Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

“Yas’alunaka”: Jalan Pertanyaan Menuju Cahaya Ilahi

Selasa, 31 Maret 2026 | 15:41 WIB Last Updated 2026-03-31T08:41:57Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Ketika Manusia Bertanya, Allah Menjawab

Di antara keindahan agung Al-Qur’an adalah dialognya yang hidup. Ia bukan kitab yang membisu, melainkan kitab yang menyapa kegelisahan manusia. Salah satu bentuk sapaan itu adalah ayat-ayat yang diawali dengan:

“يَسْأَلُونَكَ” — “Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad)...”
Kalimat ini bukan sekadar pertanyaan. Ia adalah cermin kegelisahan manusia, sekaligus jembatan menuju jawaban Ilahi.
Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Ath-Thabari menegaskan bahwa ayat-ayat ini turun sebagai respons atas pertanyaan umat—baik dari kalangan sahabat, kaum musyrik, maupun Ahlul Kitab. Namun dalam perspektif yang lebih dalam, ayat ini adalah metode pendidikan Allah dalam membimbing jiwa manusia.

Di sinilah letak rahasianya:
Bahwa manusia hidup dalam pertanyaan, dan Allah menuntunnya menuju jawaban.

Bagian I: Hakikat Bertanya dalam Jalan Ruhani
Dalam kehidupan sufistik, bertanya bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan gerak batin menuju kebenaran.
Menurut Fakhruddin ar-Razi, pertanyaan dalam Al-Qur’an seringkali bukan hanya untuk memperoleh jawaban, tetapi untuk menggugah kesadaran.

Sementara dalam tradisi tasawuf yang diajarkan oleh Abdul Qadir al-Jailani, pertanyaan adalah tanda bahwa:
• Hati masih hidup
• Ruh masih mencari
• Jiwa belum puas dengan dunia
Maka, orang yang berhenti bertanya sejatinya telah mati sebelum mati.
Namun tidak semua pertanyaan bernilai.
Ada pertanyaan yang lahir dari kesombongan, dan ada yang lahir dari kerinduan.
• Pertanyaan kesombongan melahirkan debat
• Pertanyaan kerinduan melahirkan hidayah
“Yas’alūnaka” adalah pertanyaan yang dijawab oleh langit, karena ia lahir dari kebutuhan jiwa manusia akan cahaya.

Bagian II: “Qul” — Jawaban yang Bukan dari Dunia
Menariknya, hampir seluruh ayat “yas’alūnaka” diikuti oleh satu kata agung:
“قُلْ” — “Katakanlah...”
Ini adalah perintah langsung dari Allah kepada Rasulullah ﷺ.
Menurut Al-Qurthubi, kata “Qul” menegaskan bahwa:
Rasul tidak berbicara dari hawa nafsu, tetapi dari wahyu.
Ini mengandung pelajaran ideologis yang sangat penting:
1. Kebenaran bukan hasil spekulasi manusia
2. Wahyu adalah sumber otoritas tertinggi
3. Akal harus tunduk kepada cahaya Ilahi
Di era modern, manusia sering menjadikan akal sebagai “tuhan kecil”. Segala sesuatu harus logis, harus rasional, harus empiris.
Namun “yas’alūnaka” mengajarkan:
Tidak semua kebenaran bisa dijangkau akal, tetapi semua kebenaran bisa diterangi wahyu.

Bagian III: Ragam Pertanyaan, Satu Tujuan — Hidayah
Jika kita telusuri ayat-ayat “yas’alūnaka”, kita akan menemukan bahwa pertanyaan manusia sangat beragam:
1. Tentang yang Ghaib (Ruh, Hilal, Kiamat)
Manusia ingin mengetahui apa yang tidak terlihat.
Namun Allah sering menjawab secara terbatas.
Agar manusia belajar bahwa:
Ilmu tertinggi adalah mengetahui batas ketidaktahuan.

2. Tentang Syariat (Khamr, Haid, Infak)
Manusia ingin tahu apa yang halal dan haram.
Jawaban Allah sering bertahap.
Karena:
Perubahan sejati bukan pada hukum, tetapi pada kesiapan hati.

3. Tentang Kehidupan Sosial (Harta, Anak Yatim, Ghanimah)
Manusia bertanya tentang dunia.
Namun Allah menjawab dengan nilai.
Karena:
Islam tidak hanya mengatur perbuatan, tetapi membentuk jiwa.

Bagian IV: Dimensi Ideologis — Membangun Peradaban dengan Wahyu
Ayat-ayat “yas’alūnaka” mengandung pesan ideologis yang sangat kuat:
1. Islam adalah agama dialog, bukan dogma kaku
2. Islam menghargai akal, tetapi tidak mengkultuskannya
3. Islam membangun peradaban melalui wahyu dan hikmah
Dalam konteks dakwah modern, ini menjadi sangat relevan:
• Umat tidak boleh anti-pertanyaan
• Dakwah tidak boleh anti-intelektual
• Namun juga tidak boleh kehilangan ruh wahyu
Dakwah harus menjadi ruang dialog yang mencerahkan, bukan sekadar ceramah yang menggurui.

Bagian V: Dimensi Sufistik — Dari Bertanya Menuju Ma’rifat
Dalam perjalanan menuju Allah, manusia melewati tiga fase:
1. Bertanya (Talab)
2. Mengetahui (‘Ilm)
3. Menyaksikan (Ma’rifat)
“Yas’alūnaka” adalah fase pertama: pencarian.
Namun jika berhenti pada ilmu, maka ia hanya menjadi pintar.
Jika naik kepada ma’rifat, maka ia menjadi dekat dengan Allah.
Sebagaimana isyarat para ulama:
“Ilmu tanpa rasa adalah kering,
dan rasa tanpa ilmu adalah sesat.”
Maka, pertanyaan yang benar adalah yang membawa kita dari:
• akal → hati
• hati → ruh
• ruh → Allah SWT

Bagian VI: Krisis Manusia Modern — Banyak Bertanya, Sedikit Tunduk
Hari ini, manusia modern hidup dalam banjir informasi:
• Semua bisa ditanya
• Semua bisa dicari
• Semua bisa diperdebatkan
Namun satu yang hilang: ketundukan.
Mereka bertanya bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk:
• Membantah
• Menjatuhkan
• Membenarkan diri
Maka lahirlah generasi yang:
• Cerdas akalnya
• Tetapi gelap hatinya
Ayat “yas’alūnaka” mengingatkan kita:
Bertanyalah seperti sahabat, bukan seperti pembangkang.
Bertanyalah untuk mendapat cahaya, bukan untuk memadamkan kebenaran.

Penutup: Dari Pertanyaan Menuju Ketundukan
Wahai jiwa yang mencari…
Setiap pertanyaan yang kau ajukan, sejatinya adalah panggilan dari dalam hatimu.
Dan setiap jawaban dari Al-Qur’an adalah undangan dari Tuhanmu.
Jangan berhenti bertanya…
Namun pastikan pertanyaanmu membawamu kepada:
• Kerendahan hati
• Kedekatan kepada Allah
• Dan ketundukan total kepada kebenaran
Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang:
“Aku ingin tahu segalanya”
tetapi tentang:
“Aku ingin mengenal-Mu, ya Allah…”

Doa Penutup
“Ya Allah, ajarkan kami ilmu yang bermanfaat,
bimbing kami dalam setiap pertanyaan,
dan jadikan setiap jawaban sebagai jalan menuju ma’rifat kepada-Mu.”

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update