Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jangan Bersedih, Usirlah Setiap Kegalauan

Rabu, 18 Maret 2026 | 16:14 WIB Last Updated 2026-03-18T09:14:20Z
TintaSiyasi.id -- Dakwah Ideologis–Sufistik untuk Menghidupkan Jiwa yang Lalai

Dalam perjalanan hidup manusia, ada saat-saat di mana hati terasa berat, pikiran dipenuhi kegelisahan, dan jiwa seakan diliputi kabut kesedihan. Banyak orang mengira bahwa kegundahan itu datang karena beratnya ujian hidup, sempitnya rezeki, atau kerasnya tekanan dunia. Padahal dalam banyak keadaan, kegelisahan justru lahir dari kekosongan jiwa dan kelalaian hati dari aktivitas yang bermakna.

Seorang mukmin sejati tidak diciptakan untuk hidup dalam kelalaian. Ia diciptakan untuk bergerak dalam ibadah, berjuang dalam kebaikan, dan berjalan menuju kedekatan dengan Allah. Ketika seorang mukmin berhenti dari aktivitas yang bermanfaat, maka sesungguhnya ia sedang membuka pintu bagi kegelisahan.

Para ulama dari generasi Salafus Shalih telah memberikan nasihat yang sangat dalam tentang hal ini. Mereka mengatakan bahwa hati manusia seperti bejana: jika tidak diisi dengan kebenaran, ia akan dipenuhi oleh kebatilan. Jika tidak diisi dengan dzikir, ia akan dipenuhi oleh kegelisahan. Jika tidak diisi dengan amal, ia akan dipenuhi oleh kemalasan.

Karena itu, kesedihan sering kali bukan karena kurangnya nikmat, tetapi karena kurangnya kesibukan dalam kebaikan.

Bahaya Kekosongan Jiwa

Kekosongan adalah musuh yang sangat halus namun mematikan. Ketika seseorang memiliki terlalu banyak waktu senggang tanpa arah, pikirannya akan mulai mengembara ke mana-mana. Ia akan sibuk memikirkan hal-hal yang tidak penting, mengingat masa lalu dengan penyesalan yang berlebihan, atau mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi.

Dalam kondisi seperti ini, hati menjadi lemah dan mudah dimasuki oleh berbagai bisikan setan. Setan tidak selalu menggoda manusia dengan dosa besar; terkadang ia hanya membuat manusia sibuk dengan hal yang tidak bermanfaat.

Orang yang hidup dalam kesenggangan biasanya akan terjebak dalam tiga perkara:
1. Desas-desus yang tidak berguna
2. Perbincangan kosong yang melemahkan hati
3. Pikiran negatif yang melahirkan kecemasan
Inilah sebabnya mengapa banyak orang yang tampak memiliki waktu luang justru hidup dalam kegelisahan yang panjang. Waktu yang seharusnya menjadi kesempatan untuk beramal malah berubah menjadi ladang bagi kegundahan dan kesia-siaan.

Mukmin Tidak Pernah Kosong dari Amal

Seorang mukmin yang memahami hakikat kehidupan tidak akan membiarkan waktunya berlalu tanpa makna. Ia sadar bahwa setiap detik yang Allah berikan adalah kesempatan untuk menanam amal yang akan ia panen di akhirat.

Allah telah mengingatkan manusia tentang nilai waktu dalam Al-Qur'an melalui surah yang sangat singkat namun penuh makna, yaitu Surah Al-Asr. Dalam surah tersebut Allah bersumpah atas nama waktu dan menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Pesan besar dari ayat ini adalah bahwa waktu harus diisi dengan iman dan amal. Tanpa keduanya, waktu hanya akan membawa manusia menuju kerugian.
Karena itu, seorang mukmin sejati selalu berusaha menghidupkan waktunya dengan berbagai aktivitas yang bernilai ibadah.

