Tintasiyasi.id com -- Urbanisasi adalah peningkatan jumlah populasi penduduk yang signifikan di wilayah perkotaan, dibandingkan wilayah pedesaan. Umumnya disebabkan oleh perpindahan penduduk dari desa ke kota (migrasi) atau perubahan status wilayah menjadi kota.
Sebagian besar penduduk berpindah ke kota dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Fasilitas publik perkotaan yang memadai dan lapangan pekerjaan yang mungkin lebih banyak tersedia di daerah perkotaan.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Nasional proyeksi jumlah penduduk DKI Jakarta diperkirakan mencapai sekitar 10,66 hingga 10,88 juta jiwa. Hal ini menjadikan DKI menjadi provinsi terpadat di Indonesia dengan kepadatan mencapai 16.129 jiwa/km2 .
Sementara itu setelah lebaran 2026 (per 1 April) menunjukkan 1776 orang baru masuk ke kota Jakarta yang didominasi oleh usia yang produktif. Di antara mereka datang untuk melakukan pendidikan ataupun mencari pekerjaan.
Padatnya jumlah penduduk di suatu kota akan berbanding lurus dengan berkurangnya jumlah penduduk daerah pedesaan. Sehingga, fenomena ini akan menjadi permasalahan baru yang juga harus diperhatikan oleh pemerintah.
Fenomena urbanisasi menjadi PR besar mengingat daerah juga punya potensi besar untuk diberdayakan sementara masyarakatnya malah berpindah dari daerah tersebut. Disisi lain daerah perkotaan juga terbebani secara demografi.
Urbanisasi menunjukkan bahwa ketimpangan berbagai sector nyata terjadi.baik dari segi ekonomi maupun infrastruktur dan pembangunan. Kota dianggap lebih modern dan menjanjikan kehidupan yang layak bagi perantau.
Sementara desa dianggap kurungan sehingga berasumsi sulit berkembang. Porsi pembangunan didaerah pedesaan juga terbatas. Hal inilah yang menyebabkan desa semakin kehilangan daya tarik bagi generasi muda untuk melanjutkan kehidupan di desa.
Dampak Kapitalisme
Ketimpangan dalam berbagai aspek yang terjadi akibat penerapan system Kapitalisme Demokrasi. Dalam sistem ini pengendali kebijakan publik ada ditangan para kapital (pemilik modal) sehingga orientasi pembangunan bukan pada kebutuhan Masyarakat, akan tetapi berorientasi pada bisnis dan keuntungan semata.
Walaupun digadang-gadang bahwa landasan politik ekonomi kapitalisme adalah peningkatan pendapatan perkapita. Jelas ini omong kosong karena hanya angka yang terlihat sejahtera faktanya dilapangan masyarakat merana.
Masih banyak yang terlunta-lunta hanya karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pimer keluarga mereka.inikah yang disebut ekonomi kita naik secara angka dan nihil pada realita?
Jika menelisik lebih mendalam kedaerah yang tidak terjamah pemerintah, kehidupan mereka begitu miris, kampung mereka minim fasilitas, anak-anak mereka stunting, pendidikan tidak memadai dan kondisi seperti ini akan banyak sekali kita temui didaerah terpencil yang ada di Indonesia.
Tentu ini sangat signifikan perbedaannya dengan yang dikota, kehidupan yang serba canggih dan fasilitas yang sangat memadai. Tentu kehidupan seperti ini yang diimpikan banyak orang sehingga terjadilah fenomena Urbanisasi ini. Ini adalah potret nyata ketimpangan kehidupan masyarakat desa dan kota, yang seharusnya menjadi PR besar bagi negara untuk melakukan pemerataan dalam pembangunan.
Islam dan Cara Mengatasi Ketimpangan
Islam memandang bahwa setiap individu berhak diberikan kehidupan yang layak diamanapun daerah tempat tinggal mereka. Tinta sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Islam sukses memberikan kesejahteraan pada warga negara mereka.
Prinsip yang dipakai oleh pemimpin Islam disandarkan pada hadits;
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari).
Khalifah sebagai pemimpin negara menjadikan Al-quran sebagai tuntunan dalam menjalankan amanah kepemimpinan, sehingga kesejahteraanpun dirasakan oleh warga negara dimanapun wilayah mereka berada.[]
Oleh: Putri Permata Sari, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)