Tradisi, Spiritualitas, dan Tantangan Pemurnian Niat
TintaSiyasi.id -- Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Muslim—khususnya di Jawa—memiliki dua tradisi yang mengakar kuat: Megengan dan Nyekar. Tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, tetapi mengandung nilai sosial, spiritual, dan historis yang dalam.
Sebagai umat yang hidup di tengah warisan dakwah para ulama Nusantara, termasuk para wali seperti Wali Songo, kita perlu memahami tradisi ini secara bijak: memetik hikmahnya, menjaga kemurnian tauhidnya, serta menata niat agar tetap berada dalam koridor syariat.
1. Megengan: Menggenggam Diri Sebelum Digenggam Ramadhan
Secara etimologis, kata Megengan berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan. Maknanya sangat dalam:
menahan diri sebelum memasuki bulan yang penuh latihan pengendalian hawa nafsu.
Makna Spiritual Megengan
1. Tasyakur (Ungkapan Syukur)
Bersyukur karena masih diberi umur untuk bertemu Ramadhan.
2. Taubat dan Muhasabah
Sebelum Ramadhan datang, hati dibersihkan dari dendam, iri, dan permusuhan.
3. Sedekah dan Kepedulian Sosial
Dalam tradisi Megengan biasanya dibagikan makanan (kue apem, nasi berkat, dll). Ini melatih empati sosial sebelum memasuki bulan berbagi.
Secara ideologis-sufistik, Megengan seharusnya menjadi momentum tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Sebab Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan, tetapi perubahan orientasi hidup.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah takwa. Maka Megengan sejatinya adalah gerbang menuju takwa.
2. Nyekar: Ziarah Kubur sebagai Pengingat Kematian
Nyekar berarti berziarah kubur, biasanya dilakukan menjelang Ramadhan. Tradisi ini mengandung nilai ruhani yang tinggi jika dipahami secara benar.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Dulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena itu mengingatkan kalian kepada akhirat.”
Hikmah Nyekar
1. Mengingat Kematian
Ramadhan adalah madrasah ruhani. Mengingat kematian membuat kita serius beribadah.
2. Doa untuk Orang Tua dan Leluhur
Bukan meminta kepada kubur, tetapi mendoakan mereka.
3. Memutus Kesombongan Dunia
Semua jabatan, harta, dan popularitas akan berakhir di liang lahat.
Dalam perspektif sufistik, nyekar adalah latihan zuhud—memandang dunia sebagai persinggahan, bukan tujuan.
Namun di sinilah pentingnya pemurnian aqidah: ziarah adalah untuk doa dan ibrah (pelajaran), bukan untuk meminta berkah atau pertolongan kepada selain Allah.
3. Dialektika Budaya dan Tauhid
Para ulama Nusantara dahulu tidak serta-merta menghapus budaya. Mereka mengislamisasi nilai-nilai budaya selama tidak bertentangan dengan tauhid.
Di sinilah letak kebijaksanaan dakwah. Budaya menjadi sarana, bukan tujuan. Tradisi menjadi jembatan, bukan pengganti syariat.
Jika Megengan hanya menjadi pesta makan tanpa taubat, ia kehilangan ruh.
Jika Nyekar berubah menjadi praktik syirik, ia kehilangan cahaya tauhid.
Islam tidak anti budaya, tetapi Islam memimpin budaya.
4. Kritik Peradaban Modern
Ironisnya, sebagian orang mencibir Megengan dan Nyekar sebagai “kuno”, tetapi pada saat yang sama mereka merayakan budaya konsumtif dan hedonistik tanpa kritik.
Peradaban modern justru melahirkan:
Konsumerisme menjelang Ramadhan
Ramadhan sebagai festival belanja
Ibadah berubah menjadi konten media sosial
Maka problem kita bukan sekadar tradisi, tetapi krisis kesadaran ruhani.
Megengan seharusnya menjadi: Gerakan kolektif membersihkan hati sebelum membersihkan piring.
Nyekar seharusnya menjadi: Momentum mengingat kematian sebelum Ramadhan mengingatkan kita tentang akhir perjalanan.
5. Menuju Ramadhan dengan Jiwa yang Siap
Jika dimaknai dengan benar, Megengan dan Nyekar adalah:
Latihan sosial (hablum minannas)
Latihan spiritual (hablum minallah)
Latihan kesadaran akhirat
Ramadhan bukan tamu biasa. Ia adalah musim panen ruhani.
Orang yang masuk Ramadhan tanpa persiapan hati, seperti petani yang turun ke sawah tanpa mencangkul tanahnya terlebih dahulu.
Maka sebelum hilal Ramadhan terlihat di langit,
pastikan:
Hati telah memaafkan
Dosa telah ditaubati
Orang tua telah didoakan
Fakir miskin telah disentuh tangannya
Penutup: Tradisi sebagai Jalan, Bukan Tujuan
Megengan dan Nyekar bukanlah inti agama, tetapi bisa menjadi sarana menuju kedalaman agama.
Jika tradisi membawa kita pada:
Taubat
Dzikir
Doa
Sedekah
Kesadaran akan kematian
maka ia bernilai ibadah.
Namun jika ia menjauhkan kita dari tauhid dan kesederhanaan, maka ia harus diluruskan.
Semoga Ramadhan yang akan datang bukan hanya mengubah jadwal makan kita, tetapi mengubah arah hidup kita.
Karena sejatinya, yang kita sambut bukan hanya bulan Ramadhan, tetapi kesempatan terakhir sebelum kembali kepada Allah.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)