TintaSiyasi.id -- Kecelakaan dan kemacetan parah selalu mewarnai arus mudik dan arus balik terus berulang tiap tahunnya, terutama saat mudik di hari raya. Salah satu masalah mudik yang kini tengah menjadi sorotan adalah polri mencatat sebanyak 173 kecelakaan lalu lintas yang terjadi selama periode pemantauan arus mudik lebaran 2026, selasa (17/3/2026) pukul 18.00 WIB hingga rabu (18/3/2026) pukul 06.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 29 orang dilaporkan meninggal dunia.
“Pada periode ini, angka kecelakaan Lalu Lintas mencapai 173 kejadian. Dari jumlah tersebut, 29 orang meninggal dunia, 70 orang mengalami luka berat, dan 505 orang luka ringan. Kerugian material ditaksir mencapai lebih adri 1 Miliar,” kata juru bicara Operasi Ketupat 2026 Kombes Marupa Sagala dalam keterangannya. Marupa melanjutkan, Polri juga mencatat adanya peningkatan signifikan arus kendaraan keluar Jakarta. Sebanyak 142.00 kendaraan melintas melalui empat gerbang Tol utama, meningkat sekitar 45 persen dibandingkan kondisi normal. “Hal ini menunjukkan bahwa arus mudik lebaran 2026 mulai mengalami peningkatan yang cukup signifikan,” ujar Marupa (Kompas.com, 18/3/2026).
Permasalahan kecelakaan dan kemacetan parah saat arus mudik ataupun balik yang terus berulang setiap tahun menunjukkan upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini tampak kurang serius. Berbagai kebijakan cenderung bersifat teknis yang tidak mencakup lonjakan kendaraan seperti rekayasa lalu lintas, atau pengaturan arus kendaraan. Akibatnya, masalah yang sama terus menerus berulang dari tahun ke tahun tanpa adanya perbaikan signifikan baik dalam tingkat keselamatan maupun kelancaran dalam perjalanan. Persoalan mudik tidak hanya terlepas dari keterbatasan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau tetapi juga tanggung jawab pemerintah dalam mewujudkannya.
Berbagai strategi telah dilakukan oleh pihak kepolisian untuk memodifikasi lalu lintas dengan contraflow, OneWay, ganjil genap, delay System hingga pembatsan waktu operasional angkutan barang. Namun sayang, metode tersebut tidak memberikan hasil yang signifikan. Sehingga fenomena penumpukan pemudik selalu berulang dari tahun ke tahun tanpa ada solusi yang jelas dan efektif dalam menyelesaikannya.
Inilah salah satu bentuk kelalaian negara dalam mengurusi masalah rakyatnya. Seolah masyarakat telah memaklumi kelalaian negara tersebut. Sehingga masyarakat menciptakan suasana yang mewajarkan kelalaian tersebut, alhasil membuat negara lagi-lagi berlindung dari kesalahan-kesalahannya yang terus berulang.
Masalah kemacetan tidak mampu terselesaikan dengan baik, termasuk langkah antisipasinya. Sementara di sisi lain, perjalanan mudik yang selalu dibumbui dengan kesulitan, mengorbankan waktu yang dimiliki setiap individu dalam menjalankan kekhusyukan ibadah di malam-malam terakhir Ramadhan yang semestinya lebih khusyuk dan lebih berkualitas daripada waktu biasanya.
Semua ini sebagai konsekuensi diterapkannya sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada konsep keuntungan materi saja. Tanpa memperhitungkan dampak yang dirasakan Masyarakat. Salah satu aspek yang bisa dilihat, yakni jumlah alat transportasi yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk. Bahkan kelayakannya pun masih diragukan. Tidak hanya itu, masalah urbanisasi masih menjadi masalah yang terus terjadi hingga kini. Tingginya urbanisasi, yaitu jumlah penduduk desa yang berpindah ke kota, semakin meningkat dari tahun ke tahun. Alasan utamanya, karena tidak meratanya lapangan pekerjaan yang tersedia di desa.
Wajar saja, saat penduduk desa berbondong-bondong ke kota demi memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya jumlah penduduk di kota membludak dan menjadi masalah serius saat secara bersamaan harus pulang kampung. Negara tidak memiliki konsep yang jelas dalam menanggulangi dan mengantisipasi maslah mudik dan berbagai seluk beluknya. Solusi yang disajikan hanya Solusi-solusi parsial yang sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan. Lagi-lagi karena konsep kapitalisme sama sekali tidak mampu mengurusi urusan rakyat. Konsep ini hanya menguntungkan kepentingan para pengusaha oligarki yang selalu berusaha memperkaya pundi keuntungan pribadi. Kepentingan rakyat secara otomatis pun terlalaikan oleh negara.
Sementara itu di dalam Islam menetapkan bahwa negara berfungsi sebagai pengurus seluruh urusan rakyat. Semua ditetapkan dan diberlakukan sesuai hukum yang Allah SWT telah tetapkan. Rasulullah SAW Bersabda: “Imam adalah raa’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.” (HR.Bukhari).
Dalam Islam, mitigasi suatu masalah merupakan hal urgent yang mesti dilakukan. Tujuannya agar masalah tidak berulang kembali sehingga masalah yang sama selalau dialami rakyat tanpa mampu terurai sempurna dan mampu disolusikan dengan cerdas dan efektif. Mitigasi dapat optimal dilakukan jika negara yang amanah memiliki andil dan dominan dalam menetapkan kebijakan demi mengurusi urusan umat dan mengurangi resiko terulangnya kembali masalah yang sama. Dan konsep ini merupakan salah satu bentuk pengurusan negara atas rakyat, khususnya dalam hal transportasi mudik.
Negara amanah tersebut hanya mampu terealisasi dalam institusi khilafah. Satu-satunya wadah yang menerapkan syariat Islam sebagai aturan pengaturan urusan umat secara utuh dan menyeluruh. Terkait masalah transportasi, khilafah akan menyiapkan armada transportasi yang jumlahnya optimal, kualitas layak dengan jalur transportasi yang mampu menjamin keamanan setiap individu rakyat. Semua kebijakan bersandar pada pendanaan ala khilafah dalam pos-pos Baitul Mal.
Tidak hanya itu, khilafah pun akan menciptakan kebijakan urbanisasi agar penduduk desa tidakj melonjak tinggi di perkotaan. Antara lain dengan program pembangunan infrastruktur desa yang merata, dan mampu mendukung aktivitas setiap rakyat di desa. Lapangan pekerjaan pun demi mendukung kehidupan rakyat di desa. Dengan kebijakan yang amanah ala khilafah, penduduk desa tidak perlu repot-repot pindah ke kota demi penghidupan yang lebih baik, karena wilayah desa telah mampu memberikan potensi terbaik untuk setiap penduduknya. Tingkat urbanisasi yang rendah akan mengurangi jumlah pemudik dan populasi masyarakat desa dikota. Khilafah dalam konsep riayahnya, akan menjamin agar setiap individu mampu melaksanakan Ramadhan seoptimal mungkin. Pintu kekhusyukan sehingga buah takwa di bulan Ramadhan mampu diraih optimal.
Demikianlah, kosep Islam mengurusi umat. Konsepnya Amanah melahirkan berkah. Rahmat Allah SWT pun tercurah demi kehidupan dunia dan akhirat yang terintegrasi sempurna.
Wallahu a’lam bishshawab.[]
Oleh: Sandrina Luftia
Aktivis Muslimah