Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kecelakaan dan Macet Parah Saat Mudik Berulang Tiap Tahun, Butuh Pengurusan Umat yang Serius

Kamis, 02 April 2026 | 08:48 WIB Last Updated 2026-04-02T01:49:00Z

TintaSiyasi.id -- Kecelakaan dan kemacetan parah selalu mewarnai arus mudik dan arus balik. Kondisi ini seolah tidak berubah sebab permasalahan seperti ini selalu berulang setiap tahun saat momen lebaran. Bahkan kemacetan dan kecelakaan saat mudik pun telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit. 

Korlantas Polri mengungkap angka kecelakaan yang terjadi selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Paminbinwas Subdit Dakgar Dirgakkum Korlantas Polri, Ipda Hanny Neno, mengatakan jumlah ini dihimpun selama periode 13-19 Maret 2026. "Untuk laka lantas selisih di tahun 2025, 2026 naik 1,97%," kata Neno di Kantor Kemenhub, Jakarta, Kamis (19/3). (Kumparan.com, 19/03/2026)

Kondisi yang terus berulang ini menunjukkan tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mengatasi kecelakaan dan macet parah yang terjadi tiap waktu mudik. Hanya sebatas pada upaya teknis yang tidak mencukupi. Bahkan kemacetan panjang menyita waktu berjam-jam untuk melewati nya. Volume kendaraan yang sangat banyak sehingga kapasitas jalan yang ada tidak mampu untuk menampungnya. Kondisi ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi pemerintah agar tidak terulang di tahun berikutnya mengingat mudik adalah tradisi bagi masyarakat Indonesia.

Permasalahan mudik ini berkaitan erat dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan murah sehingga jumlah kendaraan pribadi melampaui batas dan melampaui panjang jalan. Apalagi pemerintah tidak memberikan batasan terhadap masuknya jumlah penjualan kendaraan pribadi, sehingga setiap orang atau keluarga mudik dengan menggunakan transportasi pribadi.
Banyaknya jumlah kendaraan dinegeri ini juga tidak lepas dari sifat konsumtif dalam kehidupan kapitalisme. Banyak nya jumlah kendaraan akan menambah pendapatan negara dengan pajak. 

Belum lagi kondisi jalan juga banyak yang rusak sehingga mengakibatkan rawan kecelakaan. Korlantas Polri dan Jasa Raharja mencatat jumlah kecelakaan lalu lintas pada periode 13–22 Maret 2026 atau selama masa siaga lebaran mencapai 2.119 kejadian. Dari jumlah tersebut, total korban kecelakaan tercatat sebanyak 3.597 orang, dengan 190 orang di antaranya meninggal dunia. (Nu.or.id, 24/3/2026)

Angka yang masih terbilang sangat tinggi. Padahal, kejadian tersebut akan bisa diminimalisir ketika penguasa benar-benar mengantisipasi suasana mudik dengan memperhatikan dan membenahi secara maksimal kondisi jalan demi keselamatan rakyatnya. Hal ini merupakan bentuk perhatian penguasa kepada rakyatnya. Negara dalam sistem kapitalisme tidak mewujudkan fungsi raa'in yang mengurusi rakyat. Negara abai menjamin keselamatan rakyat nya meskipun berkaitan dengan urusan nyawa. Padahal itu menjadi tanggungjawab penuh negara. Negara harus hadir dan siaga dalam setiap kondisi rakyatnya.

Islam memiliki konsep pemerintahan yang khas yaitu sistem Khilafah. Khilafah mewujudkan fungsi raa'in yang mengurusi urusan rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi termasuk masalah transportasi, keamanan dan kenyamanan saat berkendaraan. Negara khilafah akan menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi. Tidak hanya saat momen mudik lebaran tetapi juga untuk transportasi sehari-hari bagi masyarakat. Semua ini adalah tanggungjawab negara.  

Negara khilafah juga akan menyediakan akses jalan yang cukup dan memperbaiki yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan. Hal ini dapat kita lihat bagaimana Umar Bin Khattab sangat takut jika ada jalan yang rusak di wilayah kekuasaannya sehingga menyebabkan kecelakaan, seperti kaki hewan tunggangan (kuda atau unta) terperosok. Semua ini adalah wujud keseriusan seorang pemimpin kepada masyarakat. Jika hewan tunggangan saja sangat diperhatikan keberlangsungan hidup nya apalagi manusia. Sistem Khilafah yang menerapkan seluruh Syariat secara kaffah akan benar-benar mewujudkan kebaikan bagi seluruh alam semesta bahkan tidak hanya pada manusia dan tidak hanya pada kaum Muslim tetapi juga non-Muslim.

Sungguh sangat jauh berbeda kepemimpinan di masa penerapan syariat Islam (khilafah) yang mengurusi urusan umat dengan penuh tanggungjawab kepada Allah SWT dibandingkan dengan kepemimpinan sistem kapitalisme dalam mengurusi urusan umat dengan tidak serius.

Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Pipit Ayu
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update