Mengisi Waktu dengan Cahaya Amal

Ada banyak cara untuk mengusir kegelisahan dan menghidupkan jiwa. Salah satunya adalah dengan menyibukkan diri dalam amal yang mendekatkan kepada Allah.

Seorang mukmin hendaknya mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang menumbuhkan cahaya iman, seperti:

1. Membaca dan mentadabburi Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah obat bagi hati yang gelisah. Ketika seorang mukmin membaca ayat-ayat Allah, hatinya akan dipenuhi ketenangan.

2. Berdzikir dan bertasbih
Dzikir adalah makanan bagi ruh. Tanpa dzikir, jiwa akan terasa kering dan kosong.

3. Menuntut ilmu
Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Orang yang sibuk dengan ilmu jarang tenggelam dalam kegelisahan.

4. Bekerja dengan niat ibadah
Setiap pekerjaan yang diniatkan karena Allah akan menjadi amal saleh.

5. Menulis dan menyebarkan kebaikan
Tulisan yang baik dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

6. Menjalin silaturahmi
Mengunjungi sahabat dan keluarga dapat menghidupkan hati dan memperkuat ukhuwah.

Dengan aktivitas seperti ini, waktu tidak lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi ladang pahala yang luas.

Kegelisahan Adalah Isyarat Spiritual

Dalam perspektif sufistik, kegelisahan sebenarnya adalah isyarat dari Allah agar manusia kembali kepada-Nya. Ketika hati merasa gelisah, itu berarti ada sesuatu yang hilang dalam hubungan manusia dengan Rabb-nya.

Bisa jadi seseorang terlalu sibuk dengan dunia hingga melupakan dzikir. Bisa jadi ia terlalu tenggelam dalam urusan materi hingga meninggalkan ibadah.

Kegelisahan itu sebenarnya adalah panggilan lembut dari Allah yang berkata:
"Kembalilah kepada-Ku, karena hanya di dekat-Ku hatimu akan tenang."
Karena itu, orang-orang yang memahami rahasia spiritual tidak melihat kegelisahan sebagai musibah semata. Mereka melihatnya sebagai undangan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

Hati yang Kosong adalah Lapangan Permainan Setan

Para ulama sering mengatakan bahwa hati yang kosong adalah tempat permainan setan. Jika seorang mukmin tidak mengisi hatinya dengan dzikir, maka setan akan mengisinya dengan keraguan. Jika ia tidak mengisi waktunya dengan amal, maka setan akan mengisinya dengan kemalasan.

Inilah sebabnya mengapa Rasulullah selalu mengajarkan umatnya untuk hidup dalam keseimbangan antara ibadah, kerja, dan amal sosial.

Hidup seorang mukmin bukanlah hidup yang pasif. Ia adalah kehidupan yang aktif, penuh gerak, penuh manfaat, dan penuh keberkahan.

Bangkitlah Menjadi Mukmin yang Produktif

Umat Islam tidak dilahirkan untuk menjadi umat yang lemah dan pasif. Umat ini adalah umat yang bergerak, berkarya, dan membawa cahaya kebaikan bagi dunia.
Ketika seorang mukmin mengisi waktunya dengan amal saleh, maka hidupnya akan berubah menjadi perjalanan yang penuh makna. Kesedihan tidak lagi menguasai hatinya, karena ia selalu sibuk dalam kebaikan.

Ia memahami bahwa setiap amal yang ia lakukan, sekecil apa pun, akan dicatat oleh Allah dan akan menjadi cahaya baginya di akhirat.
Akhirnya, ia menyadari satu hakikat besar:
Kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya waktu luang, tetapi pada penuhnya waktu dengan amal yang bermakna.

Maka bangkitlah dari kelalaian. Usirlah setiap kegelisahan dengan amal, dzikir, dan ilmu. Jangan biarkan satu menit pun berlalu tanpa nilai.
Karena hidup seorang mukmin yang sejati adalah hidup yang selalu bergerak menuju Allah.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update