Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Takwa sebagai Fondasi Peradaban: Kritik Modernitas dalam Perspektif Imam Al-Mawardi, Imam Al-Ghazali, dan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra

Selasa, 17 Februari 2026 | 10:52 WIB Last Updated 2026-02-17T03:52:47Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Modernitas dan Kehilangan Poros Ilahiyah

Peradaban modern bergerak dengan kecepatan luar biasa, tetapi kehilangan poros ruhani. Rasionalitas, efisiensi, dan kebebasan dijadikan fondasi utama, sementara takwa, kesadaran hidup di hadapan Allah, disingkirkan sebagai urusan privat.

Padahal, dalam khazanah Islam klasik, takwa bukan sekadar nilai individual, melainkan asas peradaban. Tiga tokoh besar, yaitu Sayyidina ‘Ali ra., Imam al-Māwardī, dan Imam al-Ghazālī, memandang bahwa keruntuhan peradaban selalu berawal dari keruntuhan takwa.

1. Konsep Takwa: Dari Jiwa, Hukum, hingga Peradaban

Sayyidina ‘Ali ra.: Takwa sebagai Kesadaran Batin

Bagi Sayyidina ‘Ali ra., takwa berakar pada muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah selalu hadir. Takwa bukan sekadar kepatuhan lahiriah, tetapi kewaspadaan hati.

“Takwa adalah takut kepada Yang Maha Mulia, mengamalkan Al-Qur’an, ridha terhadap yang sedikit, dan bersiap untuk hari akhir.”

Takwa di sini bersifat eksistensial: ia membentuk karakter, keberanian moral, dan kejujuran jiwa.

Imam al-Māwardī: Takwa sebagai Penjaga Tatanan Sosial

Dalam Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn, al-Māwardī memandang takwa sebagai penopang keteraturan sosial dan politik. Tanpa takwa, hukum akan kehilangan ruh dan kekuasaan berubah menjadi tirani.

Menurut al-Māwardī:

agama adalah fondasi negara

akhlak adalah penyangga peradaban

dan takwa adalah pengikat antara kekuasaan dan keadilan.

Takwa berfungsi sebagai rem moral bagi kekuasaan dan nafsu kolektif.

Imam al-Ghazālī: Takwa sebagai Penyucian Jiwa (Tazkiyat an-Nafs)

Al-Ghazālī melihat takwa sebagai hasil dari perjuangan panjang melawan nafsu. Dalam Ihyā’ ‘Ulum ad-Dīn, ia menegaskan bahwa peradaban runtuh bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena ilmu tidak melahirkan rasa takut kepada Allah.

Takwa menurut al-Ghazālī:

lahir dari muhasabah

tumbuh melalui mujahadah

dan berbuah dalam keikhlasan.

Ilmu tanpa takwa, kata beliau, hanya akan mempercepat kehancuran.

2. Kritik terhadap Rasionalisme Modern

Modernitas menjadikan akal sebagai otoritas tertinggi. Segala sesuatu yang tidak rasional secara empiris dianggap irasional atau tidak relevan.

Sayyidina ‘Ali ra. mengingatkan bahwa akal harus dituntun wahyu.

Al-Māwardī menilai akal tanpa agama akan melahirkan kekacauan sosial.

Al-Ghazālī menunjukkan bahwa akal tanpa penyucian jiwa akan melahirkan kesombongan intelektual.

Takwa menjadi penyeimbang akal, bukan penolaknya. Peradaban modern menolak takwa, lalu terkejut ketika ilmu berubah menjadi alat kehancuran.

3. Manusia Modern dan Krisis Kebebasan

Modernitas mengusung kebebasan tanpa batas. Namun ketiganya sepakat:

Sayyidina ‘Ali ra.: kebebasan tanpa pengendalian diri adalah perbudakan nafsu.

Al-Ghazālī: nafsu yang tidak ditundukkan akan menyamar sebagai kebebasan.

Al-Māwardī: masyarakat tanpa disiplin moral akan runtuh oleh konflik internal.

Takwa membongkar ilusi kebebasan modern dan menegaskan bahwa kemerdekaan sejati adalah taat kepada Allah.

4. Kekuasaan, Politik, dan Amanah

Modernitas memisahkan politik dari moral. Kekuasaan dinilai dari efektivitas, bukan keadilan.

Sayyidina ‘Ali ra. memandang kekuasaan sebagai ujian iman.

Al-Māwardī menegaskan bahwa negara tanpa takwa akan menjadi alat kezaliman.

Al-Ghazālī memperingatkan ulama yang menjual agama kepada penguasa.

Takwa menjadikan politik sebagai ibadah sosial, bukan arena manipulasi.

5. Pendidikan dan Ilmu: Pintar Tanpa Takwa

Ketiganya sepakat bahwa:

ilmu tanpa adab adalah bencana

kepintaran tanpa takut kepada Allah adalah kesesatan yang berlapis.

Al-Ghazālī paling keras mengkritik ilmuwan yang ilmunya tidak melahirkan ketundukan. Al-Māwardī menekankan adab sebagai fondasi pendidikan. Sayyidina ‘Ali ra. menegaskan bahwa buah ilmu adalah amal dan akhlak.

6. Takwa sebagai Paradigma Peradaban Alternatif

Jika modernitas berdiri di atas:

kebebasan absolut

rasionalisme kering

dan materialisme

maka peradaban bertakwa berdiri di atas:

penghambaan kepada Allah

keseimbangan akal dan wahyu

serta keadilan dan adab.

Takwa bukan nostalgia masa lalu, tetapi proyek masa depan peradaban Islam.

Penutup: Takwa atau Kehancuran yang Lebih Canggih

Sayyidina ‘Ali ra. mengingatkan tentang kehancuran jiwa, al-Māwardī tentang runtuhnya tatanan sosial, dan al-Ghazālī tentang matinya hati.

Ketiganya sepakat:
peradaban tanpa takwa hanyalah bangunan tinggi di atas jiwa yang rapuh.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِ نَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.". (QS. Ta-Ha 20: Ayat 124).

Takwa bukan penghambat kemajuan, tetapi penjaga kemanusiaan..Tanpa takwa, dunia akan terus maju, tetapi manusia akan terus kehilangan dirinya.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

Opini

×
Berita Terbaru Update