TintaSiyasi.id -- Di zaman ketika manusia hidup dalam sorotan penilaian tanpa henti—di media sosial, di lingkungan kerja, bahkan dalam lingkaran dakwah—kita sering terjebak dalam satu penyakit halus namun mematikan: ketergantungan pada penilaian manusia.
Kita ingin dipahami.
Kita ingin diterima.
Kita ingin dihargai.
Namun, tanpa kita sadari, keinginan itu perlahan menggerus keikhlasan, melemahkan keberanian, dan mengaburkan tujuan hidup kita sebagai hamba.
Di tengah kegelisahan ini, muncul sebuah gagasan sederhana namun revolusioner dari Mel Robbins dalam bukunya The Let Them Theory: “Let them…” — Biarkan mereka.
Kalimat ini tampak sederhana, tetapi jika direnungi dalam-dalam, ia adalah pintu menuju kemerdekaan batin dan kejernihan tauhid.
Belenggu Penilaian Manusia: Penyakit Zaman Modern
Salah satu bentuk penjajahan modern bukan lagi fisik, melainkan penjajahan psikologis dan sosial—ketika manusia hidup bukan berdasarkan nilai kebenaran, tetapi berdasarkan apa kata orang.
Akibatnya:
Kebenaran menjadi relatif
Prinsip menjadi fleksibel
Dakwah menjadi kompromistis
Dan keikhlasan menjadi langka
Inilah yang dalam perspektif ruhani disebut sebagai: “Syirik khafi” (kesyirikan yang tersembunyi) — ketika hati lebih takut pada penilaian manusia daripada murka Allah.
Padahal, dalam perjalanan menuju Allah, tidak mungkin kita menyenangkan semua orang.
“Let Them” dalam Cahaya Tauhid
Konsep “biarkan mereka” sejatinya sangat dekat dengan inti ajaran Islam:
1. Tauhid sebagai Pembebasan
Tauhid bukan hanya pengakuan bahwa Allah itu Esa, tetapi juga: membebaskan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya
Ketika seseorang masih gelisah karena omongan manusia, sejatinya ia belum sepenuhnya merdeka.
Ia masih “terjajah” oleh makhluk.
2. Ikhlas: Amal Tanpa Penonton
Para ulama salaf berkata: “Ikhlas adalah ketika engkau tidak peduli apakah manusia melihat atau tidak.”
Maka, “let them” adalah latihan ikhlas:
Biarkan mereka memuji → kita tidak terbang
Biarkan mereka mencela → kita tidak tumbang
Karena kita tahu, nilai amal tidak ditentukan oleh manusia, tetapi oleh Allah.
3. Tawakal: Menyerahkan Penilaian kepada Allah
Seringkali kita ingin mengontrol narasi tentang diri kita. Kita ingin semua orang memahami niat kita.
Padahal: Tidak semua orang ditakdirkan untuk mengerti kita.
Di sinilah tawakal bekerja:
Kita luruskan niat
Kita lakukan yang terbaik
Lalu kita serahkan hasil dan penilaian kepada Allah
Jalan Para Nabi: Tidak Semua Disukai
Jika kita ingin selalu disukai semua orang, maka kita tidak sedang mengikuti jalan para nabi.
Nuh ditertawakan kaumnya
Ibrahim dibakar oleh penguasa
Musa ditentang Fir’aun
Bahkan Muhammad dihina, dicaci, dan dituduh gila
Apakah mereka berhenti karena penilaian manusia?
Tidak.
Mereka tetap melangkah, karena mereka tahu: Kebenaran tidak diukur dari jumlah orang yang menyukai, tetapi dari kedekatannya dengan wahyu.
Kematangan Ruhani: Tidak Reaktif terhadap Penilaian
Orang yang belum matang secara ruhani akan:
Mudah tersinggung
Mudah marah
Sibuk membela diri
Haus klarifikasi
Namun, orang yang telah mengenal Allah akan:
Tenang dalam hinaan
Rendah hati dalam pujian
Fokus pada amal, bukan citra
Ia memahami bahwa: Tidak semua suara perlu dijawab, dan tidak semua tuduhan perlu diluruskan.
Kadang, diam adalah bentuk kedewasaan.
Kadang, membiarkan adalah bentuk kekuatan.
“Let Them” sebagai Strategi Dakwah
Dalam dakwah, prinsip ini sangat penting:
1. Jangan berhenti berdakwah hanya karena cibiran
Jika setiap kritik membuat kita mundur, maka dakwah tidak akan pernah berjalan.
2. Fokus pada misi, bukan persepsi
Dakwah bukan tentang popularitas, tetapi tentang menyampaikan kebenaran.
3. Bangun kekuatan internal, bukan citra eksternal
Yang dibutuhkan umat bukan dai yang “disukai semua orang”, tetapi dai yang jujur, berani, dan ikhlas.
Latihan Praktis “Biarkan Mereka”
Mulailah dari hal kecil:
Saat ada yang meremehkan → Biarkan. Tingkatkan kualitas dirimu.
Saat ada yang salah paham → Biarkan. Waktu akan menjelaskan.
Saat ada yang membencimu → Biarkan. Tidak semua hati diciptakan untuk menyukaimu.
Dan tanamkan dalam hati: “Aku tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi manusia, tetapi untuk menunaikan amanah dari Allah.”
Penutup: Menuju Kemerdekaan Sejati
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengejar validasi manusia.
Dan terlalu berharga untuk dikendalikan oleh opini yang tidak pasti.
Biarkan mereka berbicara.
Biarkan mereka menilai.
Biarkan mereka salah paham.
Karena pada akhirnya…
Bukan apa yang manusia katakan tentangmu yang akan menyelamatkanmu,
tetapi apa yang Allah nilai dari hatimu.
Saat hati hanya bergantung kepada Allah,
maka seluruh penilaian manusia kehilangan kekuatannya.
Dan di situlah…
engkau benar-benar merdeka.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)