Tintasiyasi.id com -- Pada akhir bulan Februari 2026, Kampus UIN Suska Riau digegerkan dengan kasus pembacokan mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum yang akan mengikuti ujian sidang proposal oleh seseorang yang menaruh hati pada korban.
Alasan pelaku tega melukai korban dengan kapak dan parang karena sakit hati cintanya ditolak. Korban berulangkali menyampaikan sudah punya pacar dan menganggap pelaku hanya sebagai teman (Kumparan,27 Februari 2026).
Miris membaca berita di atas. Kasus kekerasan, pergaulan bebas, pembunuhan, bunuh diri banyak dilakukan pemuda. Tentu ini menarik perhatian berbagai kalangan. Karena generasi muda merupakan penerus peradaban manusia.
Bisa diprediksi kedepannya jika generasi rusak dan tidak terselamatkan, maka hancurlah peradaban manusia selanjutnya.
Kerapuhan pribadi generasi Indonesia saat ini disebabkan gagalnya sistem pendidikan sekuler membentuk generasi mulia.
Sistem pendidikan sekuler saat ini lebih memprioritaskan pencapaian nilai akademik daripada memiliki adab mulia. Fokus capaian pada generasi pada mendapatkan nilai pelajaran tinggi, bisa masuk jenjang pendidikan selanjutnya, dan bisa diserap dunia kerja. Penilaian akhlak hanya sebatas catatan, tidak terealisasi dalam kehidupan nyata.
Di sisi lain, pemuda di era digital banyak berinteraksi di dunia maya. Algoritma media sosial dalam cengkraman kapitalis sekuler membentuk pola pikir generasi dengan standar kebebasan.
Pemikiran bebas berekspresi tidak terikat aturan Allah, menjadikan generasi merasa bebas berperilaku apa pun sesuka hatinya tanpa peduli akibatnya bagi diri sendiri dan orang lain. Liberalisme mengarahkan generasi bebas bergaul tanpa batas aturan agama.
Generasi menormalisasi aktivitas pacaran, kumpul kebo, perselingkuhan, dll. Padahal hal ini yang menjadikan generasi semakin jauh dari tuntunan agama. Semakin rapuh dan mudah berbuat keji.
Sistem kehidupan ini sama sekali tidak mengoptimalkan potensi generasi seutuhnya. Kapitalisme hanya menginginkan roda ekonomi terus berputar dengan menjadikan generasi sebagai pekerja Perusahaan.
Pengembangan skill berorentasi pada peningkatan produktifitas kerja dan capaian materi saja, tidak ada pembinaan peningkatan adab mulia. Karena hal ini dianggap urusan pribadi, negara tidak ikut campur dalam peningkatan perilaku mulia, misalnya keterampilan mengendalikan diri dengan mengelola cinta sesuai aturan yang benar.
Islam Menguatkan Imun Generasi
Islam memandang generasi muda sebagai bagian penting dari umat yang tidak terpisahkan. Maka Islam memiliki seperangkat aturan untuk meningkatkan imun generasi agar terbebas dari belenggu sekulerisme.
Pendidikan Islam sebagai upaya terstruktur dan terencana akan mengembangkan potensi generasi muda secara optimal. Tujuan pendidikan berfokus menjadikan generasi memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan hukum Sang Pencipta, menguasai sains dan teknologi untuk siap memimpin peradaban manusia.
Proses pembelajaran berbasis akidah Islam, sehingga setiap saat generasi menyadari kedudukannya di dunia sebagai hamba Allah yang tugas mulia untuk ibadah. Setiap generasi menyelaraskan pemikiran dan perilakunya sesuai aturan Islam.
Setiap aturan yang haram akan dijauhi, yang wajib akan dijalankan. Generasi bisa mengelola gharizah atau naluri-naluri dengan penuh tanggungjawab, akan paham cara menyalurkan cinta sesuai Islam dengan menikah.
Generasi juga bisa mengoptimalkan akalnya dengan berprestasi dalam ketaatan, bukan mencari orientasi akademik semata. Generasi muda tidak taat sendirian, ada keluarga dan masyarakat yang bersama-sama mewujudkan kondisi kehidupan taat.
Ada aktivitas amar ma’ruf nahi munkar yang tersebar merata di sudut kehidupan. Suasana saling menjaga dalam ketaatan, saling menasehati dalam kebaikan, dan mencegah dari perbuatan menyimpang.
Hal ini semakin memudahkan generasi untuk mengembangkan potensi, jika sudah siap menikah, akan menjalani prosesnya dengan benar.
Di sisi lain, negara dalam ketaatan akan menjalankan aturan Islam secara kaffah dalam kehidupan. Sistem pendidikan dijalankan dengan optimal.Sistem sosial, sistem teknologi informasi, sanksi dan hukum juga ditegakkan yang menjadikan efek jera dan menjaga masyarakat bermartabat.
Sistem ekonomi dan pemerintahan juga dijalankan sehingga negara memiliki wibawa, berdikari, dan mampu mengatur negara sesuai aturan Sang Pencipta manusia. Islam mengatur cinta generasi dalam ketaatan berbuah kehidupan berkah, berbeda dengan sistem Sekuler yang menimbulkan kesengsaraan. Wallahu’alam bishshawwab.[]
Oleh.Priani,S.Pd.
(Konselor Keluarga dan Remaja)