Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Orang yang Paling Bermanfaat bagi Manusia

Minggu, 22 Maret 2026 | 22:05 WIB Last Updated 2026-03-22T15:06:01Z
TintaSiyasi.id -- Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sarat dengan ambisi, kompetisi, dan kepentingan diri, Rasulullah ﷺ menghadirkan satu standar kemuliaan yang sangat agung—bukan tentang siapa yang paling kaya, bukan pula siapa yang paling berkuasa, tetapi: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Hadits ini, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, bukan sekadar nasihat moral, melainkan sebuah manhaj kehidupan—jalan ideologis sekaligus sufistik yang mengantarkan seorang hamba menuju cinta Ilahi.

Makna “Manfaat”: Lebih dari Sekadar Materi

Sering kali manusia menyempitkan makna manfaat hanya pada bantuan materi. Padahal, dalam perspektif Islam yang luas dan dalam, manfaat itu mencakup:
• Memberi ilmu yang mencerahkan
• Memberi nasihat yang menenangkan
• Menjadi pendengar yang tulus
• Menjadi penyambung harapan bagi yang putus asa
• Menjadi penolong bagi yang tertindas
Dalam kacamata sufistik, setiap kebaikan yang keluar dari hati yang ikhlas adalah pancaran dari cahaya Allah yang dititipkan dalam diri seorang hamba.
Semakin luas manfaat seseorang, semakin luas pula cinta Allah kepadanya.

Amal yang Paling Dicintai: Membahagiakan Hati

Rasulullah ﷺ menjelaskan: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah kegembiraan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang Muslim.”

Betapa dalam makna ini. Membahagiakan orang lain bukan sekadar tindakan sosial—ia adalah ibadah hati. Ia bisa hadir dalam bentuk:
• Senyum tulus di saat orang lain sedang gelisah
• Menghapus air mata orang yang berduka
• Membantu melunasi hutang
• Memberi makan kepada yang lapar
• Menjadi sebab hilangnya kesulitan seseorang
Di sinilah letak keindahan Islam: ibadah tidak hanya vertikal kepada Allah, tetapi juga horizontal kepada manusia.

Menahan Amarah: Jalan Menuju Kemuliaan
Dalam hadits tersebut juga ditegaskan:
“Barangsiapa menahan amarahnya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat.”
Menahan amarah bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kekuatan jiwa. Dalam dunia tasawuf, ini disebut sebagai jihad an-nafs—perang melawan ego.
Amarah adalah api. Jika dilampiaskan, ia membakar hubungan. Jika ditahan, ia menjadi cahaya yang menerangi hati.

Berjalan untuk Kebutuhan Saudara: Lebih Mulia dari I’tikaf
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa membantu kebutuhan saudara: Lebih beliau cintai daripada beri’tikaf di Masjid Nabawi selama sebulan.

Perhatikan betapa luar biasanya nilai pelayanan sosial dalam Islam.
Masjid adalah tempat suci, tetapi membantu manusia adalah manifestasi nyata dari ibadah itu sendiri.
Dalam perspektif ideologis Islam:
• Ibadah tidak boleh memutus realitas sosial
• Spiritualitas tidak boleh menjauh dari problem umat

Akhlak Buruk: Perusak Amal
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras:
“Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu.”
Ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang rajin ibadah tetapi buruk dalam akhlak.
• Shalat tanpa akhlak → kering
• Sedekah tanpa akhlak → menyakitkan
• Dakwah tanpa akhlak → menjauhkan
Sufisme sejati bukan hanya dzikir, tetapi akhlak yang hidup dalam interaksi sosial.

Perspektif Sufistik: Dunia sebagai Persinggahan
Dalam teks yang Anda kutip, disebutkan bahwa orang-orang cerdas:
• Menceraikan dunia
• Menjadikannya seperti genangan air
• Menjadikan amal shalih sebagai perahu

Ini adalah filosofi hidup para salaf:
Dunia bukan tujuan, tetapi jalan.
Manusia bukan pesaing, tetapi ladang amal. Kehidupan bukan tentang memiliki, tetapi memberi.

Penutup: Menjadi Cahaya bagi Sesama
Wahai saudaraku,
Jika engkau ingin dicintai Allah, jangan hanya memperbanyak ibadah ritual—tetapi:
• Jadilah penenang bagi yang gelisah
• Jadilah penolong bagi yang kesulitan
• Jadilah cahaya di tengah kegelapan manusia
Karena pada hakikatnya,

jalan tercepat menuju Allah adalah melalui hati manusia yang engkau bahagiakan.
Dan ingatlah. Semakin banyak manusia merasakan manfaat dari dirimu, maka semakin dekat engkau dengan cinta Allah Yang Maha Agung.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update