TintaSiyasi.id -- Sejarah tidak selalu berdiri di atas keheningan fakta. Ia sering dibangun oleh suara yang paling lantang, oleh pena yang paling berkuasa, dan oleh kepentingan yang paling kuat. Maka ketika kita bertanya, “Mengapa yang diperingati adalah Kartini?”, sesungguhnya kita sedang mengetuk pintu kesadaran: apakah kita telah memahami sejarah secara utuh, atau hanya menerima narasi yang diwariskan?
Kartini: Simbol yang Diangkat, Bukan Satu-satunya yang Hebat
Nama Raden Ajeng Kartini begitu harum dalam ingatan bangsa. Ia dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan, seorang wanita yang gelisah melihat ketidakadilan terhadap kaumnya.
Namun, penting untuk dipahami:
Kartini bukan satu-satunya perempuan hebat dalam sejarah Islam Nusantara. Ia adalah simbol yang diangkat, bukan satu-satunya yang berjuang.
Kartini berjuang melalui:
tulisan
pemikiran
kritik sosial terhadap adat dan feodalisme
Ia tidak mengangkat senjata, tetapi mengangkat kesadaran.
Dan dalam Islam, pena yang jujur bisa lebih tajam dari pedang.
Perempuan Pejuang yang Terlupakan oleh Narasi Besar
Di balik gemerlap nama Kartini, ada sosok-sosok agung yang terkadang tidak mendapatkan ruang yang sama dalam ingatan kolektif bangsa:
1. Perempuan Pendidikan yang Nyata Aksinya
Dewi Sartika
Beliau tidak hanya berpikir, tetapi bertindak.
Ia mendirikan sekolah perempuan di tanah Sunda saat kondisi masih sangat terbatas.
Ia adalah bukti bahwa: Ilmu bukan hanya untuk direnungkan, tapi untuk ditegakkan dalam amal.
2. Perempuan Mujahidah di Medan Jihad
Cut Nyak Dien
Ia kehilangan suami, kehilangan harta, bahkan penglihatan—namun tidak kehilangan iman.
Ia adalah gambaran nyata firman Allah: “Di antara orang-orang beriman itu ada yang menepati janjinya kepada Allah...” (QS. Al-Ahzab: 23)
3. Perempuan Muda yang Menggetarkan Sejarah
Martha Christina Tiahahu
Di usia belia, ia sudah mengangkat senjata melawan penjajah.
Ia mengajarkan bahwa: Keberanian tidak menunggu tua, dan pengorbanan tidak menunggu sempurna.
Mengapa Kartini Lebih Dikenang? Sebuah Renungan Jujur
Sejarah memilih Kartini bukan semata karena ia paling hebat, tetapi karena:
1. Narasinya “mudah diterima”
Kartini adalah simbol:
intelektual
halus
tidak konfrontatif
Ia cocok dijadikan ikon nasional yang “aman”.
2. Warisan tulisan yang terdokumentasi
Pemikirannya tertulis dan disebarkan, salah satunya melalui peran J.H. Abendanon.
Tulisan membuat gagasan menjadi abadi.
3. Kebutuhan simbol nasional
Pada masa Sukarno, bangsa ini membutuhkan figur perempuan yang:
menyatukan
tidak memecah
dapat diterima lintas budaya
Kartini memenuhi kebutuhan itu.
Islam Tidak Mengajarkan Kultus Tokoh, Tapi Keteladanan
Dalam Islam, kita tidak diajarkan untuk mengkultuskan satu tokoh dan melupakan yang lain. Kita diajarkan untuk mengambil hikmah dari semua kebaikan.
Lihatlah bagaimana Islam memuliakan perempuan:
Khadijah binti Khuwailid sebagai pejuang ekonomi dan iman
Aisyah binti Abu Bakar sebagai ulama dan periwayat ilmu
Nusaibah binti Ka'ab sebagai mujahidah di medan perang
Mereka berbeda peran, tetapi sama dalam kemuliaan.
Pelajaran Besar untuk Umat Islam Hari Ini
1. Jangan terjebak pada satu narasi
Sejarah harus dibaca dengan:
ilmu
kejujuran
keberanian berpikir
2. Hargai semua bentuk perjuangan
Pena Kartini adalah perjuangan
Sekolah Dewi Sartika adalah perjuangan
Pedang Cut Nyak Dien adalah perjuangan
Darah Martha Tiahahu adalah perjuangan
Semuanya bernilai di sisi Allah, jika diniatkan karena-Nya.
3. Jadilah Kartini, sekaligus Dewi Sartika, sekaligus Cut Nyak Dien
Artinya:
berpikir tajam
beramal nyata
berani berkorban
Itulah Islam yang utuh.
Penutup: Menghidupkan Keadilan dalam Ingatan
Hari Kartini bukan untuk membatasi penghormatan hanya pada satu nama.
Tetapi seharusnya menjadi pintu untuk membuka kesadaran: Bahwa sejarah perempuan Indonesia penuh dengan cahaya yang belum semuanya disinari.
Maka tugas kita hari ini bukan memperdebatkan siapa yang paling layak, tetapi: melanjutkan perjuangan mereka semua dalam bentuk yang paling kita mampu.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan: “Tokoh mana yang kamu puji?”
Tetapi: “Apa yang kamu lakukan untuk umat ini?”
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )