Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tadabbur Al-Qur’an sebagai Fondasi Dakwah Ideologis–Sufistik

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:34 WIB Last Updated 2026-02-18T02:34:55Z
TintaSiyasi.id -- Jika sebelumnya kita membahas Dakwah Ideologis–Sufistik sebagai integrasi antara tauhid yang kokoh dan penyucian jiwa, maka pertanyaannya:
Dari mana ruh dan arah dakwah itu dibangun?

Jawabannya: Tadabbur Al-Qur’an.
Tanpa tadabbur, dakwah hanya menjadi wacana. Tanpa tadabbur, ideologi menjadi kaku. Tanpa tadabbur, tasawuf menjadi kosong. Al-Qur’an adalah sumber ideologi dan sumber tazkiyah sekaligus.

I. Tadabbur sebagai Pondasi Ideologi Tauhid
Allah ﷻ berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”
(QS. Shad: 29)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa tadabbur bertujuan agar manusia memahami perintah, larangan, dan hikmah hukum Allah.
Artinya:
• Tauhid lahir dari perenungan ayat-ayat rububiyah.
• Syariah dipahami dari ayat-ayat hukum.
• Perjuangan diteguhkan oleh kisah para nabi.
Tanpa Tadabbur:
Dakwah ideologis bisa berubah menjadi slogan kosong atau semangat tanpa ilmu.
Dengan Tadabbur:
Tauhid menjadi kesadaran hidup, bukan sekadar doktrin.

II. Tadabbur sebagai Sumber Tazkiyatun Nafs
Allah ﷻ berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa penyucian jiwa tidak mungkin tanpa cahaya wahyu.
Ketika seseorang mentadabburi:
• Ayat tentang akhirat → lahir zuhud.
• Ayat tentang neraka → lahir takut (khauf).
• Ayat tentang rahmat → lahir harap (raja’).
• Ayat tentang pengawasan Allah → lahir muraqabah.
Inilah tasawuf Qur’ani, bukan tasawuf khayalan.

III. Tadabbur Melahirkan Aktivis yang Seimbang
Dalam Riyadhus Shalihin disebutkan para sahabat mempelajari sepuluh ayat, tidak melanjutkan sampai memahami dan mengamalkannya.
Mereka:
• Belajar tauhid → teguh dalam prinsip.
• Menghayati ayat rahmat → lembut kepada umat.
• Mengerti ayat jihad → berani membela kebenaran.
• Mengerti ayat sabar → tahan terhadap ujian.
Maka lahirlah generasi:
• Kuat secara ideologis.
• Lembut secara sufistik.
• Tertib secara syar’i.

IV. Contoh Integrasi Tadabbur dan Dakwah
1. Tadabbur Ayat Tauhid → Dakwah Ideologis
QS. Al-Ikhlas:
اللَّهُ الصَّمَدُ
Tadabbur:
• Allah tempat bergantung.
• Maka sistem hidup tidak boleh bergantung pada ideologi sekuler.
• Hukum harus kembali kepada wahyu.
Ini melahirkan keberanian melawan riba, kezaliman, dan sistem batil.

2. Tadabbur Ayat Akhlak → Dakwah Sufistik
QS. Ali Imran: 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ
Tadabbur:
• Kelembutan adalah rahmat.
• Dakwah tanpa rahmat bukan warisan Nabi.
Inilah koreksi bagi aktivisme yang keras.

3. Tadabbur Ayat Maqashid
Ayat-ayat larangan riba, zina, khamr, pembunuhan — semuanya menjaga lima tujuan syariah:
1. Agama
2. Jiwa
3. Akal
4. Keturunan
5. Harta
Tadabbur membuat kita memahami hikmah, bukan sekadar hukum.

V. Bahaya Dakwah Tanpa Tadabbur
• Ideologis tanpa tadabbur → fanatisme.
• Sufistik tanpa tadabbur → spiritualitas tanpa arah.
• Aktivisme tanpa tadabbur → kelelahan ruhani.
Al-Qur’an bukan hanya dibaca untuk pahala, tetapi untuk membentuk kepribadian.

VI. Strategi Menghidupkan Dakwah Melalui Tadabbur
1. Gerakan Tadabbur Kolektif
Kajian yang bukan hanya tafsir, tetapi refleksi dan aplikasi sosial.
2. Tadabbur Kontekstual
Mengaitkan ayat:
• Dengan ekonomi digital
• Dengan etika media sosial
• Dengan krisis moral generasi muda
3. Jurnal Tadabbur Aktivis
Setiap dai atau aktivis mencatat:
• Ayat yang menyentuh
• Penyakit hati yang ditemukan
• Perubahan yang harus dilakukan

VII. Model Dakwah Qur’ani Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ membangun Madinah dengan:
1. Tauhid yang ditanam lewat ayat-ayat Makkiyah.
2. Pembinaan ruhani melalui qiyamul lail.
3. Penerapan hukum secara bertahap.
Itulah dakwah ideologis-sufistik berbasis tadabbur wahyu.

Penutup: Kembali kepada Al-Qur’an secara Utuh

Jika umat ingin bangkit:
• Kembali kepada Al-Qur’an dengan tadabbur.
• Menghidupkan tauhid dalam sistem.
• Membersihkan hati dengan ayat-ayatnya.
• Menjadikan wahyu sebagai ideologi dan terapi ruhani.

Sebagaimana ditegaskan dalam Tafsir Jalalain, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang berakal dan mau merenung.
Maka dakwah ideologis-sufistik sejatinya adalah: Dakwah yang lahir dari hati yang ditarbiyah oleh Al-Qur’an.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis 39 Judul buku dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update