Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Zuhud terhadap Waktu: Membebaskan Jiwa dari Tipu Daya Angan

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:48 WIB Last Updated 2026-03-31T14:48:11Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Waktu sebagai Amanah Ilahi

Dalam perjalanan hidup manusia, waktu adalah karunia paling misterius sekaligus paling menentukan. Ia datang tanpa diminta, berjalan tanpa bisa dihentikan, dan pergi tanpa bisa dipanggil kembali. Namun ironisnya, justru sesuatu yang paling berharga ini sering kali menjadi yang paling diabaikan.

Atsar dari Aun bin Abdullah memberikan peringatan yang menggugah kesadaran:
“Berapa banyak orang yang menghadapi hari ini namun tidak mampu menggunakannya secara baik, dan berapa banyak orang yang menanti hari esok namun tidak bisa menggapainya…”
Ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi sebuah ideologi hidup: bahwa waktu adalah ladang amal, dan setiap detik adalah peluang menuju Allah atau justru menjauh dari-Nya.

Waktu dalam Perspektif Wahyu
Allah ﷻ menegaskan kemuliaan waktu dalam Surah Al-Asr:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian…”
Ayat ini menegaskan bahwa manusia secara default berada dalam kerugian. Hanya mereka yang mampu mengelola waktu dengan empat pilar yang selamat:
1. Iman yang kokoh
2. Amal shalih yang konsisten
3. Dakwah dalam kebenaran
4. Kesabaran dalam perjuangan
Maka jelas, waktu bukan sekadar durasi hidup, tetapi kualitas hubungan kita dengan Allah.

Panjang Angan-Angan: Ideologi Kelalaian
Allah ﷻ memperingatkan dalam Surah Al-Hijr Ayat 3:
“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan, kelak mereka akan mengetahui.”
Panjang angan-angan (ṭūl al-amal) adalah penyakit laten yang meninabobokan jiwa. Ia bekerja secara halus, tanpa disadari, namun dampaknya sangat menghancurkan.
Ciri-cirinya:
• Menunda taubat karena merasa masih panjang umur
• Menganggap ibadah bisa dilakukan nanti
• Meremehkan dosa kecil
• Terlalu fokus pada dunia dan melupakan akhirat
Padahal hakikatnya:
Setiap penundaan adalah bentuk penipuan terhadap diri sendiri.

Dimensi Sufistik: Waktu sebagai Jalan Menuju Ma’rifat
Dalam pandangan tasawuf, waktu adalah “ruang perjumpaan” antara hamba dan Tuhannya. Setiap detik adalah kesempatan untuk:
• Mengingat Allah
• Membersihkan hati
• Mendekatkan diri kepada-Nya
Para ulama salaf berkata:
“Engkau adalah kumpulan hari. Setiap hari yang berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi.”
Zuhud terhadap waktu berarti:
• Tidak terikat dengan dunia yang fana
• Tidak menunda amal karena angan
• Tidak lalai dari dzikir dalam setiap keadaan
Ini adalah maqam ruhani yang tinggi, di mana seseorang hidup di dunia, tetapi hatinya selalu bersama Allah.

Kematian: Realitas yang Membongkar Ilusi
Aun bin Abdullah melanjutkan:
“Seandainya kalian menunggu hingga ajal tiba, niscaya kalian akan marah kepada cita-cita dan tipu dayanya.”
Kematian adalah titik balik kesadaran yang tidak bisa ditawar. Ia datang:
• Tanpa pemberitahuan
• Tanpa penundaan
• Tanpa kompromi
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Munafiqun Ayat 10:
“Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi…”
Namun permintaan itu tidak akan pernah dikabulkan. Karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Kritik Ideologis: Krisis Kesadaran Waktu
Peradaban modern telah menciptakan manusia yang sibuk tetapi kosong. Kita melihat:
• Banyak aktivitas, tetapi minim makna
• Banyak rencana, tetapi tanpa arah akhirat
• Banyak hiburan, tetapi miskin ketenangan
Inilah bentuk krisis ideologis:
manusia kehilangan orientasi waktu sebagai jalan menuju Allah.
Dakwah ideologis-sufistik hadir untuk:
• Mengembalikan kesadaran akan hakikat hidup
• Menyadarkan bahwa dunia hanyalah persinggahan
• Menegaskan bahwa akhirat adalah tujuan

Strategi Ruhani: Menghidupkan Zuhud terhadap Waktu
Untuk membebaskan diri dari jebakan angan-angan, diperlukan latihan jiwa yang berkelanjutan:
1. Hidup dalam Kesadaran “Hari Ini”
Jangan bergantung pada masa depan yang belum pasti. Jadikan hari ini sebagai momentum perubahan.
2. Pendekkan Angan-Angan
Latih diri untuk tidak terlalu jauh merancang dunia, tetapi fokus pada amal yang nyata.
3. Disiplin Amal Harian
Bangun rutinitas ruhani:
• Shalat tepat waktu
• Tilawah Al-Qur’an
• Dzikir pagi dan petang
• Sedekah meski sedikit
4. Muhasabah Waktu
Setiap malam, tanyakan pada diri:
Apa yang telah aku lakukan hari ini untuk akhiratku?
5. Mengingat Kematian
Bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menajamkan arah hidup.

Penutup: Waktu adalah Jalan Pulang
Wahai jiwa yang merindukan Allah…
Engkau tidak hidup untuk dunia ini selamanya.
Engkau hanya sedang singgah, mengumpulkan bekal.
Setiap detik yang berlalu adalah saksi:
• Apakah engkau mendekat kepada-Nya
• Ataukah semakin tenggelam dalam kelalaian
Maka jangan tertipu oleh panjangnya usia, karena yang menentukan bukan lamanya hidup, tetapi berkahnya waktu.
Zuhud terhadap waktu adalah jalan para salihin:
mengosongkan hati dari dunia, dan mengisinya dengan Allah.
Semoga kita termasuk hamba yang:
• Menghargai waktu sebagai amanah
• Mengisinya dengan amal shalih
• Dan menghadap Allah dengan hati yang selamat
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update