Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ilmu yang Menyelamatkan dan Ilmu yang Membinasakan

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:50 WIB Last Updated 2026-03-31T14:50:45Z
TintaSiyasi.id -- (Renungan Dakwah Ideologis–Sufistik dari Minhajul Qashidin)

Dalam kitab Minhajul Qashidin, sang ulama agung Ibnu Qudamah al-Maqdisi mengingatkan sebuah hakikat yang sering dilupakan oleh para penuntut ilmu: Ilmu bukan sekadar cahaya, tetapi juga bisa menjadi api yang membakar pemiliknya.

Risalah ini sejatinya merupakan ringkasan dari warisan spiritual Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, yang menyingkap tabir halus antara ilmu yang menghidupkan hati dan ilmu yang mematikan ruh.

Hakikat Bencana Ilmu (‘Āfāt al-‘Ilm)

Ilmu adalah amanah ilahiyah. Namun ketika ia terlepas dari keikhlasan dan tazkiyatun nafs, ia berubah menjadi bencana. Berikut beberapa bentuknya:

1. Ilmu Tanpa Amal: Cahaya yang Padam

Allah ﷻ berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
(QS. As-Shaff: 2)

Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan didatangkan seorang alim pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka...” (HR. Bukhari-Muslim)

Makna Sufistik: Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Ia hanya menjadi saksi yang memberatkan, bukan penolong yang menyelamatkan.

2. Riya’ dalam Menuntut Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa menuntut ilmu untuk berbangga diri di hadapan ulama atau untuk menarik perhatian manusia, maka ia di neraka.” (HR. Tirmidzi)

 Renungan: Berapa banyak majelis ilmu yang ramai… tetapi sepi keikhlasan.
Berapa banyak lisan yang berbicara tentang Allah… tetapi hati tidak mengenal-Nya.

3. Ilmu untuk Dunia

Allah ﷻ berfirman: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia...”
(QS. Hud: 15)

Bahaya Tersembunyi:

Ilmu menjadi alat mencari jabatan

Dakwah berubah menjadi panggung popularitas

Agama dijadikan komoditas

4. Kesombongan Ilmu

Allah ﷻ berfirman: “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong…”
(QS. Al-Isra: 37)

 Hakikatnya: Orang yang benar-benar berilmu akan semakin merasa bodoh di hadapan Allah.
Kesombongan adalah tanda bahwa ilmu belum menembus hati.

5. Lupa Membersihkan Hati

Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad…” (HR. Bukhari-Muslim)

Pesan Sufistik: Ilmu sejati bukan sekadar menambah hafalan, tetapi:

membersihkan hati

melembutkan jiwa

mendekatkan kepada Allah

 Dua Jalan Ulama: Ulama Su’ vs Ulama Akhirat

Ulama Su’ (Ulama Dunia)

Rasulullah ﷺ bersabda: “Yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah setiap munafik yang pandai berbicara.” (HR. Ahmad)

Ciri-cirinya:

Ilmunya dijual untuk dunia

Dekat dengan kekuasaan demi kepentingan

Fatwa mengikuti hawa nafsu

Ucapan tidak sesuai perbuatan

Hakikatnya: Mereka mengenal dalil, tetapi tidak mengenal Allah.

 Ulama Akhirat (Ulama Rabbani)

Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Ciri-cirinya:

Ikhlas dalam ilmu dan amal

Zuhud terhadap dunia

Banyak menangis dalam kesendirian

Menghidupkan hati manusia

Cahaya Mereka:

Diamnya penuh dzikir

Ucapannya penuh hikmah

Hidupnya menjadi teladan

Jalan Menuju Ilmu yang Hakiki

Wahai penuntut ilmu…

Jika engkau ingin selamat dari bencana ilmu, maka tempuhlah jalan ini:

1. Luruskan Niat

Belajarlah untuk mengenal Allah, bukan untuk dikenal manusia.

2. Amalkan Ilmu Sekecil Apa Pun

Amal kecil dengan ikhlas lebih besar daripada ilmu besar tanpa amal.

3. Jaga Hati dari Cinta Dunia

Dunia di tangan, bukan di hati.

4. Perbanyak Muhasabah

Tanyakan setiap hari:
“Apakah ilmuku mendekatkanku kepada Allah?”

5. Dekatkan Diri dengan Ulama Rabbani

Karena hati menular, sebagaimana penyakit juga menular.

 Penutup: Ilmu yang Mengantarkan Pulang

Wahai jiwa yang mencari cahaya…

Kelak di hari kiamat, bukan banyaknya ilmu yang ditanya, tetapi:

keikhlasan

pengamalan

dampaknya pada hati

Ibnu Qudamah seakan berbisik kepada kita: “Ilmu sejati adalah yang membuatmu takut kepada Allah, bukan bangga di hadapan manusia.”

Maka janganlah engkau tertipu…

oleh tepuk tangan manusia

oleh gelar dan pujian

oleh ramainya majelis

Karena bisa jadi semua itu adalah ujian yang paling halus.

 Ilmu yang sejati adalah yang membuatmu:

lebih banyak menangis daripada tertawa

lebih banyak merasa kurang daripada cukup

lebih dekat kepada Allah daripada dunia

Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update