TintaSiyasi.id --President Trump mocks Saudi Arabia’s Crown Prince Bin Salman:
”He didn’t think he would be kissing my ass, he really didn’t…and now he has to be nice to me….he better be nice to me, he’s gotta be..”
Presiden Trump mengejek Putra Mahkota Arab Saudi Bin Salman: “Dia tidak menyangka akan mencium pantatku, sungguh tidak… dan sekarang dia harus bersikap baik padaku…. dia harus bersikap baik padaku, dia memang harus begitu..”
Penghinaan vulgar seperti ini tidak layak diucapkan terlebih lagi di depan publik dalam forum resmi. Sepatutnya negara Saudi Arabia melakukan kecaman dan marah kepada Trump, menunjukkan kemulian tanpa rasa takut dan gentar.
Penulis teringat dengan Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat kepada penguasa besar negara super power termasuk Romawi (Heraklius) dan Persia (Khusrau II), pada awal tahun ketujuh Hijriyah. Surat-surat tersebut dikirimkan dengan penuh keberanian dan ketegasan, tanpa rasa takut, melalui para sahabat sebagai utusan ke berbagai penjuru negara, Nabi Muhammad SAW tidak gentar menghadapi kekuatan superpower saat itu.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW ini menjadi pelajaran penting bagi dunia Islam hari ini: bahwa kehormatan tidak boleh ditukar dengan kepentingan politik sesaat, dan bahwa keberanian moral harus tetap menjadi pijakan dalam menghadapi tekanan global.
Ungkapan tersebut tidak hanya merendahkan martabat individu, tetapi juga mencederai etika diplomasi internasional yang seharusnya dijunjung tinggi oleh para pemimpin dunia.
Dalam hubungan antarnegara, prinsip saling menghormati adalah fondasi utama. Oleh karena itu, sudah sepatutnya Arab Saudi menunjukkan sikap tegas melalui kecaman resmi, sebagai bentuk menjaga kehormatan dan tanpa rasa takut maupun gentar terhadap tekanan politik global.
Pernyataan yang dilontarkan oleh Donald Trump terhadap Putra Mahkota Mohammed bin Salman bukan sekadar candaan kasar melainkan penghinaan vulgar, arogan, dan merendahkan martabat bangsa.
Ucapan tersebut mencerminkan watak superioritas yang selama ini kerap dipertontonkan dalam relasi antara kekuatan Barat dan dunia Islam: relasi yang dibangun bukan atas dasar kehormatan, tetapi dominasi.
Lebih dari itu, pernyataan ini adalah tamparan terbuka terhadap harga diri Arab Saudi. Jika penghinaan seperti ini dibiarkan tanpa respons tegas, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kehormatan seorang putra mahkota, tetapi kedaulatan politik dan posisi tawar sebuah negara di hadapan dunia.
Diam dalam situasi ini bukanlah diplomasi melainkan tunduk.
Demikian.