Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kartini dan Para Perempuan Pejuang: Membaca Sejarah dengan Hati yang Adil dan Nurani yang Jernih

Jumat, 24 April 2026 | 11:18 WIB Last Updated 2026-04-24T04:18:28Z
TintaSiyasi.id -- Sejarah tidak selalu berdiri di atas keheningan fakta. Ia sering dibangun oleh suara yang paling lantang, oleh pena yang paling berkuasa, dan oleh kepentingan yang paling kuat. Maka ketika kita bertanya, “Mengapa yang diperingati adalah Kartini?”, sesungguhnya kita sedang mengetuk pintu kesadaran: apakah kita telah memahami sejarah secara utuh, atau hanya menerima narasi yang diwariskan?

Kartini: Simbol yang Diangkat, Bukan Satu-satunya yang Hebat

Nama Raden Ajeng Kartini begitu harum dalam ingatan bangsa. Ia dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan, seorang wanita yang gelisah melihat ketidakadilan terhadap kaumnya.

Namun, penting untuk dipahami:
Kartini bukan satu-satunya perempuan hebat dalam sejarah Islam Nusantara. Ia adalah simbol yang diangkat, bukan satu-satunya yang berjuang.

Kartini berjuang melalui:

tulisan

pemikiran

kritik sosial terhadap adat dan feodalisme

Ia tidak mengangkat senjata, tetapi mengangkat kesadaran.

Dan dalam Islam, pena yang jujur bisa lebih tajam dari pedang.

Perempuan Pejuang yang Terlupakan oleh Narasi Besar

Di balik gemerlap nama Kartini, ada sosok-sosok agung yang terkadang tidak mendapatkan ruang yang sama dalam ingatan kolektif bangsa:

1. Perempuan Pendidikan yang Nyata Aksinya

Dewi Sartika
Beliau tidak hanya berpikir, tetapi bertindak.
Ia mendirikan sekolah perempuan di tanah Sunda saat kondisi masih sangat terbatas.

Ia adalah bukti bahwa: Ilmu bukan hanya untuk direnungkan, tapi untuk ditegakkan dalam amal.

2. Perempuan Mujahidah di Medan Jihad

Cut Nyak Dien
Ia kehilangan suami, kehilangan harta, bahkan penglihatan—namun tidak kehilangan iman.

Ia adalah gambaran nyata firman Allah: “Di antara orang-orang beriman itu ada yang menepati janjinya kepada Allah...” (QS. Al-Ahzab: 23)

3. Perempuan Muda yang Menggetarkan Sejarah

Martha Christina Tiahahu
Di usia belia, ia sudah mengangkat senjata melawan penjajah.

Ia mengajarkan bahwa: Keberanian tidak menunggu tua, dan pengorbanan tidak menunggu sempurna.

Mengapa Kartini Lebih Dikenang? Sebuah Renungan Jujur

Sejarah memilih Kartini bukan semata karena ia paling hebat, tetapi karena:

1. Narasinya “mudah diterima”

Kartini adalah simbol:

intelektual

halus

tidak konfrontatif

Ia cocok dijadikan ikon nasional yang “aman”.

2. Warisan tulisan yang terdokumentasi

Pemikirannya tertulis dan disebarkan, salah satunya melalui peran J.H. Abendanon.

Tulisan membuat gagasan menjadi abadi.

3. Kebutuhan simbol nasional

Pada masa Sukarno, bangsa ini membutuhkan figur perempuan yang:

menyatukan

tidak memecah

dapat diterima lintas budaya

Kartini memenuhi kebutuhan itu.

Islam Tidak Mengajarkan Kultus Tokoh, Tapi Keteladanan

Dalam Islam, kita tidak diajarkan untuk mengkultuskan satu tokoh dan melupakan yang lain. Kita diajarkan untuk mengambil hikmah dari semua kebaikan.

Lihatlah bagaimana Islam memuliakan perempuan:

Khadijah binti Khuwailid sebagai pejuang ekonomi dan iman

Aisyah binti Abu Bakar sebagai ulama dan periwayat ilmu

Nusaibah binti Ka'ab sebagai mujahidah di medan perang

Mereka berbeda peran, tetapi sama dalam kemuliaan.

Pelajaran Besar untuk Umat Islam Hari Ini

1. Jangan terjebak pada satu narasi

Sejarah harus dibaca dengan:

ilmu

kejujuran

keberanian berpikir

2. Hargai semua bentuk perjuangan

Pena Kartini adalah perjuangan

Sekolah Dewi Sartika adalah perjuangan

Pedang Cut Nyak Dien adalah perjuangan

Darah Martha Tiahahu adalah perjuangan

Semuanya bernilai di sisi Allah, jika diniatkan karena-Nya.

3. Jadilah Kartini, sekaligus Dewi Sartika, sekaligus Cut Nyak Dien

Artinya:

berpikir tajam

beramal nyata

berani berkorban

Itulah Islam yang utuh.

Penutup: Menghidupkan Keadilan dalam Ingatan

Hari Kartini bukan untuk membatasi penghormatan hanya pada satu nama.
Tetapi seharusnya menjadi pintu untuk membuka kesadaran: Bahwa sejarah perempuan Indonesia penuh dengan cahaya yang belum semuanya disinari.

Maka tugas kita hari ini bukan memperdebatkan siapa yang paling layak, tetapi: melanjutkan perjuangan mereka semua dalam bentuk yang paling kita mampu.

Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan: “Tokoh mana yang kamu puji?”

Tetapi: “Apa yang kamu lakukan untuk umat ini?”

Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )

Opini

×
Berita Terbaru Update