TintaSiyasi.id -- Mengalisa kondisi dunia hari ini yang terbagi menjadi beberapa blok (kelompok) kerjasama, Analis Ekonomi dari Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan, ini bukan sekadar kerjasama biasa, tapi ini adalah tanda dunia sedang membangun jalurnya sendiri.
"Ini bukan sekedar kerjasama. Ini adalah tanda bahwa dunia sedang membangun jalurnya sendiri tetapi di tengah semua ini ada satu perubahan besar yang sering terlewat," ujarnya di akun TikTok ismail.pkad, Selasa (14/4/2026).
Ia mengungkapkan, dunia hari ini tidak lagi bergerak dalam satu arus global yang sama. Ia mulai terbelah perlahan tetapi pasti menjadi blok-blok ekonomi baru. Disatu sisi ada aliansi Jepang, Amerika Serikat yang memperkuat diri lewat teknologi dan investasi.
"Disisi lain, muncul poros baru, Australia-Uni Eropa pada Maret 2026. Mereka menandatangi perjanjian perdagangan bebas nilainya tidak kecil, sekitar 10 miliar dolar Australia per tahun dan sebelumnya sudah ada perdagangan lebih dari €47 miliar per tahun," tambahnya.
Ia mengatakan, masyarakat sedang hidup di masa transisi, dunia berubah dari satu sistem global menjadi banyak sistem yang saling bersaing, blok besar mungkin akan saling mengunci dan dalam proses itu melemahkan diri mereka sendiri.
Jepang-Amerika Serikat memperkuat teknologi, Australia-Eropa membangun rantai pasok baru menghadapi tekanan. Terlihat seperti kompetisi biasa tetapi sebenarnya ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar yaitu fragmentasi ekonomi global. Ketika perdagangan mulai dibatasi oleh blok, teknologi tidak lagi bebas, pasar menjadi eksklusif, maka, dunia tidak saling terhubung tetapi saling bersaing. Di sinilah paradoksnya makin kuat aliansi dibangun, makin besar dunia terpecah tetapi justru di tengah perpecahan ini muncul peluang.
Kemudian, lanjut dia, Cina yang selama ini menjadi mesin ekonomi dunia mulai melambat. Pertumbuhan akhir 2025 hanya 4,5 persen investasi bahkan turun sekitar 3,8 persen. Artinya salah satu pilar utama ekonomi global mulai kehilangan momentumnya, sekarang bayangkan situasinya.
"Bagaimana jika ada blok baru yang selama ini belum benar-benar bersatu? Dunia Islam, dengan populasi besar, sumber daya melimpah dan pasar luas dari Asia Tenggara, Timur Tengah hingga Afrika Utara potensinya sangat besar," tanyanya.
Bayangkan, lanjutnya, jika perdagangan antar negeri muslim diperkuat, industri saling terhubung dan pasar dimanfaatkan secara kolektif, ini bukan sekadar alternatif ini bisa jadi keseimbangan baru ekonomi global.
"Tetapi sejarah menunjukkan di tengah perubahan besar, selalu ada kekuatan baru yang lahir, sekarang pertanyaannya untuk kita apakah dunia Islam siap bersatu secara ekonomi dan politik atau akan hanya menjadi penonton dalam peta dunia baru?" Pungkasnya.[] Alfia