TintaSiyasi.id -- Di tengah gemerlap peradaban modern, manusia justru semakin asing terhadap dirinya sendiri. Kota-kota megah berdiri, teknologi melesat tanpa batas, informasi mengalir deras—namun hati manusia tetap gelisah. Ada kekosongan yang tak terisi, ada kegersangan yang tak tersiram, ada luka batin yang tak terobati.
Inilah paradoks zaman: kemajuan tanpa ketenangan, kebebasan tanpa arah, dan kekuatan tanpa makna.
Fenomena ini bukan sekedar gejala sosial biasa, melainkan tanda dari krisis kerohanian global—sebuah krisis yang dihilangkan pada cara pandang hidup yang keliru.
Akar Krisis: Ketika Manusia Melepaskan Tuhan dari Kehidupan
Dalam analisis ideologis yang tajam, Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nidzam al-Islam menjelaskan bahwa akar kerusakan peradaban modern adalah sekularisme—pemisahan agama dari kehidupan.
Sekularisme bukan sekedar konsep politik, namun telah menjelma menjadi cara berpikir dan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa:
• Tuhan cukup di masjid
• Agama cukup dalam doa
• Wahyu tidak perlu mengatur kehidupan
Akibatnya, hidup manusia tanpa bimbingan ilahi dalam urusan dunia. Maka lahirlah sistem yang:
• Menghalalkan riba demi pertumbuhan ekonomi
• Melegalkan kebebasan tanpa batas atas nama HAM
• Menjadikan hawa nafsu sebagai standar kebahagiaan
Padahal, ketika manusia memutus hubungan dengan Allah, sesungguhnya ia sedang memutus sumber ketenangan hidup sendiri.
Hadlarah Barat: Tubuh yang Kuat, Jiwa yang Rapuh
Peradaban Barat telah mencapai puncak dalam hal materi. Namun dalam dimensi ruhani, ia mengalami kehancuran yang sunyi.
Manusia modern:
• Tersenyum di media sosial, tetapi menangis dalam kesedihan
• Memiliki segalanya, tetapi merasa hampa
• Dikelilingi manusia, tetapi kehilangan makna hubungan
Inilah yang oleh para sufi disebut sebagai “ghaflah” (kelalaian)—lupa kepada Allah, lupa kepada hakikat diri.
serupa yang diisyaratkan oleh Al-Ghazali,
“Hati yang kosong dari dzikir adalah sarang kegelisahan.”
Ketika dunia dijadikan tujuan, maka dunia pula yang akan menghancurkan manusia.
Dimensi Sufistik: Penyakit Hati dan Kehilangan Makna
Dari perspektif sufistik, krisis ini bukan hanya krisis sistem, tetapi juga krisis hati (qalb).
Penyakit-penyakit hati yang merajalela :
• Hubbud dunia (cinta dunia berlebihan)
• Hasad (iri dan dengki)
• Riya (pamer amal)
• Takabbur (kesombongan)
Semua ini adalah buah dari jiwa yang jauh dari Allah.
Padahal, hati manusia diciptakan hanya untuk satu tujuan:
mengenal dan mencintai Allah (ma'rifatullah).
Ketika hati tidak diisi dengan cahaya Ilahi, maka ia akan diisi oleh kegelapan dunia.
Hadlarah Islam: Peradaban Cahaya yang Menyatu dengan Wahyu
Berbeda dengan hadlarah Barat, Islam tidak memisahkan antara ruh dan materi, antara dunia dan akhirat.
Islam adalah:
• Ideologi (mabda') → memiliki aqidah dan sistem hidup
• Spiritualitas (ruhiyah) → menghubungkan manusia dengan Allah
• Peradaban (hadlarah) → membangun kehidupan berdasarkan wahyu
Dalam Islam:
• Politik adalah amanah
• Ekonomi adalah ibadah
• Ilmu adalah jalan menuju Allah
• Kehidupan adalah perjalanan menuju akhirat
Inilah keindahan Islam: ia menyatukan langit dan bumi dalam satu kesatuan hidup.
Jalan Kembali: Revolusi Jiwa dan Peradaban
Kembali kepada Islam bukan sekedar seruan emosional. Ia adalah proyek perubahan total—dari individu hingga peradaban.
1. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)
Membersihkan hati dari penyakit dan memikatnya dengan:
• Ikhlas
• Sabar
• Tawakal
• Ridha
2. Tajdidul 'Aql (Pembaharuan Cara Berpikir)
Mengembalikan aqidah Islam sebagai landasan berpikir:
• Menilai segala sesuatu dengan halal–haram
• Menjadikan wahyu sebagai sumber kebenaran
3. Iqamatul Hayah al-Islamiyah (Menegakkan Kehidupan Islam)
Menghadirkan Islam dalam seluruh aspek:
• Individu
• Keluarga
• Masyarakat
• Negara
Refleksi: Jangan Hanya Menyalahkan, Tapi Berbenah
Namun penting untuk dipercaya:
Krisis ini bukan semata-mata kesalahan “Barat”. Umat Islam pun memiliki andil ketika:
• Meninggalkan Al-Qur'an
• Mengabaikan sunnah
• Terjebak dalam materialisme
• Kehilangan ruh dakwah
Maka kebangkitan tidak dimulai dari menyalahkan orang lain, tetapi dari memperbaiki diri sendiri.
Penutup: Kembali Sebelum Terlambat
Wahai jiwa yang gelisah…
Wahai hati yang lelah…
Dunia ini bukan tempat beristirahat, melainkan tempat berjuang.
Ketenangan bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada keterbagian hati kepada Allah.
Saatnya kita kembali:
• Dari lalai menuju sadar
• Dari gelap menuju terang
• Dari dunia menuju Allah
Karena sesungguhnya…
yang hilang dari manusia modern bukanlah harta, melainkan Allah di dalam hatinya.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra'd : 28)
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)