Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

MBG, Sekolah Online, dan Nurani Kebijakan: Sebuah Renungan Dakwah Ideologis–Sufistik

Selasa, 31 Maret 2026 | 15:42 WIB Last Updated 2026-03-31T08:42:53Z
TintaSiyasi.id -- Pengantar: Antara Niat Baik dan Jalan yang Tersendat

Di negeri ini, sering kali kita menyaksikan sesuatu yang unik:
niatnya mulia, tetapi jalannya terasa berliku.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah wujud nyata kasih sayang negara kepada generasi masa depan. Ia lahir dari kegelisahan akan gizi, kesehatan, dan masa depan anak-anak bangsa. Namun ketika kebijakan ini dipadukan dengan pembelajaran online, lalu siswa tetap diminta datang ke sekolah hanya untuk mengambil jatah makan, muncul satu pertanyaan sunyi di relung hati: Apakah ini jalan kemaslahatan, atau sekadar kebijakan yang kehilangan ruhnya?

Hakikat Kebijakan dalam Perspektif Ruhani

Dalam pandangan sufistik, setiap kebijakan bukan sekadar aturan, tetapi amanah.
Dan setiap amanah akan ditanya oleh Allah ﷻ, bukan hanya pada hasilnya, tetapi juga pada cara menunaikannya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Kebijakan yang memaksa siswa datang ke sekolah di tengah sistem online mengandung satu pesan tersirat:
ada ketidaksinkronan antara akal kebijakan dan hikmah pelaksanaannya.

Dalam bahasa hati:

Akalnya ingin membantu

Tetapi langkahnya justru memberatkan

Pendidikan yang Kehilangan Rasa

Ilmu dalam Islam bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi cahaya (nur) yang menuntun jiwa.

Ketika siswa belajar dari rumah, lalu harus keluar hanya untuk mengambil bantuan:

Waktu belajar terpecah

Konsentrasi terganggu

Keikhlasan belajar bisa terkikis oleh kelelahan

Padahal para ulama seperti Imam Al-Ghazali menegaskan: Ilmu tidak akan masuk ke hati yang sibuk dan gelisah.

Lalu bagaimana cahaya ilmu itu akan tumbuh, jika hati anak-anak kita disibukkan oleh hal-hal yang seharusnya bisa dipermudah?

Dimensi Sosial: Ketika Bantuan Menjadi Beban

Islam mengajarkan bahwa setiap kebaikan harus membawa kemudahan, bukan kesulitan.

Allah ﷻ berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Namun realitas di lapangan berkata lain:

Anak yang jauh harus berjalan atau naik kendaraan

Orang tua harus meluangkan waktu tambahan

Biaya kecil menjadi beban yang berulang

Di sinilah kita merenung: Apakah bantuan itu benar-benar meringankan, atau diam-diam memindahkan beban ke pundak yang lain?

Antara Syariat dan Hikmah

Dalam maqashid syariah (tujuan syariat), setiap kebijakan harus menjaga:

Jiwa (hifz an-nafs)

Akal (hifz al-‘aql)

Kesejahteraan (maslahah)

Program MBG jelas ingin menjaga jiwa dan kesehatan.
Namun jika pelaksanaannya:

Mengganggu proses belajar (akal)

Menyulitkan masyarakat (maslahah)

Maka di situlah kita perlu kembali kepada satu prinsip agung: “Tidaklah sempurna sebuah kebaikan tanpa hikmah dalam pelaksanaannya.”

Suara Hati Umat: Kritik yang Beradab

Dalam tradisi Islam, kritik bukanlah pemberontakan, tetapi nasihat (an-nashihah).

Kita tidak sedang menolak kebaikan,
tetapi sedang mengajak agar kebaikan itu lebih sempurna.

Suara umat seharusnya tidak dipandang sebagai keluhan,
melainkan sebagai: cermin bagi kebijakan agar kembali kepada ruh keadilan dan kasih sayang.

Jalan Keluar: Menghadirkan Kebijakan Berbasis Ihsan

Dalam tasawuf, ada satu maqam tertinggi: ihsan

“Beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”

Jika ihsan dibawa ke dalam kebijakan, maka lahirlah keputusan yang:

Tidak hanya benar secara aturan

Tetapi juga indah dalam pelaksanaan

Solusi yang lebih berjiwa ihsan bisa berupa:

Distribusi MBG melalui lingkungan terdekat (RT/RW)

Pengambilan berkala, bukan harian

Prioritas bagi siswa yang membutuhkan

Karena sejatinya: Kebijakan yang baik adalah yang dirasakan ringan oleh rakyat, bukan hanya terlihat baik di atas kertas.

Penutup: Mengembalikan Ruh Kemaslahatan

Wahai para pengambil kebijakan, wahai pendidik, wahai orang tua…

Mari kita renungkan bersama:

Anak-anak kita bukan sekadar objek program,
mereka adalah amanah Allah yang kelak akan menjadi pemimpin umat.

Jangan sampai:

Niat baik kita tertutup oleh cara yang kurang bijak

Program mulia kehilangan cahaya karena minimnya rasa

Karena dalam setiap kebijakan, ada satu hal yang tidak boleh hilang: rahmah (kasih sayang)

Dan ketika rahmah hadir,
segala yang berat akan terasa ringan,
segala yang rumit akan menemukan jalannya.

Doa Penutup

Ya Allah, tuntunlah para pemimpin kami agar setiap kebijakan mereka dipenuhi hikmah, keadilan, dan kasih sayang. Jadikan setiap keputusan sebagai jalan kemaslahatan, bukan kesulitan. Dan lindungilah generasi kami, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update