentukan oleh norma sosial, citra institusi, dan tekanan publik,
maka jangan heran jika 'Erika-Erika' lain akan terus lahir. “Bahkan bukan lagi
sekadar lagu, tetapi gaya hidup,” tegasnya.
"Inilah buah dari sistem yang memisahkan nilai dari wahyu. Sistem
pendidikan sekuler telah lama menanamkan bahwa moral adalah hasil kesepakatan,
bukan ketetapan. Bahwa benar bisa dinegosiasikan, bukan ditaati. Dan kampus
yang seharusnya menjadi penjaga akal justru ikut mewariskan kerancuan
itu," keluhnya.
Namun, ia menyanyangkan, negeri yang sejak awal telah mengakui bahwa
kemerdekaan adalah berkat rahmat Allah yang maha kuasa, namun dalam praktiknya,
aturan-Nya malah diabaikan dalam mengatur kehidupan. “Pengakuan ada, namun
penerapan ditinggalkan,” tegasnya.
"Maka jangan heran jika standar kebenaran menjadi kabur. Ini bukan
sekadar kritik. Ini peringatan. Selama akar persoalannya tidak dicabut, selama
manusia masih merasa cukup dengan standar selain wahyu, maka problem serupa
hanya akan berulang, dengan bentuk yang mungkin lebih parah," bebernya.