Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lebaran dan Lingkaran Utang: Bukti Rapuhnya Sistem Ekonomi Kapitalis

Sabtu, 28 Maret 2026 | 14:53 WIB Last Updated 2026-03-28T07:53:55Z
Tintasiyasi.id.com -- Dikutip dari Inilah.com (14/03/2026)-Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menyebut adanya ritual menjelang lebaran, rakyat dipersempit dengan tingginya harga barang-barang. Lebaran kata dia, seharusnya menjadi musim pulang kampung, namun banyak keluarga yang terhimpit kondisi ekonomi. 

Tercatat inflasi Indonesia mencapai 4,76 persen, Jauh diatas sasaran inflasi Bank Indonesia (BI). Menjadi momentum yang sangat miris di tengah perayaan Idul Fitri. Moment yang seharusnya merekam kebersamaan dan kebahagiaan, justru harus memikirkan kondisi keuangan yang melahirkan tekanan sosial dan menjadi beban tanggungan bagi keluarga.

Banyak para perantau yang mau tak mau harus bekerja mati-matian untuk mengirimkan uang kepada keluarga yang berada di kampung halaman. Dan tak sedikit dari mereka yang akhirnya tak pulang tatkala lebaran.

Ditengah himpitan ekonomi yang semakin menggila, justru solusi yang dihadirkan negara dengan memfasilitasi sistem utang-piutang disamping menurunnya pertumbuhan upah.

Mirisnya, banyak yang menerima tawaran tersebut dengan alasan butuh dana secepatnya, tanpa berpikir dua kali bagaimana cara melunasinya. Alhasil timbulah.cek-cok antara penghutang dan yang dihutangi.

Indonesia sendiri sering dijuluki dengan sebutan "Negara Pinjol (Pinjaman Online)", karena faktor ekonomi dan kemiskinan, maka solusi yang ditawarkan negara sangat tidak efektif untuk memutus permasalahan ekonomi di Indonesia. Kondistini justru akan menjadikan masyarakat bergantung pada utang ribawi, yang jelas diharamkan oleh Syariat Islam

Inilah potret negara yang mengemban sistem ekonomi Kapitalistik, dimana terjadi kesenjangan laju ekonomi, munculnya ketimpangan pendapatan yang besar untuk parainvestor. Adapun rakyatnya? Mati-matian bekerja sepanjang hari hanya demi sesuap beras saja.

Maka Islam menghadirkan solusi dalam menyelesaikan permaslahan di bidang perekonomian. Islam mampu membangun ekonomi yang merata diseluruh keluarga bukan hanya pemilik modal saja. 

Dalam Islam perputaran keuangan menggunakan dinar dan dirham, sehingga menimbulkan stabilitas nilai mata uang dan keadilan transaksi. Sebagaimana sejarah meunjukkan bahwa satu dinar emas sejak masa Nabi Muhammad SAW. hingga saat ini tetap mampu membeli barang yang sama (misalnya, seekor kambing).

Adapun harga barang dalam islam, tak pernah mencekik rakyatnya dengan mematok harga tinggi, terlebih jika barang tersebut merupakan barang pokok, Mekanisme harga pasar pun bertumpu pada prinsip keadilan dan kejujuran antara penjual dan pembeli. 

Tak hanya itu, negara juga turut ikut serta dalam mengawasi pasar, melalui lembaga Hisbah, untuk memastikan tidak ada penimbunan, monopoli atau penipuan.

Selain itu, solusi yang Islam tawarkan bukan memfasilitasi utang, namun dengan menyediakan lapangan kerja yang layak, agar melahirkan kemandirian ekoriomi dan terbebas dari jeratan riba, ini sekaligus bisa menjadi solusi pengangguranyang juga marak di Indonesia.

Ini semua hanya didapat dari sistem ekonomi Islam. Islam tak menggantungkan masalah perekonomian terhadap negara lain, justru agar daulah Islam menjadi contoh bagi negeri-negeri lain dalam soal memanage keuangan, maka dalam momentum Idul Fitri sekalipun kebersamaan akan selalu terwujud sesuai pandangan syariat, untuk mewujudkan ketakwaan, baik lingkup individu, masyarakat, maupun negara. Wallahu A'lam Bishshowwab.[]

Oleh: Marsa Qalbina 
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update