“Demi Masa” – Jalan Keluar dari Potensi Kerugian Manusia
TintaSiyasi.id -- Surah yang sangat pendek ini hanya terdiri dari tiga ayat, namun para ulama seperti Imam Asy-Syafi'i pernah mengatakan bahwa seandainya manusia merenungkannya dengan sungguh-sungguh, niscaya surah ini sudah cukup menjadi pedoman hidup. Mengapa? Karena di dalamnya terkandung peta kehidupan, peringatan kerugian, dan solusi keselamatan.
1. Demi Masa: Sumpah atas Waktu yang Terus Berlalu
Allah membuka dengan sumpah: “Wal ‘ashr” (Demi masa).
Sumpah ini menunjukkan betapa agungnya nilai waktu. Waktu adalah modal utama manusia. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa diulang, dan tidak bisa ditunda.
Dalam perspektif spiritual, waktu adalah:
• Amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
• Ladang tanam bagi kehidupan akhirat.
• Penentu nilai diri, bukan usia, bukan jabatan, bukan harta.
Orang yang tidak sadar waktu, sebenarnya sedang berjalan menuju kerugian tanpa ia sadari.
2. Potensi Kerugian Manusia: Ancaman Universal
Allah menegaskan:
“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.”
Kata al-insān (manusia) bersifat umum. Artinya, secara default manusia berada dalam potensi rugi. Kerugian itu bisa berupa:
• Rugi umur tanpa makna
• Rugi kesempatan tanpa amal
• Rugi ilmu tanpa pengamalan
• Rugi harta tanpa keberkahan
• Rugi hidup tanpa arah Ilahi
Kerugian ini bukan hanya materi, tetapi kerugian eksistensial: hidup tanpa nilai abadi.
3. Empat Pilar Keselamatan: Jalan Keluar dari Kerugian
Allah memberi pengecualian melalui empat syarat keselamatan:
1. Iman
Iman adalah fondasi. Tanpa iman, amal kehilangan orientasi.
Iman melahirkan kesadaran bahwa waktu adalah titipan Allah.
2. Amal Shalih
Iman harus produktif. Amal shalih berarti segala aktivitas yang sesuai syariat dan membawa maslahat.
Belajar, bekerja, berdakwah, membangun keluarga—jika diniatkan karena Allah—menjadi investasi akhirat.
3. Saling Menasihati dalam Kebenaran
Keselamatan bukan proyek individu, tetapi kolektif.
Masyarakat yang saling mengingatkan akan lebih kuat menghadapi penyimpangan zaman.
4. Saling Menasihati dalam Kesabaran
Jalan iman dan amal tidak selalu mudah. Ada ujian, fitnah, dan tekanan.
Kesabaran adalah energi spiritual agar tetap istiqamah.
4. Kolektif dalam Menghindari Kerugian
Surah ini menggunakan bentuk jamak: “tawāshau” (saling menasihati).
Artinya:
• Keluarga harus membangun budaya produktif.
• Lembaga pendidikan harus menanamkan nilai waktu.
• Umat harus saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Kerugian sering terjadi karena hidup individualistik.
Keselamatan lahir dari kebersamaan dalam iman dan kebenaran.
5. Aplikasi: Gunakan Waktu Secara Produktif
Bagaimana mengamalkan QS. Al-‘Ashr dalam kehidupan nyata?
1. Miliki Target Harian Bernilai Akhirat
• Shalat tepat waktu
• Tilawah Al-Qur’an
• Sedekah walau sedikit
• Menambah ilmu
2. Kurangi Aktivitas Tanpa Nilai
Batasi scrolling tanpa arah, percakapan sia-sia, dan aktivitas yang tidak menambah kualitas iman atau ilmu.
3. Bagi Waktu dalam 3 Zona
• Zona Ibadah
• Zona Karya dan Produktivitas
• Zona Keluarga dan Dakwah
Semua diniatkan karena Allah.
4. Bangun Lingkungan Saling Mengingatkan
Cari sahabat yang mendorong produktivitas ruhani dan intelektual.
Refleksi Penutup
QS. Al-‘Ashr adalah alarm kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa:
• Waktu terus berjalan.
• Kerugian mengintai setiap insan.
• Keselamatan hanya bagi yang beriman, beramal, dan saling menasihati.
Maka pertanyaannya bukan berapa lama kita hidup,
tetapi seberapa produktif waktu kita untuk keabadian.
Demi masa…
Jangan sampai kita pulang kepada Allah dalam keadaan rugi.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)