Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dasar Ketaatan: Makrifatullah, Khasyyah Rajak, Muraqabbah

Selasa, 17 Februari 2026 | 11:26 WIB Last Updated 2026-02-17T04:26:57Z
TintaSiyasi.id -- Nasihat Ruhani Imam Al-Ghazali dalam Mukāsyafatul Qulūb dan Kritik atas Krisis Ketaatan Manusia Modern.
Pendahuluan: Krisis Ketaatan dalam Peradaban Modern

Peradaban modern melahirkan manusia yang sibuk tetapi kosong,
beragama tetapi kering makna,
beribadah tetapi kehilangan rasa hadir bersama Allah.

Ketaatan direduksi menjadi:

sekadar rutinitas legal-formal

beban hukum tanpa ruh

simbol identitas tanpa kesadaran ilahiah.

Dalam situasi inilah Imam Al-Ghazali, melalui Mukāsyafatul Qulūb, mengingatkan satu prinsip mendasar:
“Dasar segala ketaatan adalah ilmu tentang Allah, rasa takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, dan merasa selalu diawasi oleh-Nya.”

Inilah arsitektur batin ketaatan yang bila runtuh, maka seluruh bangunan amal akan rapuh.

1. Ilmu tentang Allah (Ma‘rifatullah): Fondasi Segala Ketaatan

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ketaatan tidak mungkin lahir dari kebodohan ruhani. Ilmu tentang Allah bukan sekadar mengetahui dalil, tetapi mengenal siapa yang disembah.

Ma‘rifatullah melahirkan:

kesadaran akan keagungan Allah

rasa kecilnya diri di hadapan-Nya

keterpesonaan hati kepada sifat-sifat-Nya.

Tanpa ma‘rifat:

shalat hanya gerakan

puasa hanya lapar

dzikir hanya repetisi lisan.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.”
(QS. Al-Anfal: 2).

Gemetar ini bukan emosionalitas kosong,
melainkan getaran ma‘rifat.

Kritik Peradaban:
Modernitas membesarkan informasi, tetapi mematikan pengenalan.
Ilmu agama dikomodifikasi, tetapi ma‘rifat disingkirkan.
Maka, lahirlah generasi yang pandai berbicara tentang Allah, tetapi asing dengan-Nya.

2. Takut kepada Allah (Khasy-yah): Penjaga Adab dan Moral

Takut dalam perspektif Al-Ghazali bukan ketakutan biologis, melainkan khasy-yah, rasa gentar yang lahir dari ilmu.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fāṭir: 28).

Khasy-yah:

menjaga hati dari kesombongan

menahan tangan dari kezaliman

mengekang lisan dari dusta.

Takut yang benar tidak menjauhkan dari Allah,
justru mendekatkan dengan adab.

Kritik Peradaban:
Manusia modern takut kehilangan jabatan, takut miskin, takut citra rusak, tetapi tidak takut bermaksiat kepada Allah.
Ketakutan berpindah dari Tuhan kepada sistem dunia.

Inilah sebab runtuhnya etika publik dan maraknya kezaliman struktural.

3. Berharap kepada Allah (Rajā’): Energi Spiritual Kehidupan

Imam Al-Ghazali mengingatkan:

> Takut tanpa harap melahirkan keputusasaan.
Harap tanpa takut melahirkan kelalaian.

Rajā’ membuat seorang hamba:

tidak berhenti beramal meski merasa hina

tidak putus asa meski penuh dosa

tidak menyerah dalam perjalanan ruhani.

Allah berfirman:
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”. (QS. Az-Zumar: 53).

Kritik Peradaban:
Modernitas menanamkan harapan pada:

materi

teknologi

kekuasaan.

Ketika semua runtuh, manusia kehilangan sandaran.
Rajā’ kepada Allah diganti dengan optimisme palsu berbasis dunia.

4. Muraqabah: Kesadaran Ilahiah yang Menghidupkan Amal

Inilah puncak ajaran Al-Ghazali: muraqabah, yaitu merasa diawasi Allah setiap saat.

Muraqabah melahirkan:

kejujuran tanpa kamera

kesalehan tanpa panggung

ketaatan tanpa pengawasan manusia.

Ini adalah ruh dari maqam ihsan:
“Jika engkau tidak melihat Allah, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kritik Peradaban:
Manusia modern hidup di bawah pengawasan kamera, algoritma, dan sistem. 
namun, kehilangan kesadaran pengawasan Ilahi.

Maka lahirlah:

korupsi yang canggih

dosa yang rapi

kejahatan yang legal.

Penutup: Mengembalikan Ketaatan sebagai Jalan Keselamatan

Imam Al-Ghazali tidak menawarkan ketaatan yang keras,
tetapi ketaatan yang hidup.

Ketaatan yang berdiri di atas:

1. Ma‘rifatullah – mengenal Allah

2. Khasy-yah – takut yang mendidik

3. Rajā’ – harap yang menghidupkan

4. Muraqabah – kesadaran yang menjaga.

Tanpa empat pilar ini, agama menjadi simbol.
Dengan empat pilar ini, agama menjadi jalan pulang menuju Allah.

“Barangsiapa memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahirnya.Dan barangsiapa jujur kepada Allah dalam muraqabahnya, Allah akan menjaga hidupnya.”
(Makna hikmah Al-Ghazali).

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update